Reformasi atau Deformasi? FISIP UIN Walisongo Kupas Tuntas Presidensialisme dan Politik Partai

- Penulis

Kamis, 2 Oktober 2025 - 09:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo menggelar Seminar Stadium General di Gedung Kyai Soleh Darat Lantai 4, Gedung Teatrikal, pada Selasa (30/9/2025).

Kegiatan ini mengangkat tema “Reformasi di Persimpangan: Presidensialisme, Check and Balances, Backsliding Demokrasi di Indonesia.”

Ketua Pelaksana, Nuqlir Bariklana, menjelaskan bahwa seminar ini merupakan rangkaian dari Hari Lahir (Harlah) FISIP ke-10.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menambahkan, penyelenggaraan seminar telah menjadi tradisi setelah penerimaan mahasiswa baru, sebagai upaya memperkaya wawasan mahasiswa tentang isu-isu politik.

Ia mengungkapkan pengambilan tema ini berdasarkan perkembangan isu-isu yang sedang hangat diperbincangkan.

“Tema ini kami ambil dari isu aktual yang sedang hangat dibicarakan, khususnya mengenai kondisi demokrasi Indonesia. Melalui forum ini, kami ingin membuka ruang diskusi antara mahasiswa dan para ahli untuk menilai sejauh mana perkembangan demokrasi kita,” jelasnya.

Menurutnya, kehadiran pemateri dari luar kampus juga menjadi nilai tambah tersendiri.
“Kami sengaja menghadirkan narasumber dari luar agar mahasiswa memperoleh perspektif baru, tidak hanya dari dosen internal kampus,” tambahnya.

Baca Juga :  Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental, Kuliah Alternatif Ke-9 Griya Peradaban

Salah satu pemateri, Kepala Departemen Politik dan Pemerintahan FISIP Universitas Diponegoro (UNDIP), Nur Hidayat Sardini, menyoroti praktik sistem presidensial di Indonesia.

Sosok yang populer dengan panggilan NHS itu menilai, sistem yang berjalan saat ini berbeda dengan presidensialisme murni karena dipengaruhi oleh sistem multipartai.

“Sistem presidensialisme di Indonesia merupakan bentuk kombinasi yang dipengaruhi oleh multipartai. Kelemahannya terletak pada ketergantungan politik terhadap partai dan kebutuhan koalisi besar, sehingga pemisahan kekuasaan tidak seketat presidensialisme murni,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya prinsip checks and balances untuk menjaga demokrasi tetap sehat.

“Mekanisme checks and balances penting untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan, menjaga keseimbangan antar lembaga negara, serta melindungi hak-hak warga negara,” tutur pakar politik elektoral itu.

Lebih lanjut, NHS berpesan agar masyarakat bersikap kritis dan bijak dalam memilih pemimpin.

“Di pemilu mendatang, kita harus lebih selektif, jangan mudah tergoda praktik money politics. Pemerintahan yang lebih baik hanya bisa lahir jika masyarakat kritis terhadap calon pemimpinnya,” pesannya.

Sementara itu, Dosen Ilmu Politik FISIP UIN Walisongo, Rofiq, menilai kerusakan sistem presidensial di Indonesia berakar pada lemahnya partai politik. Menurutnya, partai politik justru mendominasi sehingga menggeser esensi demokrasi.

Baca Juga :  Dekan FISIP UIN Walisongo Dorong Kampus Zero Kekerasan Seksual

“Buruknya sistem partai politik membuat pemerintahan tidak berjalan sesuai tujuan awalnya. Demokrasi gagal karena kekuasaan tertinggi tidak berada di tangan rakyat, melainkan di tangan elit partai,” ungkapnya.

Rofiq menegaskan perlunya reformasi mendasar terhadap sistem kepartaian. “Untuk memperbaiki sistem pemerintahan, kita harus mulai dari reformasi partai politik terlebih dahulu,” tegasnya.

Di sisi lain, mahasiswa Ilmu Politik angkatan 2025, Miftaqul Rizqa Aulia, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari seminar ini.

“Sebagai mahasiswa baru, seminar ini sangat bermanfaat untuk memahami dan mengkritisi sistem pemerintahan yang sedang berlangsung,” ujarnya.

Rizqa berharap diskusi politik tidak berhenti hanya pada forum seminar, tetapi bisa menjadi kebiasaan intelektual sehari-hari.

“Harapannya, setelah seminar ini, teman-teman semakin tertarik membahas politik dari berbagai perspektif, sehingga diskusi politik bisa berkembang menjadi budaya akademik di kampus,” pungkasnya. (Red)

Penulis : Meyra Karunia Putri

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HIMPASS PAI UIN Sunan Kalijaga Kenalkan Pengurus Baru, Bawa Semangat Satu Ukhuwah!
Rifan Jerawut dan Natriyana Nde’e Terpilih Pimpin IMKKAR Raya Periode 2026/2027
Kuliah Terbuka Aqobah Kupas Isu LGBT dari Perspektif Fikih dan Hukum Negara
Riset Kampus Tak Boleh Cuma Berakhir di Jurnal, Kini Harus Pecahkan Masalah Nyata!
Bukan Makrab Biasa! Hellcom KPI Ajak Mahasiswa Jago Bicara dan Bikin Audiens Bergerak
Gawat! Mendikti Bilang: Kampus Jangan Hobi Buka Prodi Baru, Mending Dimerger!
Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)
Bukan Sekadar Datang! Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Siap “Berburu” Inspirasi di EXTRANAS 2026
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 07:23 WIB

HIMPASS PAI UIN Sunan Kalijaga Kenalkan Pengurus Baru, Bawa Semangat Satu Ukhuwah!

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 19:35 WIB

Rifan Jerawut dan Natriyana Nde’e Terpilih Pimpin IMKKAR Raya Periode 2026/2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 09:28 WIB

Kuliah Terbuka Aqobah Kupas Isu LGBT dari Perspektif Fikih dan Hukum Negara

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:48 WIB

Riset Kampus Tak Boleh Cuma Berakhir di Jurnal, Kini Harus Pecahkan Masalah Nyata!

Jumat, 9 Oktober 2026 - 10:12 WIB

Bukan Makrab Biasa! Hellcom KPI Ajak Mahasiswa Jago Bicara dan Bikin Audiens Bergerak

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (The Nation)

KILAS GLOBAL

Gokil! Trump Mau Ganti Nama Samudra Atlantik Jadi Samudra Trump

Senin, 12 Okt 2026 - 15:28 WIB

Salah satu destinasi wisata di Pulau Bali. (Gambar: pinterest)

KABAR NUSANTARA

Bali Jadi Tuan Rumah New Asia Forum, Indonesia Bidik Investor Kelas Kakap

Minggu, 11 Okt 2026 - 08:02 WIB