SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Musisi asal Medan, Muhammad Rizki Nugroho yang dikenal dengan nama panggung NUH, kembali menghadirkan karya terbaru lewat single berjudul “Yank”.
Lagu ini menjadi langkah lanjutan perjalanan musik NUH yang sudah aktif berkarya sejak sekitar tahun 2013–2014. Bagi NUH, musik bukan sekadar hobi, tetapi juga cara untuk mengekspresikan apa yang ia rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak awal berkarier, NUH memang dikenal memiliki pendekatan musik yang jujur dan sederhana. Ia mengaku memilih genre pop karena terasa paling dekat dengan cara dirinya bercerita lewat lagu.
Dalam proses bermusik, NUH juga banyak terinspirasi oleh musisi legendaris Indonesia seperti Benyamin Sueb, Ismail Marzuki, dan Bing Slamet, yang menurutnya memiliki karakter kuat dalam menyampaikan cerita melalui musik.
Single “Yank” sendiri bukan sekadar lagu cinta biasa. Lagu ini terinspirasi dari kehidupan nyata NUH bersama istrinya, menggambarkan pasangan yang tetap saling menguatkan meski harus menjalani rutinitas kerja yang melelahkan setiap hari.
NUH menggambarkan bagaimana ia dan sang istri berangkat bekerja sejak pagi dan baru kembali ke rumah saat malam hari, dengan rasa lelah yang tetap diselimuti kehangatan kebersamaan.
“Lagu ini mewakili perasaan pasangan yang meski sudah capek luar biasa, mereka tetap menemukan alasan untuk pulang,” ungkap NUH tentang cerita di balik lagu tersebut.
Menariknya, dalam single ini NUH juga menggandeng rapper Basboi, yang juga berasal dari Medan. Kolaborasi ini terasa unik karena mempertemukan dua gaya musik yang berbeda.
Namun justru dari perbedaan itulah tercipta harmoni yang membuat lagu “Yank” terasa segar dan penuh karakter.
Basboi sendiri mengaku senang bisa terlibat dalam proyek ini. Menurutnya, kolaborasi dengan NUH terasa sangat natural karena masing-masing diberi ruang untuk mengekspresikan gaya bermusiknya sendiri.
“Kesannya seperti pulang ke rumah, disambut dan diterima seutuhnya. Nuh dan aku jelas beda banget, baik secara personality maupun musik. Tapi dia biarin aku jadi sebagaimananya aku di musiknya yang sebagaimana dia. Ternyata hasilnya kohesif,” ujar Basboi.
Proses kreatif lagu ini dilakukan secara jarak jauh antara Medan dan Jakarta. Meski begitu, NUH dan Basboi berhasil meramu lirik yang sederhana namun mudah dicerna.
Proses produksinya juga dibantu oleh Bio Satrio sebagai produser yang membantu membentuk warna musik “Yank” menjadi lebih kuat.
Sebelumnya, NUH sempat merilis single “Teruntuk Mia” pada Mei 2024. Lagu tersebut mendapat respons luar biasa hingga menembus lebih dari 56 juta pendengar.
Kesuksesan itu sempat membuat NUH berpikir untuk berhenti merilis karya dan fokus pada kehidupan pribadinya. Namun sambutan hangat dari para pendengar justru membuatnya kembali yakin untuk melanjutkan perjalanan musiknya.
Lewat “Yank”, NUH mencoba melepaskan beban ekspektasi dari kesuksesan sebelumnya. Ia mengaku tidak mengejar angka atau viralitas, melainkan hanya berharap lagunya bisa diterima dan disukai oleh para pendengar.
“Aku tidak berharap lagu ini mesti viral lagi. Harapanku hanya satu, orang suka. Ini adalah bentuk tanggung jawabku sebagai musisi kepada mereka yang telah memberikan apresiasi,” kata NUH.
Perilisan “Yank” juga menjadi pembuka menuju album penuh kedua NUH yang bertajuk “Sarapan di Minggu Pagi”. Album tersebut direncanakan rilis pada pertengahan Mei 2026 dan akan berisi total sembilan lagu yang merangkum perjalanan emosionalnya dalam bermusik.
Album ini nantinya akan memuat beberapa lagu yang sudah lebih dulu dirilis seperti “Teruntuk Mia”, “Simpan Dulu Rindu”, dan “Yank”, serta beberapa materi baru seperti “Cinta Tanpa Tapi” dan “Teringat”. Selain itu, akan ada juga intro berjudul “Niat Baik” yang menjadi pembuka cerita dalam album tersebut.
Ke depan, NUH berharap karya-karyanya bisa membawanya tampil di berbagai panggung di seluruh Indonesia. Ia juga ingin terus menjaga kejujuran dalam lirik-lirik lagunya, sesuatu yang selama ini menjadi ciri khas dari musik yang ia ciptakan. (Red)
















Komentar