Ketika Iman Menemukan Jalan di Tengah Modernitas

- Penulis

Minggu, 12 Oktober 2025 - 10:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi iman (pinterest)

Ilustrasi iman (pinterest)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan penuh gemerlap teknologi, aku sering merenung: di manakah posisi iman di tengah segala kemajuan ini?

Dunia digital telah membuka pintu informasi tanpa batas, tetapi juga menghadirkan godaan dan distraksi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Di satu sisi, modernitas memberi kemudahan. Namun di sisi lain, ia juga kerap membuat manusia terjebak dalam kekosongan makna.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam perjalanan ini, aku belajar bahwa iman bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan di belakang, tetapi justru menjadi kompas yang menuntunku menavigasi arus deras zaman modern.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَـٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَـٰنًۭا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌۭ

(“Barang siapa berpaling dari peringatan Tuhan Yang Maha Pengasih, Kami adakan baginya setan yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”) — QS. Az-Zukhruf [43]: 36

Ayat ini mengingatkanku bahwa modernitas tanpa iman hanya akan menjadikan manusia terperangkap dalam kesenangan semu. Banyak orang berlomba-lomba mencari pengakuan di media sosial, membangun citra, dan mengejar popularitas.

Namun di balik semua itu, tak jarang hati mereka merasa kosong. Aku sendiri pernah merasakannya—saat sibuk mengikuti tren digital, aku sempat kehilangan arah dan lupa menyeimbangkan dunia maya dengan dunia nyata.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkanku bahwa kemajuan teknologi bukanlah musuh iman. Justru, yang menentukan nilai sebuah tindakan adalah niat di baliknya.

Aku bisa menggunakan media sosial untuk menebar kebaikan, belajar agama, atau berbagi inspirasi. Aku bisa memakai teknologi untuk memperdalam ilmu, bukan sekadar mencari sensasi. Dengan niat yang benar, modernitas bisa menjadi ladang pahala, bukan jebakan kesia-siaan.

Baca Juga :  Katadeash, Penulis Muda yang Karyanya Diterbitkan Penerbit Mayor di Usia 18 Tahun

Namun, perjalanan menjaga iman di tengah modernitas bukanlah hal mudah. Kadang aku merasa tertarik pada gaya hidup yang serba instan: ingin cepat sukses, cepat viral, cepat dikenal. Semua terasa begitu cepat, hingga aku lupa menikmati proses dan lupa bersyukur.

Modernitas mengajarkan efisiensi, tetapi iman mengajarkan kesabaran. Dua hal itu seringkali berbenturan di dalam diriku. Tapi justru di situlah aku belajar—bahwa menjadi modern bukan berarti kehilangan ruh spiritual.

Aku menyadari, imanlah yang membuatku tetap punya arah di tengah derasnya perubahan. Tanpa iman, manusia mudah tersesat di antara kemajuan. Seperti kapal tanpa kompas, kita bisa saja bergerak cepat, tetapi tak tahu ke mana tujuan akhirnya.

Di era modern ini, aku belajar menyeimbangkan antara “mengikuti zaman” dan “menjaga nilai.” Modernitas memang mendorongku untuk berpikir kritis, terbuka, dan kreatif, tapi iman mengajarkanku untuk tetap beretika, rendah hati, dan berpegang pada kebenaran.

Modernitas menghadirkan banyak hal yang tampak memukau: kecerdasan buatan, kehidupan digital, dan kemudahan akses informasi.

Tapi di balik semua itu, muncul tantangan baru bagi keimanan: ketergantungan pada teknologi, menurunnya interaksi sosial nyata, hingga kaburnya batas antara yang benar dan salah.

Aku menyadari, kecepatan teknologi sering kali membuat manusia kehilangan keheningan untuk merenung dan berdoa. Karena itu, aku mencoba meluangkan waktu setiap hari untuk menenangkan diri—membaca Al-Qur’an, shalat dengan khusyuk, atau sekadar berzikir di tengah hiruk pikuk digital.

Aku percaya, iman bukan penghalang kemajuan, melainkan penyaring yang menuntun kemajuan agar tetap bernilai. Iman bukan tembok yang membatasi, tetapi jembatan yang menghubungkan antara dunia dan akhirat.

Baca Juga :  Begini Peranan Warga Negara Demi Menyokong Keberlanjutan Bangsa

Ketika aku memahami hal itu, modernitas tak lagi terasa menakutkan. Aku tak harus menolak perubahan, tapi cukup menyeleksi mana yang membawa manfaat dan mana yang menjauhkan dari Allah.

Bagi generasiku, yang tumbuh di era digital, menjaga iman adalah tantangan besar sekaligus anugerah. Kami memiliki akses ilmu yang luas, bisa belajar agama dari mana saja, dan berinteraksi dengan orang baik di seluruh dunia.

Tapi kami juga mudah terjebak dalam kesibukan dunia maya yang menguras waktu dan perhatian. Karena itu, aku berusaha menjadikan teknologi sebagai sarana, bukan tujuan.

Media sosial bukan tempat untuk mencari pengakuan, tapi wadah untuk berbagi manfaat. Internet bukan ruang untuk melarikan diri, tapi jendela untuk memahami dunia dengan nilai Islam sebagai dasarnya.

Ketika iman menemukan jalannya di tengah modernitas, hidup terasa lebih seimbang. Aku belajar bahwa menjadi manusia modern bukan berarti meninggalkan Allah, melainkan menjadikan-Nya pusat dari segala aktivitasku.

Setiap klik, setiap unggahan, setiap interaksi—semua bisa bernilai ibadah jika diniatkan karena-Nya. Modernitas boleh membawa manusia ke masa depan, tetapi hanya iman yang bisa menuntun manusia menuju kebahagiaan hakiki.

Pada akhirnya, aku menyadari bahwa iman dan modernitas bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua jalan yang bisa berjalan berdampingan. Modernitas memberiku alat untuk bergerak maju, sedangkan iman memberiku arah agar tidak tersesat.

Di tengah dunia yang terus berubah, aku ingin tetap teguh berjalan—memegang erat tali iman, sambil melangkah mantap menapaki jalan modernitas yang penuh peluang.

Karena di sanalah aku menemukan makna hidup yang sejati: menjadi manusia beriman di zaman modern, tanpa kehilangan jati diri dan tujuan akhirku. (Red)

*) Nashrul Mu’minin, penulis, tinggal di Yogyakarta

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa
Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar
Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif
Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?
GEMABUDHI Sulawesi Selatan Resmi Luncurkan “Bergema Temple Explorer”, Sembahyang Bersama di Cetiya Panca Dharma Selatan
Cerita di Balik ‘Too Late to Hold On’, Lagu yang Menandai Kebangkitan Lysa Belmar
Pacaran Remaja: Antara Ekspresi Kasih Sayang dan Jerat Pelanggaran
Lulus Kuliah Tapi Susah Dapat Kerja: Salah Gen Z atau Pasar Kerjanya?
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:14 WIB

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:51 WIB

Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar

Sabtu, 27 Juni 2026 - 09:35 WIB

Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:45 WIB

Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?

Minggu, 14 Juni 2026 - 08:36 WIB

GEMABUDHI Sulawesi Selatan Resmi Luncurkan “Bergema Temple Explorer”, Sembahyang Bersama di Cetiya Panca Dharma Selatan

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB