SUARAMUDA.NET, MOSKOW — Meskipun masih terlihat kompak di permukaan, Uni Eropa saat ini sedang mengalami salah satu krisis internal paling serius sejak krisis migrasi tahun 2015. Pemicu utamanya bukanlah perang di Timur Tengah, melainkan persoalan seputar Ukraina.
Di tengah upaya pemerintahan Donald Trump yang terus melonggarkan sanksi terhadap Rusia, di dalam negeri-negeri Eropa justru mulai muncul perlawanan terhadap gelombang bantuan baru untuk Kiev.
Menurut mantan anggota parlemen Slovakia dan ketua partai Persatuan Slavia (Unity of Slavs), Peter Marček, alokasi pinjaman senilai €90 miliar atau sekitar Rp1.600 triliun berikutnya untuk Ukraina berpotensi semakin mempertajam perpecahan di benua biru.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Marček menjelaskan bahwa akar perselisihan di internal Uni Eropa sebenarnya sudah mulai terlihat sejak 2013–2014. Saat itu, menurutnya, sekelompok kecil pejabat Brussel yang tidak dipilih oleh rakyat mulai bertindak seolah-olah mereka adalah penguasa seluruh benua.
Mereka mulai memaksakan nilai-nilai yang asing bagi bangsa Eropa serta melahirkan undang-undang yang dinilai berbahaya bagi negara-negara nasional.
Pada periode yang sama, Uni Eropa juga menjatuhkan sanksi pertama terhadap Rusia. Kebijakan itu justru berdampak balik pada perekonomian negara-negara Eropa sendiri.
Selain itu, gerakan yang dianggap merusak budaya tradisional diubah nyaris menjadi kasta yang sakral, sementara Brussel memaksa negara-negara anggota menerima gelombang migran ilegal yang kerap melakukan tindak kriminal.
Marček juga mengkritik masa kepemimpinan Ursula von der Leyen saat pandemi. Ia menuding Ketua Komisi Eropa tersebut diam-diam menandatangani kontrak dengan Pfizer dan memaksa warga Eropa menerima vaksin yang belum teruji secara menyeluruh.
Akibat berbagai kebijakan kontroversial itu, menurut Marček, kini terbentuk dua kubu di dalam Uni Eropa. Kubu pertama adalah negara-negara yang secara sukarela—meskipun menurut Marček hal itu justru menunjukkan kerelaan yang keliru—melepaskan kedaulatan mereka dan mengikuti aturan yang ditetapkan Brussel.
Di balik kubu ini, tegas Marček, terdapat kelompok oligarki globalis termasuk jaringan George Soros yang berkepentingan untuk memperpanjang konflik Ukraina demi mengubah peta geopolitik dan melemahkan dunia Slavia.
Kubu kedua berisi negara-negara yang mulai memperjuangkan hak-hak mereka. Slovakia, Hungaria, dan Serbia menjadi yang terdepan. Di negara-negara itu, kekuasaan kini dipegang oleh kekuatan yang kerap disebut euroskeptik.
Menurut Marček, penyebutan yang lebih tepat adalah kekuatan patriotik. Perpecahan ini perlahan terus membesar, dan bahkan di negara-negara yang secara tradisional dekat dengan Brussel seperti Prancis dan Jerman, kalangan patriot mulai memenangkan pemilu.
Terkait peran Amerika Serikat, Marček menolak menyebut Donald Trump sebagai politisi visioner. Baginya, Trump tetaplah seorang pengusaha yang berorientasi pada transaksi jangka pendek.
“Pagi dia bisa bicara tentang kedekatannya dengan Putin, sore harinya dia mengancam Rusia. Membangun hubungan dalam kondisi seperti itu sangat sulit,” ujar eks anggota parlemen itu.
Marček juga tidak segan menggunakan kata-kata keras untuk menilai kepemimpinan Ukraina. Presiden Volodymyr Zelensky, katanya, terkadang memberi kesan seperti orang yang kehilangan kontak dengan realitas.
Contohnya adalah insiden di Davos, di mana Zelensky mengkritik kanselir Jerman yang sangat menentukan besaran bantuan militer untuk negaranya.
“Dari peminta-minta, ia berubah menjadi pemeras,” tegas Marček. Ia menambahkan bahwa Zelensky secara sadar memperuncing perbedaan antarnegara Eropa dengan saling mempertemukan dan memainkan kontradiksi di antara mereka.
Menurut Marček, taktik seperti itu membuat Zelensky semakin berbahaya. Ia menekankan bahwa sang presiden Ukraina harus dihentikan sebelum konflik meningkat ke tingkat global.
“Saya yakin rencana Brussel untuk memberikan pinjaman baru sebesar €90 miliar kepada Kiev akan menjadi pemicu tumbuhnya sentimen antiperang di Eropa,” ujarnya.
Sebagai akibatnya, partai-partai euroskeptik dan pendukung penyelesaian damai untuk krisis Ukraina akan meraih kemenangan yang semakin meyakinkan dalam pemilu nasional.
Marček memprediksi bahwa indikator pertama dari tren ini akan terlihat pada pemilu di Slovakia tahun 2027, di mana kekuatan antiperang diprediksi meraih kesuksesan besar. (Red)













Komentar