Muhammadiyah Luncurkan Kalender Hijriyah Global, Apa Maksudnya?

- Penulis

Jumat, 27 Juni 2025 - 00:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kalender Hijriyah Global Tunggal. (Sumber ilustrasi: Lensamu)

Kalender Hijriyah Global Tunggal. (Sumber ilustrasi: Lensamu)

SUARAMUDA, SEMARANG — Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi meluncurkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) sebagai bagian dari upaya modernisasi penanggalan Islam.

Kalender ini diumumkan dalam acara resmi di Yogyakarta pada Juni 2025, dan menjadi tonggak penting dalam gerakan Muhammadiyah untuk mewujudkan sistem kalender Islam internasional yang seragam dan ilmiah.

Apa itu Kalender Hijriyah Global?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kalender Hijriyah Global adalah sistem penanggalan Islam berbasis hisab (perhitungan astronomis) yang dirancang untuk digunakan secara universal oleh umat Islam di seluruh dunia.

Kalender ini menggunakan kriteria visibilitas hilal (bulan sabit) yang telah distandardisasi dan dihitung secara global, bukan berdasarkan pengamatan lokal seperti yang umum dilakukan saat ini.

Baca Juga :  Jadwal Lengkap Tahapan Penerimaan Siswa 2024 (TK, SD dan SMP Negeri) di Kota Semarang, Jangan Lupa Daftar !

Menurut Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, kalender ini bertujuan mengakhiri perbedaan penetapan awal bulan Hijriyah yang kerap terjadi, terutama saat Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha.

Selama ini, perbedaan metode rukyat dan hisab menyebabkan umat Islam di berbagai negara —bahkan di dalam satu negara — merayakan hari besar Islam di tanggal yang berbeda.

Mengapa Ini Penting?

Dengan kalender global, Muhammadiyah berharap umat Islam memiliki satu acuan waktu yang pasti dan seragam.

Ini akan mempermudah penjadwalan ibadah, kegiatan keagamaan, bahkan urusan sosial-ekonomi seperti libur nasional dan penyusunan agenda internasional berbasis kalender Islam.

Baca Juga :  Aset Muhammadiyah Capai Ratusan Triliun, Benarkah?

KHGT juga mendapat perhatian internasional. Muhammadiyah telah berdialog dengan ormas-ormas Islam luar negeri dan lembaga astronomi dunia agar kalender ini diakui secara luas.

Harapannya, KHGT bisa menjadi rujukan kalender resmi umat Islam, sebagaimana kalender Gregorian berlaku global untuk penanggalan Masehi.

Meskipun belum semua pihak sepakat, peluncuran KHGT ini menunjukkan langkah progresif Muhammadiyah dalam menjawab tantangan zaman dengan pendekatan ilmiah dan keumatan.

Kalender ini tidak hanya simbol modernitas Islam, tetapi juga upaya menyatukan umat melalui sains dan kejelasan waktu. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Panjat Tebing Indonesia Naik Kelas! Putra Tri Ramadani Raih Emas Dunia Pertama
Kala MBG Digoyang Demo, Kantor BGN Disegel: yang Kenyang Anak atau Masalahnya?
Prabowo Bilang RI Salah Arah Sejak 1990-an, Masak sih? Netizen Langsung Cek Google Maps Nasional!
Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Suap Bea Cukai, Gara-Gara iPhone 17 yang Tak Jadi ‘Pulang Kampung’
Kampung Wisata Jangan Jadi Proyek Pariwisata Elitis, Warga Jogja Harus Menjadi Pemilik Utama
Sangat Prihatin! 39 Daerah Tak Mampu Gaji PPPK
Korupsi MBG, Apakah Dadan Benar-benar Ditahan?
Kasus Ledakan Bom di Biak: Warisan Berbahaya Perang Dunia II dan Dampaknya terhadap Lingkungan Hidup
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:09 WIB

Panjat Tebing Indonesia Naik Kelas! Putra Tri Ramadani Raih Emas Dunia Pertama

Rabu, 10 Juni 2026 - 21:57 WIB

Kala MBG Digoyang Demo, Kantor BGN Disegel: yang Kenyang Anak atau Masalahnya?

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:06 WIB

Prabowo Bilang RI Salah Arah Sejak 1990-an, Masak sih? Netizen Langsung Cek Google Maps Nasional!

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:46 WIB

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Suap Bea Cukai, Gara-Gara iPhone 17 yang Tak Jadi ‘Pulang Kampung’

Selasa, 9 Juni 2026 - 10:07 WIB

Kampung Wisata Jangan Jadi Proyek Pariwisata Elitis, Warga Jogja Harus Menjadi Pemilik Utama

Berita Terbaru