SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Alarm krisis energi global mulai berbunyi keras! Ketegangan di Timur Tengah bikin Iran menutup akses vital distribusi minyak dunia di Selat Hormuz—jalur super sibuk yang jadi nadi energi global.
Efeknya langsung terasa. Negara-negara ASEAN nggak pakai lama buat “gaspol” naikkan harga BBM.
Singapura, Vietnam, Kamboja, sampai Filipina kompak menyesuaikan harga demi mengantisipasi guncangan pasokan.
Kamboja bahkan sudah lebih dulu tancap gas dengan kenaikan sekitar 10 persen, membuat harga BBM tembus USD1,05 per liter.
Sementara Vietnam, Laos, dan Filipina—yang bergantung pada sektor industri—ikut terdorong naik di kisaran 6–8 persen.
Biang keroknya? Fluktuasi liar MOPS (Mean of Platts Singapore), patokan harga minyak olahan di Asia yang berbasis di Singapura. Begitu angka ini goyang, harga BBM di kawasan langsung ikut “ikut-ikutan naik”.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Alih-alih ikut menaikkan harga BBM, pemerintah memilih strategi berbeda: menekan konsumsi. Salah satunya lewat kebijakan Work From Home (WFH) bagi ASN.
Klaimnya cukup ambisius—WFH disebut bisa memangkas konsumsi BBM hingga 20 persen. Tapi, apakah benar seefektif itu? Sejauh ini, masih jadi bahan perdebatan panas.
Satu hal yang pasti: saat Selat Hormuz memanas, dompet masyarakat ikut terancam. (Red)