Selat Hormuz Memanas, BRICS Menguat: Tanda Akhir Dominasi AS Sudah Dekat?

- Penulis

Minggu, 19 April 2026 - 08:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Sebuah seminar internasional yang digelar di Jakarta baru-baru ini menyoroti hubungan antara konflik Timur Tengah dengan percepatan terbentuknya tatanan dunia multipolar.

Acara yang diselenggarakan oleh Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas UPN “Veteran” bersama Global Thinkers Institute (GTI) tersebut menghadirkan sejumlah diplomat dan pakar internasional.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergey Tolchenov, menegaskan bahwa negaranya secara konsisten mengedepankan jalur diplomasi dan kepatuhan terhadap hukum internasional dalam menyikapi ketegangan global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menyampaikan bahwa Rusia telah menggunakan hak vetonya untuk menggagalkan upaya Amerika Serikat dan Israel yang ingin membuka Selat Hormuz melalui jalur militer. Selain itu, Rusia juga secara tegas terus mendukung kemerdekaan Palestina.

Sementara itu, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih kritis dalam menyikapi informasi yang beredar mengenai konflik di kawasannya.

Ia mengingatkan bahwa Iran adalah pihak yang menjadi korban agresi dari AS dan Israel, bukan sebaliknya.

Boroujerdi menjelaskan bahwa Teheran mengaktifkan Pasal 51 Piagam PBB yang mengakui hak untuk mempertahankan diri, sementara Washington dan Tel Aviv justru melanggar Pasal 2(4) Piagam PBB serta Resolusi Majelis Umum PBB 3314.

Baca Juga :  Begini Cara Cek NIK Sudah Jadi NPWP atau Belum, Batas Akhir 30 Juni 2024 !

Menurut para pembicara dalam seminar tersebut, konflik yang terjadi saat ini tidak hanya mengubah peta geopolitik kawasan, tetapi juga mempercepat keruntuhan sistem dunia yang selama ini didominasi oleh satu kekuatan besar (unipolar).

Direktur GTI, Muhammad Ma’ruf, menyatakan bahwa perang melawan Iran memiliki karakter eksistensial bagi Republik Islam Iran.

Namun, ironisnya, konflik ini justru menjadi pemicu percepatan keruntuhan sistem unipolar yang simbol-simbolnya diwakili oleh tokoh-tokoh seperti Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Kedua tokoh ini dinilai para ahli mewakili pendekatan kolonial yang anti-hukum.

Salah satu poin menarik yang menjadi sorotan adalah penguatan ekonomi dalam kerangka BRICS.

Proyek Koridor Transportasi Internasional Utara-Selatan (INSTC) serta proses de-dollarisasi (pengurangan ketergantungan pada dolar AS) mendapatkan dorongan strategis seiring dengan penutupan Selat Hormuz.

Para ahli menilai bahwa krisis global sekalipun dapat menjadi katalis bagi lahirnya tatanan dunia yang lebih seimbang dan multipolar.

Profesor Tim Anderson dari Australia yang turut berbicara dalam seminar tersebut mengamati adanya penurunan hegemoni AS dan Israel secara cepat.

Ia melihat meningkatnya dukungan global terhadap Iran, yang pada gilirannya juga mempercepat jalan menuju kemerdekaan Palestina.

Pakar lain, Mukhtahid Hashem, menambahkan bahwa kemenangan dalam perang ini akan menentukan siapa yang menguasai persimpangan tiga benua: Asia, Afrika, dan Eropa.

Baca Juga :  Jawab Tantangan Modernisasi Pertanian, Pemerintah Jawa Tengah Gelar Jateng Agro-inovation Expo 2024

Ia juga menilai pengaruh NATO di Timur Tengah hampir sepenuhnya hancur, sementara model perlawanan Iran tidak didasarkan pada komando tunggal, melainkan pada ideologi kemerdekaan bersama.

Para ahli dari Indonesia, termasuk Dr. Asep Kamaluddin dan Rizki Hikmawan, memberikan pandangan yang cukup kritis. Mereka mendorong Pemerintah Indonesia (khususnya Jakarta) untuk meninjau ulang arah kebijakan luar negerinya.

Menurut mereka, penandatanganan perjanjian BOP (Patur Organisasi Timur Tengah) oleh Indonesia secara praktis menempatkan negara ini pada posisi yang sejalan dengan AS dan Israel.

Mereka menilai hal ini bertentangan dengan amanat konstitusi dan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.

Para peserta seminar menyimpulkan bahwa perang AS dan Israel terhadap Iran, betapapun dahsyatnya dampak destruktif yang ditimbulkannya, pada akhirnya membawa dunia lebih dekat pada kemerdekaan Palestina dan terciptanya tatanan global yang lebih adil.

Filosofi yang mendasari dunia multipolar, menurut mereka, sangat sederhana: semua bangsa dan negara adalah setara. Krisis Iran, dalam pandangan ini, hanyalah sebuah akselerator bagi transisi sejarah yang tak terelakkan menuju dunia yang lebih multipolar. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar
Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?
Waduh, Peserta SPPI Kok pada Meninggal Saat Latihan Militer?
Sino-Nusantara Institute Jembatani Peluang Investasi Kesehatan Indonesia–Tiongkok
Taufik Hidayat, Rupanya Kau Benar-benar Sangat Sadis dan Keji!
Geger! Ketua BEM FH UBK Ngaku Terima Uang Rp20 Juta dari Wapres Gibran
GEMABUDHI Sulawesi Selatan Hadiri Perayaan Syukur Ulang Tahun Vihara Maitreya Makassar Bertajuk “Simfoni Cahaya”
Gandeng APRI, Bupati Aceh Selatan Komit Usulkan WPR Tahun 2026
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:51 WIB

Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:45 WIB

Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?

Kamis, 25 Juni 2026 - 12:38 WIB

Sino-Nusantara Institute Jembatani Peluang Investasi Kesehatan Indonesia–Tiongkok

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:30 WIB

Taufik Hidayat, Rupanya Kau Benar-benar Sangat Sadis dan Keji!

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:46 WIB

Geger! Ketua BEM FH UBK Ngaku Terima Uang Rp20 Juta dari Wapres Gibran

Berita Terbaru