Kris Antoni Toge Production Kembali Soroti Birokrasi: Dari Pajak “Memento” hingga Ancaman Pindah Negara

- Penulis

Jumat, 27 Februari 2026 - 04:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar: inilah.com

Gambar: inilah.com

SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Kris Antoni Hadiputra, CEO dan pendiri Toge Productions, kembali menjadi sorotan publik setelah serangkaian kritiknya terhadap birokrasi dan regulasi pemerintah yang dinilai konsisten dan tajam dalam membela kepentingan industri gim nasional.

Selama beberapa tahun terakhir, ia dikenal vokal menyoroti kebijakan yang dianggap menghambat pertumbuhan ekosistem kreatif digital di Indonesia.

Pajak “Memento” Coffee Talk yang Viral

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu peristiwa yang paling ramai diperbincangkan terjadi pada Januari 2020. Saat itu, Kris menerima paket berisi salinan fisik gim Coffee Talk dari mitra penerbit di Jepang.

Coffee Talk sendiri merupakan salah satu judul populer karya Toge Productions yang mendapat apresiasi global. Namun, paket tersebut dikenakan pajak sebesar Rp6.000.000 oleh pihak Bea Cukai.

Nilai barang dalam dokumen pengiriman tertulis 150.000, yang kemudian dipahami sebagai rupiah.

Kris menjelaskan bahwa terjadi kesalahpahaman karena angka tersebut merujuk pada 150.000 yen, bukan rupiah.

Menurut Kris, barang tersebut bukan untuk diperjualbelikan, melainkan sekadar kenang-kenangan (memento) atas karya studionya sendiri yang telah dirilis di pasar internasional.

Ia mengaku kecewa karena merasa diperlakukan tidak proporsional oleh sistem administrasi negara sendiri.

Kasus ini sempat viral di media sosial dan memicu diskusi luas mengenai mekanisme perpajakan barang kiriman serta transparansi penilaian bea masuk.

Penolakan Aturan Publisher Berbadan Hukum

Pada Januari 2024, Kris kembali bersuara keras menanggapi wacana kebijakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang mewajibkan seluruh publisher gim—termasuk perusahaan asing—untuk berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT) di Indonesia.

Baca Juga :  Aletra L8 EV: Mobil Listrik MPV Terluas dengan Fitur Canggih, Siap Bersaing di Indonesia

Ia menyebut kebijakan tersebut “tidak realistis, tidak scalable, dan rawan korupsi.”

Menurutnya, industri game bersifat global dan digital. Banyak pengembang lokal bergantung pada platform distribusi internasional seperti Steam dan Epic Games untuk menjangkau pasar.

Kris mengkhawatirkan jika kewajiban administratif ini diterapkan tanpa pertimbangan matang, maka publisher global enggan mengurus proses birokrasi tambahan.

Dampaknya, gim-gim karya pengembang Indonesia justru terhambat masuk ke pasar domestik maupun internasional.

Ia juga menilai kebijakan tersebut berpotensi menjadi alat gatekeeping yang mempersulit pengembang indie.

Dampak Pemblokiran Platform Digital

Kritik Kris sebelumnya juga mengemuka pada Juli 2022 saat Kominfo memblokir sejumlah platform digital karena belum terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE).

Beberapa platform yang terdampak antara lain Steam, Epic Games, dan PayPal.

Pemblokiran tersebut memicu kegelisahan di kalangan pelaku industri digital, termasuk pengembang gim.

Kris menilai langkah tersebut menciptakan ketidakpastian hukum dan mengancam stabilitas ekosistem yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Bagi banyak pengembang indie, platform digital bukan sekadar kanal distribusi, melainkan juga sumber pendapatan utama.

Gangguan akses dalam beberapa hari saja dapat berdampak signifikan terhadap pemasukan dan kepercayaan pasar.

Kritik Pajak Terbaru dan Ancaman Pindah Negara

Memasuki Februari 2026, Kris kembali mengungkapkan kekecewaannya melalui media sosial X.

Ia menyoroti aturan pajak yang menurutnya semakin memberatkan dan tidak konsisten. Dalam unggahannya, ia bahkan sempat menyatakan frustrasi hingga melontarkan ancaman untuk “pindah negara” demi kelangsungan bisnisnya.

Pernyataan tersebut memicu reaksi beragam. Sebagian warganet mendukung sikap kritisnya sebagai bentuk keberanian membela industri kreatif nasional. Namun, ada pula yang menilai ancaman tersebut terlalu emosional.

Baca Juga :  Uniknya Perayaan “Tahun Baru Lama” di Rusia

Kris menegaskan bahwa selama 17 tahun membangun Toge Productions dan memperjuangkan eksistensi gim lokal di pasar global, dukungan konkret dari negara masih minim.

Ia menilai kebijakan yang berubah-ubah justru membuat pelaku industri sulit melakukan perencanaan jangka panjang.

Sorotan pada Sinkronisasi Kebijakan
Secara umum, kritik Kris terhadap birokrasi Indonesia menyoroti tiga hal utama.

Pertama, fokus yang berlebihan pada formalitas administratif tanpa insentif nyata bagi pelaku industri, seperti tax holiday atau hibah riset dan pengembangan.

Kedua, kurangnya sinkronisasi antar kementerian—di satu sisi mendorong ekonomi kreatif, di sisi lain memberlakukan kebijakan yang dinilai kontraproduktif. Ketiga, potensi penyalahgunaan kewenangan dalam sistem perizinan yang dianggap rawan praktik koruptif.

Industri gim Indonesia sendiri tengah berkembang pesat, dengan semakin banyak studio lokal yang meraih pengakuan global. Namun, menurut Kris, pertumbuhan tersebut membutuhkan kepastian regulasi dan dukungan kebijakan yang adaptif terhadap karakter industri digital yang lintas batas.

Hingga kini, pemerintah belum memberikan tanggapan resmi terbaru atas kritik yang disampaikan Kris Antoni. Namun, diskursus yang muncul menunjukkan adanya kebutuhan dialog lebih intens antara regulator dan pelaku industri kreatif.

Di tengah transformasi ekonomi digital nasional, suara kritis seperti yang disampaikan Kris Antoni mencerminkan dinamika hubungan antara negara dan pelaku usaha.

Pertanyaannya kini, apakah regulasi akan menjadi jembatan pertumbuhan atau justru tembok penghalang bagi talenta kreatif dalam negeri? (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB