Jejak Konferensi Kolombo di Balik Lahirnya Konferensi Asia-Afrika

- Penulis

Minggu, 30 Maret 2025 - 08:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo dalam Konferensi Kolombo/ gambar: merdeka.com

Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo dalam Konferensi Kolombo/ gambar: merdeka.com

SUARAMUDA, SEMARANG – Saat dunia masih terpecah oleh kolonialisme dan Perang Dingin, muncul sebuah langkah berani dari negara-negara Asia untuk menentukan nasib sendiri.

Konferensi Kolombo pada tahun 1954 bukan sekadar pertemuan diplomatik biasa, tetapi titik tolak lahirnya solidaritas Asia-Afrika yang mengguncang tatanan dunia.

Lalu, mengapa konferensi ini begitu penting? Bagaimana pertemuan ini akhirnya melahirkan Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang menjadi tonggak perjuangan negara-negara berkembang?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Artikel ini akan mengupas jejak historis Konferensi Kolombo dan dampaknya yang masih relevan hingga saat ini.

Pasca Perang Dunia II, negara-negara di Asia dan Afrika masih berjuang melawan kolonialisme dan pengaruh negara-negara adidaya.

Pada saat yang sama, Perang Dingin semakin memperburuk kondisi geopolitik, memaksa negara-negara berkembang untuk memilih antara blok Barat atau blok Timur.

Di tengah ketegangan tersebut, negara-negara Asia yang baru merdeka menyadari perlunya membangun solidaritas untuk memperjuangkan kedaulatan mereka.

Salah satu upaya untuk mewujudkan persatuan tersebut adalah melalui Konferensi Kolombo, yang dihadiri oleh lima pemimpin negara: Perdana Menteri Sri Lanka (Ceylon) John Kotelawala, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri Pakistan Mohammad Ali, Perdana Menteri Burma U Nu, dan Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo.

Pertemuan ini menjadi forum bagi negara-negara Asia untuk berdiskusi mengenai berbagai isu global, termasuk dekolonisasi, perdamaian dunia, dan kebijakan luar negeri yang bebas dari tekanan negara-negara besar.

Persatuan Negara-negara Asia

Konferensi Kolombo adalah bukti nyata bahwa persatuan negara-negara Asia mampu menginisiasi perubahan besar di panggung dunia.

Jika bukan karena keberanian para pemimpin Asia saat itu, KAA mungkin tidak akan pernah terjadi, dan perjuangan melawan kolonialisme akan lebih terjal.

Baca Juga :  Mengatur Bisnis dalam Pandangan Islam

Dalam konteks saat ini, semangat Konferensi Kolombo seharusnya dijadikan inspirasi untuk memperkuat solidaritas antarnegara berkembang dalam menghadapi tantangan global, seperti ketidakadilan ekonomi, perubahan iklim, dan politik internasional yang masih didominasi oleh negara-negara besar.

Konferensi Kolombo diadakan pada 28 April – 2 Mei 1954 di Ceylon (sekarang Sri Lanka) dan dihadiri oleh lima negara: India, Pakistan, Burma (Myanmar), Sri Lanka, dan Indonesia.

Cikal-Bakal Konferensi Asia-Afrika

Dalam pertemuan ini, Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo mengusulkan perlunya konferensi yang lebih besar dengan melibatkan negara-negara Afrika dan Asia lainnya.

Menurut catatan sejarah, usulan ini awalnya mendapat respons skeptis, tetapi kemudian diterima dengan baik.

Langkah ini kemudian ditindaklanjuti dengan Konferensi Bogor pada Desember 1954 yang menjadi persiapan akhir sebelum KAA digelar di Bandung pada April 1955.

KAA akhirnya berhasil menyatukan 29 negara Asia dan Afrika untuk menentang kolonialisme serta memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri.

Dari perspektif akademis, sejarawan Michael Brecher menyatakan bahwa Konferensi Kolombo memainkan peran penting dalam membangun landasan politik bagi KAA.

Selain itu, menurut catatan dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Konferensi Kolombo mencerminkan kesadaran baru negara-negara Asia terhadap peran strategis mereka dalam politik global.

Lebih jauh, Konferensi Kolombo juga menunjukkan bahwa negara-negara berkembang tidak harus selalu tunduk pada tekanan negara-negara besar.

Dengan bersatu dan bekerja sama, mereka mampu menciptakan agenda politik yang menguntungkan kepentingan mereka sendiri. Ini menjadi bukti bahwa diplomasi dan solidaritas antarnegara dapat menjadi kekuatan besar dalam membentuk tatanan dunia yang lebih adil.

Baca Juga :  Jangan Takut Fisika: Kuliah Fisika dan Tips Agar Fisika Jadi Teman Kita

Dampak Konferensi Kolombo terhadap KAA dan Dunia

Dampak yang dihasilkan dari Konferensi Kolombo atas KAA dan dunia adalah sebagai berikut.
1. Pembentukan Konferensi Asia-Afrika – Salah satu hasil langsung dari Konferensi Kolombo adalah keputusan untuk menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada April 1955.

2. Menguatkan Gerakan Non-Blok – Konferensi ini juga membantu membentuk fondasi bagi Gerakan Non-Blok, yang kemudian diresmikan dalam Konferensi Beograd tahun 1961.

3. Menegaskan Hak Menentukan Nasib Sendiri – Negara-negara yang hadir dalam Konferensi Kolombo sepakat bahwa bangsa-bangsa Asia dan Afrika memiliki hak untuk bebas dari kolonialisme dan imperialisme.

4. Inspirasi bagi Negara-negara yang Belum Merdeka – Konferensi ini memberi semangat bagi negara-negara yang masih dijajah untuk terus berjuang demi kemerdekaan.

Simpulan

Jejak Konferensi Kolombo adalah bukti bahwa inisiatif dari negara-negara berkembang mampu mengubah sejarah dunia.

Hari ini, semangat yang sama masih dibutuhkan untuk menghadapi tantangan global, seperti ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, dan politik internasional yang tidak selalu adil.

Kita sebagai masyarakat harus terus mendukung solidaritas antarnegara berkembang agar warisan perjuangan ini tidak hilang.

Saatnya belajar dari sejarah dan menjadikannya inspirasi untuk masa depan yang lebih adil dan berdaulat!

Mari kita jadikan semangat Konferensi Kolombo sebagai inspirasi untuk memperjuangkan hak dan kedaulatan bangsa di tengah dinamika politik global yang terus berubah. (Red)

Penulis: Muhammad Rizalul Umam

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa
Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar
Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif
Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?
GEMABUDHI Sulawesi Selatan Resmi Luncurkan “Bergema Temple Explorer”, Sembahyang Bersama di Cetiya Panca Dharma Selatan
Cerita di Balik ‘Too Late to Hold On’, Lagu yang Menandai Kebangkitan Lysa Belmar
Pacaran Remaja: Antara Ekspresi Kasih Sayang dan Jerat Pelanggaran
Lulus Kuliah Tapi Susah Dapat Kerja: Salah Gen Z atau Pasar Kerjanya?
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:14 WIB

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa

Sabtu, 27 Juni 2026 - 09:35 WIB

Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:45 WIB

Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?

Minggu, 14 Juni 2026 - 08:36 WIB

GEMABUDHI Sulawesi Selatan Resmi Luncurkan “Bergema Temple Explorer”, Sembahyang Bersama di Cetiya Panca Dharma Selatan

Jumat, 12 Juni 2026 - 12:05 WIB

Cerita di Balik ‘Too Late to Hold On’, Lagu yang Menandai Kebangkitan Lysa Belmar

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB