Mengulik Pelajaran di Balik Riuhnya Mudik Lebaran

- Penulis

Minggu, 30 Maret 2025 - 08:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Situasi kegiatan mudik di terminal bus/ gambar: dok istimewa

Situasi kegiatan mudik di terminal bus/ gambar: dok istimewa

Oleh: Rifki Mustofa *) 

SUARAMUDA, SEMARANG — Momentum lebaran sudah tentu menjadi saat yang paling dinanti. Tidak hanya tentang hidangan khas yang menggugah selera, pakaian bagus di kala hari raya maupun pertemuan hangat bersama sanak saudara juga keluarga, tetapi di balik itu semua terdapat nilai kehidupan tentang perjalanan pulang yang menyimpan banyak kisah.

Salah satu tradisi yang melekat di Indonesia adalah mudik, sebuah perjalanan yang sarat makna, di mana para perantau berbondong-bondong kembali ke kampung halaman mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Beragam cara dan jalan ditempuh, mulai dari menggunakan kendaraan pribadi hingga berdesakan di kendaraan umum. Di balik keramaian dan hiruk-pikuk perjalanan, sebenarnya ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik.

Saat berada dalam kendaraan atau angkutan umum, tanpa kita sadari, kita diajak melihat lebih dekat wajah-wajah masyarakat. Ada yang duduk termenung memikirkan keluarga, ada yang sibuk mengobrol untuk melepas penat, dan ada pula yang saling bertanya tentang tujuan perjalanan.

Rifki Mustofa, mahasiswa Jurusan Bahasa & Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim; Pengamat Sosial & Budaya

Terkadang juga muncul secuil pertanyaan sederhana , “Mau turun di mana, Pak?” atau “Tujuannya ke mana, Bu?” diiringi senyuman dan ucapan doa, “Semoga selamat sampai tujuan”.

Dari ini saja sudah timbul cerminan tentang arti kepedulian dan kehangatan yang masih hidup di tengah perjalanan yang melelahkan.

Baca Juga :  Menyibak Tabir Hubungan Industrial: Kisah Mahasiswa PKL Selama Tiga Bulan di Disnakertrans

Selain itu, ada juga hal menarik yang hampir selalu kita jumpai di kala melakukan aktivitas mudik. Seperti alunan petikan gitar dari para pengamen jalanan yang mengisi perjalanan dengan lantunan lagu-lagu lawas penuh makna.

Suara jreng-jreng gitar yang sederhana, namun terasa begitu dalam, apalagi saat didengar di tengah perjalanan panjang yang melelahkan. Setiap bait lagunya seakan menjadi teman, menenangkan lelah yang tak bisa dihindari.

Terkadang di sela-sela perjalanan, sering terdengar pula suara lantang yang sudah tak asing di telinga para pemudik “Air Aqua, mainan anak, makanan atau minuman, dan lain lain”.

Seru, seorang bapak atau ibu penjual yang mondar-mandir menyusuri lorong kendaraan. Mereka menawarkan dagangannya dengan penuh harapan.

Tak jarang senyum lelah mereka tetap merekah, meski langkah kaki terasa berat. Setiap langkahnya adalah perjuangan, dan setiap suaranya adalah doa yang tersembunyi, memohon agar rezeki hari itu cukup untuk dibawa pulang, apalagi menjelang hari raya.

Dari ini setidaknya ada nilai yang diajarkan pada kita bahwa perjalanan mudik, sejatinya bukan hanya soal jarak atau perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Tanpa kita sadari, di balik itu semua tersimpan pelajaran berharga.

Baca Juga :  Derita Guru Honorer Menjelang Hari Raya

Mungkin, doa musafir yang kita panjatkan, sedekah recehan yang kita berikan di tengah perjalanan, atau sekedar senyum dan ucapan ramah pada sesama penumpang, bisa menjadi sebab keselamatan kita sampai tujuan.

Sebagaimana sabda Nabi dalam potongan haditsnya

الصدقة تدفع البلاء

Artinya; Sedekah dapat menolak bala’ (musibah)

Sedekah bukan hanya tentang besarnya angka, tetapi tentang keikhlasan, senyuman, dan kepedulian yang mengalir bersamanya.

Siapa sangka dan kita tidak akan pernah tau juga, receh yang kita sisihkan bisa saja menjadi nafkah yang menghidupi satu keluarga mereka, atau menjadi sebab hadirnya kebahagiaan di meja makan mereka di saat hari lebaran tiba.

Mudik mengajarkan kita bahwa hidup sejatinya adalah perjalanan panjang yang akan terasa lebih indah bila dilalui dengan kepedulian dan doa-doa kebaikan.

Dalam sebuah perjalanan juga bukan hanya sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan juga tentang memahami arti kehidupan, berbagi makna, dan memetik pelajaran di setiap langkah perjalanan.

Teruntuk teman teman yang mudik, hati hati di jalan, selamat sampai tujuan dan bersuka ria bersama sanak keluarga serta saudara. (Red)

*) Rifki Mustofa, mahasiswa Jurusan Bahasa & Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim; Pengamat Sosial & Budaya

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa
Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar
Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif
Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?
GEMABUDHI Sulawesi Selatan Resmi Luncurkan “Bergema Temple Explorer”, Sembahyang Bersama di Cetiya Panca Dharma Selatan
Cerita di Balik ‘Too Late to Hold On’, Lagu yang Menandai Kebangkitan Lysa Belmar
Pacaran Remaja: Antara Ekspresi Kasih Sayang dan Jerat Pelanggaran
Lulus Kuliah Tapi Susah Dapat Kerja: Salah Gen Z atau Pasar Kerjanya?
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:14 WIB

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:51 WIB

Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar

Sabtu, 27 Juni 2026 - 09:35 WIB

Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif

Minggu, 14 Juni 2026 - 08:36 WIB

GEMABUDHI Sulawesi Selatan Resmi Luncurkan “Bergema Temple Explorer”, Sembahyang Bersama di Cetiya Panca Dharma Selatan

Jumat, 12 Juni 2026 - 12:05 WIB

Cerita di Balik ‘Too Late to Hold On’, Lagu yang Menandai Kebangkitan Lysa Belmar

Berita Terbaru