UIN SATU–Kampus Maranatha Bandung–UMKM MyAsta Masuk Lapas, WBP Perempuan Disiapkan Jadi Mandiri

SUARAMUDA.NET, TULUNGAGUNG — Di balik tembok tinggi Lapas Kelas IIB Tulungagung, harapan dan kreativitas terus menemukan jalannya. Pada 22 Desember 2025, Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) perempuan mengikuti program Pendampingan Kreativitas Teknik Sashiko Hijab dan Bros, sebuah ikhtiar nyata membangun kemandirian ekonomi melalui seni dan keterampilan.

Program ini digagas oleh dua dosen Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, yakni Ucik Ana Fardila (Komunikasi Penyiaran Islam) dan Dian Pratiwi Pribadi (Sosiologi Agama). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi lintas institusi bersama Universitas Kristen Maranatha Bandung dan UMKM MyAsta Craft Shop.

Tak hanya dosen, pelatihan ini juga melibatkan mahasiswi serta alumni UIN SATU Tulungagung. Dari pihak mitra, Dewi Isma Aryani, dosen Universitas Kristen Maranatha Bandung, memberikan pendampingan sulam teknik sashiko pada hijab. Sementara itu, pembuatan bros hijab handmade dipandu langsung oleh Nailul Muna, pemilik UMKM MyAsta Craft Shop.

Kegiatan diawali dengan sesi materi singkat, lalu dilanjutkan praktik langsung. Teknik sashiko—seni sulam tradisional asal Jepang—dipilih karena mudah dipelajari, menggunakan alat sederhana, dan fleksibel diaplikasikan pada berbagai motif hijab. Setelah proses sulam selesai, peserta diarahkan untuk membuat bros sebagai pelengkap produk.

Antusiasme WBP perempuan terlihat jelas. Mereka mengikuti setiap tahapan dengan fokus, aktif berdiskusi, dan saling bertukar ide terkait pengembangan produk kreatif. Dari proses ini, lahirlah hijab sulam sashiko dan bros hijab handmade yang tak hanya bernilai estetika, tetapi juga memiliki potensi ekonomi.

Usai pelatihan, para warga binaan menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat terus berlanjut. Mulai dari teknik sulam lainnya, menjahit pakaian, hingga keterampilan penataan rambut sebagai bekal kemandirian setelah bebas.

Program pendampingan ekonomi kreatif ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan yang sebelumnya telah dilaksanakan pada April lalu di lokasi yang sama. Tak berhenti di situ, selama kurang lebih dua tahun, tim juga telah melakukan asesmen psikologi dan pendampingan sosial di berbagai lembaga pemasyarakatan di Pulau Jawa.

Konsistensi ini menjadi bukti kuatnya komitmen membangun sinergi antara lembaga pemasyarakatan, perguruan tinggi, dan pelaku UMKM. Program ini juga merupakan bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, yang mengintegrasikan pengabdian masyarakat, penelitian, dan kerja sosial—khususnya dalam upaya pemberdayaan perempuan.

Ke depan, program serupa direncanakan akan digelar di Lapas Kelas IIA Kediri dan Lapas Perempuan Kelas IIA Malang, guna memperluas jangkauan manfaat bagi WBP perempuan.

Melalui pendampingan kreatif ini, satu pesan ditegaskan: perempuan warga binaan tetap berhak belajar, berkarya, dan bermimpi, meski berada di balik jeruji besi. Kreativitas bisa tumbuh di mana saja—dan kemandirian ekonomi bisa dimulai dari seutas benang dan satu tusukan harapan. (Red)

 

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like