Rusia Buru Bos Telegram!

FSB menuduh Telegram menjadi sarana perekrutan sabotase oleh intelijen Ukraina, sementara Moskow menerbitkan surat perintah penangkapan internasional terhadap Pavel Durov

- Penulis

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Logo Telegram. Gambar: Freepik

Logo Telegram. Gambar: Freepik

SUARAMUDA.NET, MOSKOW — Pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov, kembali jadi sorotan dunia. Kali ini bukan karena inovasi teknologinya, melainkan karena otoritas Rusia resmi menerbitkan surat perintah penangkapan internasional terhadap dirinya pada Rabu (29/7) waktu setempat.

Moskow menuduh Durov terlibat dalam aktivitas terorisme. Tuduhan itu muncul setelah FSB, badan keamanan Rusia, menilai Telegram digunakan sebagai media perekrutan oleh badan intelijen Ukraina untuk mengajak warga Rusia melakukan aksi sabotase.

Menurut FSB, Durov dianggap ikut memfasilitasi aktivitas tersebut karena tidak menghapus konten yang dikategorikan sebagai “informasi terlarang” di platform Telegram.

Durov sendiri merupakan pengusaha teknologi kelahiran Rusia yang telah lama menetap di luar negeri. Saat ini ia diketahui memegang kewarganegaraan Prancis dan Uni Emirat Arab (UEA).

Hubungan Durov dengan pemerintah Rusia memang sudah lama memanas. Selama bertahun-tahun, Moskow beberapa kali berupaya membatasi hingga memblokir Telegram karena perusahaan itu menolak menyerahkan data pengguna kepada pemerintah.

Baca Juga :  Rusia Bakal Kenalkan Kejuaraan Olah Raga Baru Level Internasional, Tanpa Diskriminasi dan Politik

Meski begitu, Telegram tetap menjadi salah satu aplikasi pesan paling populer di Rusia. Upaya pemerintah untuk menggeser pengguna ke layanan pesan lokal yang didukung negara pun belum membuahkan hasil signifikan.

Kasus ini kembali menyoroti ketegangan antara pemerintah Rusia dan platform digital global. Di sisi lain, Moskow juga kerap menuai kritik karena menggunakan tuduhan terorisme atau ekstremisme terhadap pihak-pihak yang dianggap berseberangan dengan pemerintah. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Prabowo di Rusia: Samudra Pasifik Penghubung, Indonesia Tegaskan Posisi Non-Blok
Berita ini 26 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Rabu, 9 September 2026 - 07:53 WIB

Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB