SUARAMUDA.NET, MOSKOW — Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan mengecam keras pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyed Ali Khamenei beserta keluarganya.
Dilansir dari life.ru (1/3/2026), Putin menyebut serangan itu sebagai kejahatan yang dilakukan dengan tingkat sinisme tinggi dan sebagai pelanggaran mencolok bukan hanya terhadap hukum internasional, tetapi juga terhadap nilai dasar moralitas manusia.
Menurut Putin, kondisi dan cara tewasnya pemimpin tertinggi Republik Islam Iran menunjukkan pengabaian total terhadap norma dan aturan internasional oleh para pelaku dan perencana serangan tersebut.
Ia menegaskan, tindakan ini merupakan tantangan terbuka terhadap tatanan hukum dunia.
Dalam pesannya, Putin mengatakan bahwa di Rusia, Ayatollah Khamenei akan selalu dikenang sebagai negarawan besar yang memberikan kontribusi pribadi yang sangat besar dalam pengembangan hubungan persahabatan Rusia–Iran dan mengangkatnya ke tingkat kemitraan strategis yang komprehensif.
Hubungan Rusia dan Iran selama ini dikenal dekat dan bersifat strategis, mencakup kerja sama di bidang ekonomi, energi, pertahanan, serta koordinasi di berbagai forum internasional.
Pada April 2025, kedua negara menandatangani perjanjian kemitraan strategis menyeluruh yang semakin memperkuat hubungan bilateral.
Putin telah beberapa kali bertemu langsung dengan Ayatollah Khamenei, antara lain pada November 2015 di Teheran, kemudian pada 2017–2018 di sela berbagai forum internasional, serta pada September 2024 dalam rangka penguatan lebih lanjut hubungan kedua negara.
Otoritas Iran sebelumnya telah resmi mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei. Ia dilaporkan tewas akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam kediamannya.
Militer disebut menunggu saat ketika Khamenei dan para penasihat utamanya berada di istana sebelum menjatuhkan sekitar 30 bom udara ke kompleks tersebut.
Sebagai respons nasional, Iran menetapkan masa berkabung selama 40 hari, sementara negara tetangga Irak mengumumkan tiga hari berkabung.
Peristiwa ini memicu demonstrasi dan aksi massa besar di berbagai kota Iran, sementara reaksi pemimpin dunia terhadap operasi militer Amerika Serikat dan Israel tersebut menjadi fokus sorotan media internasional. (Red)