Suara Legendaris dari Layar Hitam Putih: Kisah Santai Yasir Den Has yang Bikin Kangen Zaman Dulu

- Penulis

Minggu, 5 April 2026 - 22:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Penyiar legendaris Indonesia Yasir Den Has. (dok istimewa)

Penyiar legendaris Indonesia Yasir Den Has. (dok istimewa)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Kalau kamu hidup di era 80–90an, pasti familiar dengan momen sakral ini: jam menunjukkan pukul 21.00 WIB, suasana rumah mulai hening, dan semua mata tertuju ke layar TVRI.

Lalu… suara bariton yang khas, tenang, dan berwibawa langsung mengisi ruangan.

Yep, itulah Yasir Den Has—sosok penyiar legendaris yang bukan cuma membacakan berita, tapi juga jadi “teman malam” jutaan keluarga Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari Kampung ke Layar Nasional

Lahir di Silungkang, Sumatera Barat, tahun 1944, Yasir bukan datang dari latar belakang glamor. Masa kecilnya dihabiskan di Bukittinggi, lalu ia melanjutkan pendidikan hingga jadi alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Tapi siapa sangka, jalannya justru berbelok ke dunia penyiaran.

Kariernya dimulai dari radio Angkatan Udara di Medan tahun 1964. Dari situ, ia mulai “ngulik” suara—ngisi iklan, siaran radio, sampai akhirnya terjun ke dunia televisi. Semua dijalani dengan satu modal utama: konsistensi.

Lolos Seleksi Ketat, Langsung Jadi Ikon

Akhir 70-an jadi titik balik. Yasir direkomendasikan ikut seleksi penyiar TVRI—dan persaingannya nggak main-main. Dari puluhan kandidat, cuma segelintir yang lolos. Dan dia salah satunya.

Baca Juga :  Viral! Sahdan Arya, Mahasiswa 20 Tahun yang Jadi Ketua RT untuk 700 Warga

Debutnya? Langsung di program legendaris Dunia Dalam Berita pada 22 Desember 1978.
Indonesia. Sejak saat itu, wajah dan suaranya jadi “ikon malam hari” di Indonesia.

Kalau kamu kira jadi penyiar itu cuma modal suara bagus, Yasir bakal langsung bilang: “Nope!”

Dua jam sebelum siaran, dia sudah standby di studio. Ia rutin dengerin siaran internasional kayak BBC dan Deutsche Welle buat ningkatin kualitas pelafalan.

Bahkan, latihan pengucapan dilakukan super detail—huruf demi huruf!

Nggak heran kalau tiap tampil, auranya selalu tenang, profesional, dan bikin orang percaya sama berita yang disampaikan.

Lebih dari Sekadar Penyiar

Selama lebih dari 20 tahun, Yasir Den Has bukan cuma pembaca berita—dia adalah simbol kredibilitas.

Di masa ketika TVRI jadi satu-satunya sumber informasi nasional, perannya besar banget dalam membangun kepercayaan publik.

Nggak cuma itu, dia juga sempat menyabet penghargaan penyiar radio terbaik di Jakarta tahun 1978. Keren, kan?

Setelah pensiun tahun 2000, Yasir nggak benar-benar “menghilang”. Ia tetap aktif berbagi ilmu lewat radio bareng istrinya, dan juga menulis buku Kiat Sukses Menjadi Presenter Profesional.

Baca Juga :  Mantap Jiwa! Veda Ega Lolos Q2 di Moto3 Amerika Serikat

Isinya? Ilmu praktis buat kamu yang pengen jadi presenter kece dan profesional.

Filosofi Simpel Tapi Ngena

Satu prinsip yang selalu dia pegang: “banyak belajar.”

Buat Yasir, ngomong itu bukan sekadar bakat. Harus diasah—dengan latihan, wawasan, dan sikap yang benar.

Pesannya simpel tapi dalem: “Jangan males persiapan, Jaga penampilan, Tetap tenang dalam tekanan. Dan… jangan pernah berhenti belajar”.

Sampai sekarang, banyak penyiar dan presenter muda yang menjadikan Yasir Den Has sebagai role model.

Gaya penyampaian berita yang elegan, jelas, dan terpercaya—itu semua nggak lepas dari standar yang dia bangun sejak dulu.

Penutup: Suara yang Tak Pernah Hilang

Dari Silungkang ke layar nasional, perjalanan Yasir Den Has adalah bukti kalau kerja keras, disiplin, dan semangat belajar bisa membawa siapa saja ke puncak.

Dan satu hal yang pasti: suara bariton itu mungkin sudah tak lagi hadir setiap malam, tapi inspirasinya… bakal terus hidup sepanjang masa. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

4,65 Detik dan Emas Pertama Robby: Saat Mental Berubah, Prestasi Mengikuti
Hong Kong Berduka, Tung Chee-hwa Meninggal Dunia: Dari Taipan Kapal ke Kursi Pemimpin
Farhan, Anak Sopir Truk yang Tak Takut Bermimpi: Lulus ITB dengan IPK 3,98 dan Raih Beasiswa S2 ke Korea
Jonatan Christie, Sang Pewaris Takhta Taufik Hidayat: 26 Tahun Kemudian, Indonesia Punya Nomor 1 Dunia
Kisah Nathan: Remaja 18 Tahun Pecahkan Rekor Profesor Termuda Dunia, Rekor 306 Tahun Tumbang
Bocah Purworejo Ini Siap Terbang ke Jerman! Jago Matematika Berkat Metode Jari Aljabar
Jadikan Prestasi sebagai Kompas, Danisha Resmi Pimpin IPM Ranting MTs Muhammadiyah 20 Menongo
Profil Tiyo Ardianto: Dari Jalur Paket C hingga Jadi Suara Kritis Mahasiswa UGM
Berita ini 127 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:04 WIB

4,65 Detik dan Emas Pertama Robby: Saat Mental Berubah, Prestasi Mengikuti

Rabu, 9 September 2026 - 07:39 WIB

Hong Kong Berduka, Tung Chee-hwa Meninggal Dunia: Dari Taipan Kapal ke Kursi Pemimpin

Minggu, 30 Agustus 2026 - 10:19 WIB

Farhan, Anak Sopir Truk yang Tak Takut Bermimpi: Lulus ITB dengan IPK 3,98 dan Raih Beasiswa S2 ke Korea

Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:04 WIB

Jonatan Christie, Sang Pewaris Takhta Taufik Hidayat: 26 Tahun Kemudian, Indonesia Punya Nomor 1 Dunia

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:11 WIB

Kisah Nathan: Remaja 18 Tahun Pecahkan Rekor Profesor Termuda Dunia, Rekor 306 Tahun Tumbang

Berita Terbaru

Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim. (Gambar: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

KABAR NUSANTARA

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Minggu, 27 Sep 2026 - 11:44 WIB

LINTAS AKADEMIKA

Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)

Minggu, 27 Sep 2026 - 09:20 WIB