SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Provinsi Jawa Tengah mengawali tahun 2026 dengan fenomena deflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 mengalami penurunan sebesar 0,35 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Angka ini berbanding terbalik dengan kondisi Desember 2025 lalu, di mana Jawa Tengah justru mencatat inflasi sebesar 0,50 persen.
Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Tengah, Wisnu Nurdiyanto, menjelaskan bahwa nilai deflasi Januari 2026 untuk indikator mtm dan year to date (ytd) tercatat sama.
“Untuk Januari ini, nilai mtm dan ytd sama karena sama-sama dibandingkan dengan bulan Desember 2025,” jelas Wisnu dalam konferensi pers, Senin (2/2/2026).
Makanan dan Minuman Jadi Penyumbang Terbesar
Menurut Wisnu, deflasi Jawa Tengah pada Januari 2026 terutama dipicu oleh penurunan harga pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, dengan kontribusi deflasi sebesar 0,35 persen.
Selain itu, deflasi juga dipengaruhi oleh kelompok transportasi sebesar 0,02 persen serta kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,02 persen.
“Penyumbang terbesar deflasi secara bulanan berasal dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, terutama akibat turunnya harga cabai merah,” ujar Wisnu.
Lima Komoditas Pemicu Deflasi
Secara lebih rinci, BPS mencatat ada lima komoditas utama yang memberikan andil besar terhadap deflasi Jawa Tengah pada Januari 2026, yaitu:
Turunnya harga komoditas pangan tersebut menjadi faktor dominan yang menekan laju harga di awal tahun.
Apa Itu Deflasi?
Sebagai informasi, deflasi merupakan kondisi penurunan harga barang dan jasa secara umum di suatu wilayah. Fenomena ini biasanya terjadi ketika daya beli masyarakat melemah atau jumlah uang yang beredar di masyarakat menurun.
Beberapa faktor yang dapat memicu deflasi antara lain:
Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas ekonomi melambat dan harga-harga terkoreksi ke bawah. (Red)