BBM ASEAN Naik Imbas Peran Iran, RI Pilih “Rem” Konsumsi Lewat WFH?

- Penulis

Rabu, 8 April 2026 - 08:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi krisis energi. (Gambar: pngtree)

Ilustrasi krisis energi. (Gambar: pngtree)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Alarm krisis energi global mulai berbunyi keras! Ketegangan di Timur Tengah bikin Iran menutup akses vital distribusi minyak dunia di Selat Hormuz—jalur super sibuk yang jadi nadi energi global.

Efeknya langsung terasa. Negara-negara ASEAN nggak pakai lama buat “gaspol” naikkan harga BBM.

Singapura, Vietnam, Kamboja, sampai Filipina kompak menyesuaikan harga demi mengantisipasi guncangan pasokan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kamboja bahkan sudah lebih dulu tancap gas dengan kenaikan sekitar 10 persen, membuat harga BBM tembus USD1,05 per liter.

Baca Juga :  Media Sosial, Teman atau Musuh Bagi Mahasiswa?

Sementara Vietnam, Laos, dan Filipina—yang bergantung pada sektor industri—ikut terdorong naik di kisaran 6–8 persen.

Biang keroknya? Fluktuasi liar MOPS (Mean of Platts Singapore), patokan harga minyak olahan di Asia yang berbasis di Singapura. Begitu angka ini goyang, harga BBM di kawasan langsung ikut “ikut-ikutan naik”.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Hadiri Puncak Harlah Ke-102 NU di Istora Senayan, Tegaskan Peran Besar NU untuk Indonesia

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Alih-alih ikut menaikkan harga BBM, pemerintah memilih strategi berbeda: menekan konsumsi. Salah satunya lewat kebijakan Work From Home (WFH) bagi ASN.

Klaimnya cukup ambisius—WFH disebut bisa memangkas konsumsi BBM hingga 20 persen. Tapi, apakah benar seefektif itu? Sejauh ini, masih jadi bahan perdebatan panas.

Satu hal yang pasti: saat Selat Hormuz memanas, dompet masyarakat ikut terancam. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
Berita ini 11 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Kamis, 17 September 2026 - 08:45 WIB

DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB