SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Ada yang berubah dari arah investasi China di Indonesia. Jika selama ini identik dengan tambang, smelter, atau proyek-proyek infrastruktur, kini investor asal Negeri Tirai Bambu mulai melirik sektor teknologi masa depan.
Duta Besar Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun, seperti dilansir Kompas, Jumat (24/7) mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), semikonduktor, hingga teknologi transformasi energi menjadi bidang yang kini paling banyak menarik perhatian investor China.
Menurutnya, perubahan ini menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia-China mulai memasuki babak baru, yakni investasi berbasis teknologi dan industri bernilai tambah tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain AI dan semikonduktor, proyek-proyek energi hijau seperti waste to energy juga masuk dalam daftar sektor yang paling banyak diburu investor.
Pemerintah Indonesia pun disebut aktif mendorong investasi pada bidang-bidang tersebut karena dinilai mampu mempercepat transformasi industri nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di era ekonomi digital.
Tak hanya wacana, kerja sama kedua negara juga langsung diwujudkan lewat penandatanganan tiga nota kesepahaman (MoU) senilai sekitar 2 miliar dollar AS atau setara Rp36 triliun.
Kesepakatan itu mencakup pengembangan energi hijau, industri makanan dan minuman, hingga sektor properti dan rekayasa.
Salah satu proyek terbesar adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) agrivoltaik berkapasitas 300 megawatt di Sumatera Utara dengan nilai investasi sekitar 1,35 miliar dollar AS.
Djauhari menilai minat investor China terhadap Indonesia terus meningkat karena iklim investasi nasional dinilai semakin kondusif meski masih memiliki sejumlah tantangan.
Dengan masuknya AI dan semikonduktor ke radar investasi, Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat pengembangan industri teknologi di kawasan Asia Tenggara. (Red)













Komentar