Lebaran: Dari Rumah yang Tak “Sempurna”

- Penulis

Selasa, 24 Maret 2026 - 07:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

POV: suasana lebaran di rumah sederhana. (Pinterest)

POV: suasana lebaran di rumah sederhana. (Pinterest)

Oleh: Ali Achmadi, peminat masalah sosial, tinggal di Pati

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Pagi itu, matahari belum tinggi. Tapi panasnya sudah terasa—seperti omongan tetangga yang tidak pakai tedeng aling-aling.

Di sebuah kampung di ujung utara Jawa Tengah. Di rumah sederhana berdinding anyaman bambu, Bu Sarmi duduk di teras. Tangannya sibuk menata rengginang. Sederhana. Tidak pakai merek. Tidak pakai kemasan glossy. Tapi renyahnya bisa bikin lupa diri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Belum juga satu tampah penuh, suara datang dari arah depan. “Wah, Bu Sarmi ini memang niat sekali… dari sekarang sudah siap-siap jamuan. Semoga nanti banyak yang berkenan datang”. Suara itu milik Bu Subangun. Tetangga baru. Baru lima bulan. Tapi gaya bicaranya seperti sudah lima generasi tinggal di kampung itu.

Ia berdiri dengan baju yang terlalu rapi untuk ukuran kampung. Di sebelahnya, suaminya ikut mengangguk. Kacamata hitamnya tidak dilepas.
“Iya, Bu. Tamu sekarang kan pilih-pilih. Sekarang tamu biasanya lebih senang yang tempatnya rapi dan nyaman.” Sambung Pak Subangun.

Sementara di luar pagar, kampung itu tetap berjalan seperti biasa—tenang, bersahaja, dan tidak terlalu sibuk menjelaskan dirinya sendiri.

Bu Sarmi menoleh. Lalu tersenyum. Senyum yang tidak mahal. Tapi juga tidak bisa dibeli. “Inggih monggo Pak, Bu. Nanti dicoba rengginangnya. Siapa tahu cocok.” Tidak ada nada tersinggung. Tidak ada balasan pedas. Padahal bahan untuk marah itu lengkap.

Baca Juga :  Inovasi Wakaf Uang, Lembaga Wakaf Warrior Salurkan Gerobak Usaha untuk Pelaku UMKM

“Ah, nanti paling-paling juga dimakan sendiri, Bu,” sahut Bu Subangun, ringan. Lalu masuk ke rumahnya. Rumah besar berlantai marmer. Pagar tinggi. Seperti tidak ingin siapa pun masuk.

Bu Sarmi kembali ke rengginangnya. Hidup harus jalan terus. Tidak bisa berhenti hanya karena omongan orang yang baru kenal lima bulan tapi sudah merasa paling tahu standar kehidupan.

Lebaran datang. Takbir menggema. Dari mushola kecil sampai ke pengeras suara sound horeg yang kadang lebih keras dari iman yang mendengarnya. Orang-orang selesai salat Ied. Lalu mulai ritual yang sebenarnya: silaturahmi.

Di rumah Bu Subangun, semuanya sudah siap. Kue impor. Cokelat mahal. Minuman dingin. Semua tertata seperti etalase supermarket. Mereka duduk. Rapi. Menunggu. Menunggu tamu. Seperti menunggu hujan di musim kemarau.Dari jendela besar, mereka melihat ke seberang jalan.

Rumah Bu Sarmi. Yang katanya tidak layak didatangi. Yang katanya terlalu sederhana untuk ukuran Lebaran. Satu orang datang. Lalu dua. Lalu sepuluh. Lalu tidak terhitung.

Halaman kecil itu mendadak penuh. Orang-orang duduk lesehan. Tertawa. Ngobrol. Anak-anak lari-larian. Rengginang berpindah dari tangan ke tangan—lebih cepat daripada gosip pindah mulut ke mulut.

Hidup. Hangat. Riuh. Seperti Lebaran yang sebenarnya. Sementara itu, di rumah Bu Subangun, Sunyi. Sepi. Bahkan suara sendok jatuh pun bisa terdengar seperti dentuman rudal Iran menghujam jantung pertahanan Israil.

Baca Juga :  Buk, ibu ... Jangan Simpan Cokelat dalam Kulkas, Ini Penjelasannya!

Orang lewat? Ada. Mampir? Tidak. Mereka melihat. Tapi tidak berhenti. Mungkin takut menginjak marmer. Atau mungkin… takut tidak nyaman.

Sore itu, Bu Subangun mulai paham. Rumah besar ternyata bisa menjadi tembok. Pagar tinggi ternyata bisa menjadi jarak. Dan kue mahal… tidak otomatis mengundang orang datang.

Yang membuat orang datang itu sederhana: Pernahkah kita datang duluan saat orang lain butuh? Pernahkah kita duduk tanpa menghakimi? Pernahkah kita menahan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan?

Bu Sarmi tidak punya marmer. Tapi dia orang yang pertama mengetuk pintu ketika ada tetangganya yang sakit. Dia tidak punya sofa empuk. Tapi dia punya hati yang membuat orang betah duduk lama. Dia tidak punya kue impor.

Tapi dia punya kebiasaan hadir ketika tetangganya membutuhkan pertolongan. Di kampung itu, orang akhirnya mengerti: Yang ramai saat Lebaran bukan rumah yang paling mahal.

Tapi rumah yang paling banyak menyimpan kebaikan. Dan yang paling sepi—biasanya bukan karena tidak punya apa-apa. Tapi karena terlalu sibuk menunjukkan… bahwa dia punya segalanya. rumah yang penghuninya—diam-diam—merasa lebih dari yang lainnya. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa
Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar
Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif
Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?
GEMABUDHI Sulawesi Selatan Resmi Luncurkan “Bergema Temple Explorer”, Sembahyang Bersama di Cetiya Panca Dharma Selatan
Cerita di Balik ‘Too Late to Hold On’, Lagu yang Menandai Kebangkitan Lysa Belmar
Pacaran Remaja: Antara Ekspresi Kasih Sayang dan Jerat Pelanggaran
Lulus Kuliah Tapi Susah Dapat Kerja: Salah Gen Z atau Pasar Kerjanya?
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:14 WIB

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:51 WIB

Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar

Sabtu, 27 Juni 2026 - 09:35 WIB

Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:45 WIB

Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?

Minggu, 14 Juni 2026 - 08:36 WIB

GEMABUDHI Sulawesi Selatan Resmi Luncurkan “Bergema Temple Explorer”, Sembahyang Bersama di Cetiya Panca Dharma Selatan

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB