Program MBKM Bina Desa: Ubah Limbah Organik Jadi Cairan Serba Guna Ecoenzym di Desa Segorotambak

- Penulis

Kamis, 29 Mei 2025 - 20:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, SIDOARJO – Dalam upaya mendukung pembangunan berkelanjutan dan pengelolaan sampah terpadu di wilayah perdesaan, sekelompok mahasiswa melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) menjalankan inisiatif Bina Desa.

Kegiatan bertajuk “Pemanfaatan Limbah Organik Menjadi Cairan Serba Guna Ecoenzym” ini berlangsung mulai dari 28 April hingga 28 Mei 2025 dan dipusatkan di Desa Segorotambak, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo.

Program ini lahir dari keprihatinan terhadap belum optimalnya pengelolaan sampah di Desa Segorotambak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sampah organik seperti kulit buah dan sisa sayuran, yang kerap dibuang begitu saja, kini diberdayakan menjadi ecoenzym—cairan multifungsi hasil fermentasi limbah organik yang ramah lingkungan.

Melalui metode fermentasi sederhana selama tiga bulan, bahan-bahan seperti gula aren, air, dan limbah organik diproses dengan perbandingan 1:3:10.

Hasilnya adalah cairan ecoenzym yang memiliki manfaat luas, mulai dari pengganti pembersih kimia, penghilang bau, hingga pestisida alami.

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara mahasiswa, dosen pembimbing lapangan Maudy Pratiwi Novia Matovanni, ST, MT, serta perangkat desa setempat yang dikomandoi oleh Kepala Desa Hj. Anik Mahmudah.

Sosialisasi dan pelatihan pembuatan ecoenzym diberikan langsung kepada masyarakat, agar mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga aktor utama dalam proses pengelolaan limbah organik.

Baca Juga :  Raisa Hanun Rahmani Wakili Surabaya di Ajang FLS3N 2025 Tingkat Provinsi

Warga menunjukkan respon positif, salah satunya Bu Aisyah, pelaku UMKM olahan bandeng, yang sangat antusias mengikuti setiap sesi.

“Saya senang sekali bisa belajar buat ecoenzym. Ternyata bisa dipakai buat bersihin dapur, hilangin bau, bahkan bagus juga buat tanaman di rumah,” ujarnya.

Ecoenzym yang dihasilkan membawa manfaat jangka pendek dan panjang. Di rumah tangga, ia berfungsi sebagai pembersih alami, penghilang bau, dan pengusir hama, sehingga dapat menggantikan produk kimia berbahaya.

Di sektor pertanian, ecoenzym mampu meningkatkan kesuburan tanah, mempercepat pertumbuhan tanaman, dan mengendalikan hama ringan.

Dalam jangka panjang, penggunaan ecoenzym membantu mengurangi volume sampah organik, menekan biaya rumah tangga, memperbaiki struktur tanah secara berkelanjutan, serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis.

Inilah bentuk nyata kontribusi terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama pada poin produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab dan aksi terhadap perubahan iklim.

Kepala Desa Segorotambak, Hj. Anik Mahmudah, mengapresiasi kegiatan mahasiswa MBKM ini sebagai wujud nyata kepedulian generasi muda terhadap lingkungan.

Baca Juga :  Dua Profesor UIN Jakarta Masuk Top 2% Ilmuwan Dunia, Lagi!

“Kami sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini. Warga jadi lebih sadar pentingnya mengelola sampah, dan ecoenzym ini bisa jadi solusi yang ramah lingkungan dan ekonomis,” ujarnya.

Sementara itu, Maudy Pratiwi Novia Matovanni, ST, MT, selaku dosen pembimbing lapangan, menekankan pentingnya kesinambungan kegiatan.

“Inisiatif mahasiswa ini menjadi contoh konkret bagaimana ilmu di kampus bisa diterapkan langsung ke masyarakat. Ini juga sekaligus bentuk nyata dari MBKM yang transformatif,” katanya.

Keberhasilan program ini menjadi titik awal untuk membentuk desa yang lebih bersih, produktif, dan berdaya lingkungan.

Rencana ke depan, ecoenzym akan diintegrasikan sebagai produk unggulan desa sekaligus komoditas edukatif yang bisa mendorong pemberdayaan ekonomi lokal.

Dengan dukungan masyarakat, perangkat desa, dan dunia akademik, Desa Segorotambak kini tengah bertransformasi menjadi desa mandiri yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga berorientasi pada inovasi lokal dan ekonomi sirkular. (Red)

Artikel ini ditulis oleh: Muhammad Zainul Fata dan Maudy Pratiwi Novia Matovanni, S.T.,M.T., mahasiswa dan dosen Teknik kimia UPN “Veteran” Jawa Timur

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bukan Sekadar Datang! Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Siap “Berburu” Inspirasi di EXTRANAS 2026
Honor Guru Madrasah Swasta Cuma Rp50 Ribu, Menag Akui Realita Pahit
Zuhri: Diplomasi Bukan Cuma Urusan Negara, Warga Bisa Jadi Jembatan Indonesia–Tiongkok
Dari Usus Ayam Jadi Cuan: UPN Veteran Jatim Dorong Siswa SMK Nazhatut Thullab Jadi Wirausaha
Dorong Produksi Lebih Efisien dan Bermutu, Tim Pengabdian Terapkan Mesin Chopper Kedelai Termodifikasi di UMKM Tahu Tulungagung
Tingkatkan Mutu Produk Olahan, Tim Pengabdian UPN Veteran Jatim Dampingi UMKM Sambal Pecel “Lestari” Blitar
Modernisasi Produksi Telur Asin di Tulungagung, Alat Pencuci Berbasis Riset Bikin UMKM Makin Efisien
Dorong UMKM Naik Kelas, Akademisi UPN Veteran Jawa Timur Kenalkan Oven Multitray dan Kemasan Baru di Bolu “Bu Pur”
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 05:53 WIB

Bukan Sekadar Datang! Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Siap “Berburu” Inspirasi di EXTRANAS 2026

Sabtu, 12 September 2026 - 11:41 WIB

Honor Guru Madrasah Swasta Cuma Rp50 Ribu, Menag Akui Realita Pahit

Rabu, 9 September 2026 - 17:39 WIB

Zuhri: Diplomasi Bukan Cuma Urusan Negara, Warga Bisa Jadi Jembatan Indonesia–Tiongkok

Selasa, 8 September 2026 - 18:53 WIB

Dari Usus Ayam Jadi Cuan: UPN Veteran Jatim Dorong Siswa SMK Nazhatut Thullab Jadi Wirausaha

Senin, 7 September 2026 - 22:34 WIB

Dorong Produksi Lebih Efisien dan Bermutu, Tim Pengabdian Terapkan Mesin Chopper Kedelai Termodifikasi di UMKM Tahu Tulungagung

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB