Begini Sosok Liang Wenfeng, Pendiri DeepSeek yang Rontokkan Saham Teknologi AS

- Penulis

Minggu, 2 Februari 2025 - 09:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Potret CEO DeepSeek (perusahaan rintisan AI asal China), Liang Wenfeng. Sumber: kontan.co.id

Potret CEO DeepSeek (perusahaan rintisan AI asal China), Liang Wenfeng. Sumber: kontan.co.id

SUARAMUDA, SEMARANG — Pendiri perusahaan rintisan AI asal China, DeepSeek, bernama Liang Wenfeng, menjadi sorotan jutaan mata masyarakat dunia dalam beberapa minggu terakhir.

Dari profile-nya, Liang dibesarkan di Provinsi Guangdong, yakni daerah yang pada era 1980-an dan 1990-an menjadi pelopor kapitalisme pasar di China.

Di lingkungannya, banyak orang lebih tertarik menjalankan bisnis daripada melanjutkan pendidikan, tetapi Liang lebih condong ke dunia akademik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada usia 17 tahun, ia diterima di Universitas Zhejiang, salah satu universitas paling bergengsi di China, dan mengambil jurusan Teknik Elektronika dan Komunikasi.

Liang kemudian melanjutkan studi magister di bidang Teknik Informasi dan Komunikasi, yang diselesaikannya pada 2010.

Pada 2015, Liang mendirikan dana lindung nilai kuantitatif yang menggunakan algoritma matematis dalam perdagangan, menggantikan analisis manusia.

Lalu pada akhir 2021, portofolio dana tersebut telah mencapai lebih dari 100 miliar yuan (sekitar US$ 13,79 miliar).

Namun, pada April 2023, perusahaan tersebut mengumumkan di akun WeChat-nya bahwa mereka akan memperluas fokusnya di luar industri investasi dan mengalokasikan sumber daya untuk “mengeksplorasi esensi AGI”. Sebulan kemudian, DeepSeek didirikan.

OpenAI mendefinisikan AGI (Artificial General Intelligence) sebagai sistem otonom yang mampu melampaui manusia dalam sebagian besar tugas bernilai ekonomi.

Sebagian besar karyawan DeepSeek adalah lulusan dan mahasiswa PhD dari universitas top China.

Menurut Liang, mereka memilih bekerja di DeepSeek karena perusahaan ini menangani tantangan terbesar dalam dunia AI.

“Bakat terbaik tentu saja tertarik pada tantangan terbesar di dunia,” ujarnya pada Juli lalu. “Tujuan kami tetap meraih AGI.”

Perjalanan Karir Liang

Di usianya yang ke-39 tahun, Liang dipandang sebagai salah satu harapan industri teknologi China dalam menghadapi ketatnya kontrol ekspor yang diberlakukan Amerika Serikat.

Baca Juga :  Rektor UIN Banten Prof. Ishom Dinobatkan Jadi “Santri of The Year 2025”, Ungkap Rahasia Suksesnya: Barokah Kiai!

Liang selama ini ia tidak menonjol atau low profile hingga 20 Januari 2025, ketika ia menjadi salah satu dari sembilan tokoh yang diundang untuk berbicara di simposium tertutup yang dipimpin Perdana Menteri China, Li Qiang.

Sebelumnya, ia hanya pernah memberikan dua wawancara untuk media, satu kepada Waves pada tahun lalu dan satu lagi pada 2023. Selain itu, ia jarang tampil di depan publik. DeepSeek sendiri tidak menanggapi permintaan wawancara.

Dalam simposium tersebut, penampilan muda Liang tampak kontras dengan para akademisi, pejabat, dan pemimpin konglomerat milik negara yang lebih senior di sekitarnya, sebagaimana terlihat dalam gambar dan video yang dirilis oleh CCTV.

Namun, undangan yang diberikan kepadanya menunjukkan pengakuan Beijing atas peran penting DeepSeek dalam membentuk masa depan AI global yang menguntungkan Tiongkok.

Dilansir dari kontan.co.id, (1/2/2025), DeepSeek pekan lalu sukses meluncurkan asisten AI gratis yang diklaim menggunakan lebih sedikit data dengan biaya lebih murah dibandingkan layanan lain yang ada saat ini.

Tak dipungkiri, peluncuran DeepSeek ini bahkan memicu aksi jual saham teknologi global.

Tahun lalu, CEO Baidu, Robin Li, berbicara dalam simposium serupa. Ia mengumumkan pesaing ChatGPT pertama China pada Maret 2023 dan menyatakan bahwa Tiongkok tidak akan bisa menyaingi kesuksesan OpenAI yang didukung Microsoft.

Oleh karena itu, menurutnya, perusahaan Tiongkok sebaiknya fokus pada penerapan model AI yang sudah ada untuk tujuan komersial.

Namun, di bawah kepemimpinan Liang, DeepSeek mengambil pendekatan berbeda dengan menghindari pengembangan aplikasi.

Perusahaan ini lebih memilih untuk mengalokasikan sumber daya dan talenta riset guna menciptakan model AI yang dapat menyaingi atau bahkan melampaui OpenAI.

Baca Juga :  Yoel Liem Yusnarto: Menginspirasi Generasi Muda dengan Solusi Teknologi

Ke depan, DeepSeek ingin tetap fokus pada pengembangan model AI mutakhir yang dapat digunakan oleh perusahaan lain untuk membangun produk bagi konsumen dan bisnis.

Pendekatan ini berbeda dari tren industri teknologi Tiongkok yang umumnya mengadaptasi inovasi luar negeri, mulai dari aplikasi ponsel pintar hingga kendaraan listrik, lalu mengembangkannya dengan kecepatan tinggi.

Mengejar Orisinalitas dalam AI

“AI Tiongkok tidak bisa selamanya hanya menjadi pengikut. Kita sering mengatakan bahwa ada kesenjangan satu hingga dua tahun antara AI Tiongkok dan Amerika Serikat, tetapi perbedaan yang sebenarnya adalah antara orisinalitas dan imitasi,” ujar Liang dalam wawancara dengan Waves pada Juli lalu.

Menurut Liang, industri teknologi China berada di persimpangan jalan, di mana ia kurang percaya diri namun juga tidak memiliki cukup modal untuk melakukan riset dan pengembangan (R&D) yang benar-benar inovatif.

“Selama 30 tahun terakhir, industri teknologi Tiongkok hanya berfokus pada keuntungan finansial dan mengabaikan inovasi. Padahal, inovasi bukan hanya didorong oleh bisnis, tetapi juga oleh rasa ingin tahu dan keinginan untuk menciptakan,” kata Liang dalam wawancara yang sama.

Salah satu langkah besar DeepSeek adalah membuka akses ke semua modelnya, berbeda dengan OpenAI yang menerapkan sistem tertutup.

Model sumber terbuka memungkinkan pengembang mana pun untuk menggunakan dan memodifikasi kode dasar sesuai kebutuhan.

“Meskipun OpenAI bersifat tertutup, ia tidak dapat menghentikan pihak lain untuk mengejar ketertinggalan, “ujarnya.

Dikatakan pula bahwa sumber terbuka lebih merupakan praktik budaya daripada strategi bisnis. Perusahaan yang menerapkan pendekatan ini akan memiliki kekuatan lunak. (Red)

Catatan: artikel ini dikutip dan diolah dari kontan.co.id (1/2/2025).

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Profil Tiyo Ardianto: Dari Jalur Paket C hingga Jadi Suara Kritis Mahasiswa UGM
Panjat Tebing Indonesia Naik Kelas! Putra Tri Ramadani Raih Emas Dunia Pertama
Inilah Sosok Pangeran Tampan yang Kini Jadi Menteri Luar Negeri Brunei Darussalam
Anies Baswedan “Naik Kelas” ke Riyadh, Jakarta Kini Jadi Contoh Kota Modern Dunia
Biografi Singkat Marsinah dan Perjalanan Panjang Museum Perjuangannya
Kisah Bocah Subang yang Bikin NASA Melirik: Firoos, 14 Tahun, Sudah “Ngoprek” Keamanan Dunia!
Suara Legendaris dari Layar Hitam Putih: Kisah Santai Yasir Den Has yang Bikin Kangen Zaman Dulu
Mantap Jiwa! Veda Ega Lolos Q2 di Moto3 Amerika Serikat
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Profil Tiyo Ardianto: Dari Jalur Paket C hingga Jadi Suara Kritis Mahasiswa UGM

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:09 WIB

Panjat Tebing Indonesia Naik Kelas! Putra Tri Ramadani Raih Emas Dunia Pertama

Senin, 8 Juni 2026 - 08:43 WIB

Inilah Sosok Pangeran Tampan yang Kini Jadi Menteri Luar Negeri Brunei Darussalam

Selasa, 19 Mei 2026 - 08:26 WIB

Anies Baswedan “Naik Kelas” ke Riyadh, Jakarta Kini Jadi Contoh Kota Modern Dunia

Sabtu, 16 Mei 2026 - 22:50 WIB

Biografi Singkat Marsinah dan Perjalanan Panjang Museum Perjuangannya

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB