‘Diem-diem’ 900 Buruh Pabrik Plastik Mau di PHK, Lagi-lagi Rakyat Jadi Korban

Foto: Kompas.com

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Dunia lagi ribut, pabrik ikut keder, dan yang pertama kena getahnya? Lagi-lagi buruh. Klise, tapi nyata.

Aliansi Buruh Jawa Tengah (ABJAT) kembali angkat suara soal ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) yang makin terasa seperti “tradisi tahunan” ketimbang kejadian darurat.

Di tengah konflik global yang entah kapan tamatnya, sekitar 900 buruh pabrik plastik kini berdiri di tepi jurang kehilangan pekerjaan.

Alasannya klasik: bahan baku seret, produksi macet, lalu muncullah mantra sakti bernama “efisiensi”. Dan seperti biasa, efisiensi jarang menyentuh kursi direksi—yang dipangkas justru tenaga kerja.

Koordinator lapangan ABJAT, Lukmanul Hakim, menegaskan bahwa isu PHK bukan cerita baru. Bahkan sejak May Day tahun lalu, bayang-bayang PHK sudah menghantui, terutama setelah gelombang pemutusan kerja di pabrik tekstil raksasa Sritex.

“Dari dulu sampai sekarang, ceritanya sama. Buruh terus disuruh sabar, tapi PHK terus jalan,” sindir Lukman di sela aksi Hari Buruh di Semarang, Jumat (1/5/2026).

Yang lebih menarik—atau justru ironis—ABJAT masih setia menunggu janji pemerintah. Salah satunya, komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk membentuk Satgas PHK.

Sebuah tim yang digadang-gadang bisa mendeteksi dan mencegah badai PHK sebelum benar-benar menghantam.

Masalahnya, hingga kini Satgas itu masih lebih sering terdengar sebagai wacana daripada kenyataan.

“Kalau Satgas PHK benar ada, harusnya bisa baca tanda-tanda dari awal. Jangan nunggu buruh di-PHK dulu baru sibuk,” lanjut Lukman, dengan nada yang lebih mirip kritik daripada harapan.

Di lapangan, situasinya sudah bergerak. Sejumlah perusahaan plastik mulai menerapkan sistem kerja bergilir—bahasa halus dari pengurangan jam kerja yang ujungnya tetap sama: penghasilan menipis, masa depan makin kabur.

Perusahaan seperti PT Innan dan PT Poliplas disebut sudah lebih dulu menjalankan strategi ini. Sementara itu, sekitar 600 pekerja di PT Palliser dan 300 pekerja di Innan ikut terseret arus efisiensi.

Industri plastik pun kini masuk daftar “zona merah”—rentan, rapuh, dan siap tumbang kapan saja jika kondisi tak membaik.

Di tengah semua ini, satu pertanyaan menggantung: Sampai kapan buruh harus jadi variabel paling fleksibel dalam setiap krisis?

Karena sejauh ini, setiap kali dunia goyah, yang pertama dikorbankan tetap sama—bukan sistemnya, bukan kebijakannya, tapi orang-orang yang tiap hari menggerakkan mesin. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like