Oleh: Nuzhatul Zakauha Alya*)
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Perkembangan media digital yang begitu cepat menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat. Informasi kini beredar dengan sangat deras, sering tanpa verifikasi, sehingga memicu lahirnya hoaks, ujaran kebencian, hingga provokasi isu SARA dan politik.
Kebiasaan sebagian masyarakat yang spontan bereaksi tanpa mengecek kebenaran berita semakin memperparah kondisi ini. Akibatnya, ujaran kebencian merebak dan perpecahan sosial sulit dihindari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Survei Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (2024) menunjukkan tingkat literasi hoaks masyarakat Indonesia masih berada di level sedang, yakni 68 persen.
Artinya, kesadaran untuk membedakan fakta dan informasi palsu belum optimal. Padahal, hoaks sering dikemas dengan narasi berlebihan yang membuat emosi publik mudah tersulut.
Di titik inilah Pancasila berperan penting. Nilai persatuan dan gotong royong yang terkandung di dalamnya dapat menjadi benteng agar masyarakat tidak gampang terprovokasi.
Namun, nilai-nilai itu tidak cukup hanya dihafal. Generasi muda perlu menginternalisasikannya dalam praktik literasi digital dan etika bermedia.
Seperti disampaikan Anggara (2025) dalam Jurnal Pendidikan Tambusai, pendidikan Pancasila harus terus ditanamkan agar generasi muda mampu beradaptasi dengan era digital sekaligus menjaga kerukunan.
Dengan begitu, Pancasila tidak hanya menjadi simbol, melainkan pedoman hidup yang relevan di tengah derasnya arus informasi.
Hal ini karena pendidikan dan pemahaman yang mendalam tentang Pancasila menjadi sangat penting agar generasi muda dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan digital.
Dengan berkembangnya media sosial, platform daring, dan teknologi komunikasi, Pancasila harus diinternalisasikan untuk menjaga kerukunan dan solidaritas di masyarakat.
Dari pernyataan tersebut, Pancasila bukan hanya sekedar hafalan tetapi nilai-nilai yang terkandung harus diimplementasikan dalam keterampilan literasi digital dan etika bermedia agar tidak mudah terprovokasi.
Pada akhirnya, literasi digital yang dipadukan dengan pendidikan Pancasila akan melahirkan generasi yang bijak bermedia sekaligus berkarakter kebangsaan. (Red)
*) Nuzhatul Zakauha Alya, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta













Komentar