Pajak Naik, Rakyat Geram! Netizen Ancam Mogok Bayar, DPRD Jateng Turun Tangan

- Penulis

Sabtu, 14 Februari 2026 - 10:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Pinterest

Ilustrasi: Pinterest

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Kebijakan kenaikan pajak kendaraan bermotor di Jawa Tengah mendadak jadi “api” baru di media sosial. Timeline X, Instagram, sampai grup WhatsApp ramai oleh keluhan warga yang merasa kebijakan ini makin menekan kantong rakyat.

Yang bikin publik makin panas? Diskon justru diberikan kepada penunggak pajak lewat program pemutihan, sementara mereka yang selama ini tertib membayar merasa seperti “tidak dianggap”.

Sindiran pun berseliweran: “Yang taat nggak dapat apa-apa, yang nunggak malah dapat potongan.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak sedikit netizen yang melontarkan ancaman mogok pajak. Bukan cuma pajak kendaraan, tapi juga Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Rasa kecewa berubah jadi protes terbuka di ruang sosial media.

DPRD Jateng Turun Gunung

Merespons gelombang keluhan itu, DPRD Provinsi Jawa Tengah mulai bergerak. Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, mengakui pihaknya telah menerima banyak aspirasi dari masyarakat terkait beban pajak yang dirasa makin berat.

“Keluhan masyarakat sudah kami terima dan sudah kami komunikasikan. Ini menjadi perhatian DPRD dan akan dibahas di Komisi C bersama pemerintah,” tegas Sumanto.

Baca Juga :  Di Forum Internasional, Muhammadiyah Kenalkan Pendidikan Inklusi dan Harmoni di Brasil

Komisi C, yang membidangi keuangan dan pendapatan daerah, dijadwalkan memanggil perangkat daerah terkait untuk membedah persoalan ini secara menyeluruh.

Targetnya jelas, yakni mencari titik tengah antara kebutuhan anggaran daerah dan daya tahan ekonomi warga.

Uang Triliunan, Tapi Beban Terasa

Di sisi lain, data pemerintah provinsi menunjukkan bahwa pajak kendaraan adalah mesin utama pendapatan daerah. Hingga April 2025, realisasi pendapatan pajak daerah Jawa Tengah mencapai sekitar Rp3,77 triliun.

Dari jumlah itu, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) menyumbang sekitar Rp1,248 triliun—salah satu kontributor terbesar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Belum lagi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) yang ikut menopang kas daerah. Artinya, sektor ini memang jadi “urat nadi” pembiayaan pembangunan, layanan publik, hingga fasilitas umum.

Namun, angka triliunan rupiah itu punya sisi lain: beban fiskal yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Daya Beli Jadi Taruhan

DPRD mengingatkan, kenaikan pajak kendaraan bisa berdampak langsung pada daya beli, khususnya bagi pekerja dan pelaku UMKM yang sangat bergantung pada kendaraan pribadi untuk mencari nafkah.

Baca Juga :  PCNU Batang Gelar Darul Falah Syiar Ramadhan Bersama Ning Inayah Wahid

“Kami tidak hanya menghitung sisi penerimaan pajak, tetapi juga bagaimana kebijakan ini memengaruhi ekonomi rakyat. Dampak terhadap pengeluaran rumah tangga perlu dikaji serius,” kata Sumanto.

Pengamat ekonomi daerah juga memberi alarm: jika kenaikan pajak tak dibarengi pendekatan yang realistis terhadap kemampuan masyarakat, kepatuhan bisa menurun. Ujung-ujungnya, target PAD justru terancam meleset.

Cari Jalan Tengah

Kini publik menunggu langkah konkret. Apakah ada revisi kebijakan? Skema insentif yang lebih adil? Atau evaluasi tarif yang lebih proporsional?

DPRD menegaskan ingin mencari solusi yang adil: pembangunan tetap jalan, tapi rakyat tak merasa jadi “mesin setoran”.

“Kita harus temukan solusi yang adil, baik untuk masyarakat maupun keberlanjutan pembangunan daerah,” pungkas Sumanto.

Satu hal yang pasti: di era digital, suara rakyat tak lagi bisa dianggap angin lalu. Pajak boleh naik, tapi sensitivitas kebijakan juga harus ikut naik. Jika tidak, gelombang protes bisa berubah jadi badai. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Harmoni Dakwah dan Seni Inklusif: BAZNAS RI Bersama Yayasan Kiblat Abinaya Semai Harapan Baru bagi Disabilitas dan Kaum Marjinal Sukoharjo
Wujudkan Inklusi Sosial Tanpa Sekat, BAZNAS RI dan Yayasan Kiblat Abinaya Gagas Pembinaan Edutainment bagi Kaum Marjinal Sukoharjo
Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat
Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Soal Geothermal, Bupati Semarang Tegas: Lanjut atau Tidak, Kewenangan Pusat
Gaji PPPK Mau Diambil Alih Pemerintah Pusat? Jateng Bisa Punya Napas Baru Rp2 Triliun
Berita ini 30 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 09:45 WIB

Harmoni Dakwah dan Seni Inklusif: BAZNAS RI Bersama Yayasan Kiblat Abinaya Semai Harapan Baru bagi Disabilitas dan Kaum Marjinal Sukoharjo

Jumat, 25 September 2026 - 09:24 WIB

Wujudkan Inklusi Sosial Tanpa Sekat, BAZNAS RI dan Yayasan Kiblat Abinaya Gagas Pembinaan Edutainment bagi Kaum Marjinal Sukoharjo

Senin, 21 September 2026 - 21:18 WIB

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat

Minggu, 13 September 2026 - 15:36 WIB

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura

Selasa, 29 Sep 2026 - 10:03 WIB

Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim. (Gambar: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

KABAR NUSANTARA

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Minggu, 27 Sep 2026 - 11:44 WIB