Perempuan dan Sepenggal Kisah Nooria: Dari Kabul ke Indonesia, Menjaga Asa di Tengah Pembatasan

- Penulis

Kamis, 18 Desember 2025 - 13:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Nooria masih mengingat jelas bagaimana hidupnya berubah drastis pada tahun 2021. Saat Taliban kembali berkuasa di Afghanistan, bukan hanya sistem pemerintahan yang berganti, tetapi juga masa depan jutaan perempuan—termasuk dirinya—yang seakan direnggut begitu saja.

Sejak saat itu, pintu-pintu sekolah dan universitas tertutup rapat bagi anak perempuan. Pendidikan, yang sebelumnya menjadi jembatan harapan, kini berhenti di bangku kelas enam sekolah dasar. Bagi perempuan Afghanistan, mimpi untuk belajar lebih tinggi perlahan dipadamkan.

Tak hanya pendidikan, hak untuk bekerja pun dirampas. Perempuan tidak lagi dilibatkan dalam lembaga-lembaga pemerintahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ruang gerak mereka semakin sempit. Bahkan untuk bepergian dari satu kota ke kota lain, perempuan harus ditemani. Jika melanggar, hukuman menanti.

“Perempuan Afghanistan hari ini benar-benar kehilangan semua hak asasi dan kebebasannya,” tutur Nooria lirih. “Kami terpinggirkan sepenuhnya.”

Di tengah situasi itulah Nooria mengambil keputusan besar: meninggalkan tanah kelahirannya. Indonesia menjadi tujuannya—sebuah negeri yang belum pernah ia tinggali, tetapi menawarkan satu hal yang sangat ia butuhkan: keamanan dan penghargaan terhadap manusia, tanpa memandang gender.

Baca Juga :  Ini Dia, Sosok Raafi: Cowok Bernasib Mujur, yang Diterima Kuliah Gratis di Fakultas Kehutanan UGM

“Saya datang ke Indonesia untuk belajar di lingkungan yang aman dan bersahabat,” katanya. “Saya ingin suatu hari bisa kembali berkontribusi untuk memperbaiki kondisi pendidikan dan sosial perempuan Afghanistan.”

Di Indonesia, Nooria menemukan kembali sesuatu yang hampir hilang: rasa dihargai. Ia merasa diterima, didukung, dan diperlakukan setara.

Dosen dan teman-teman kuliahnya di Program Magister Ilmu Politik Universitas Wahid Hasyim Semarang memberinya semangat, bukan batasan.

“Di sini saya belajar bahwa kemajuan hanya bisa dicapai lewat usaha dan kerja sama, bukan dengan diskriminasi,” ujarnya.

Indonesia juga terasa dekat di hatinya. Budaya Islami yang akrab, masyarakat yang ramah, serta suasana yang damai membuatnya merasa aman dan tenang.

Pengalaman hidup di Indonesia menjadi pelajaran berharga, bukan hanya secara akademik, tetapi juga sebagai manusia.

Meski begitu, rindu tetap datang tanpa permisi. Ada saat-saat ketika aroma teh, suara bahasa ibu, atau hal-hal sederhana lainnya menyeret ingatannya kembali ke Afghanistan—pada keluarga, sahabat, jalanan, dan udara kampung halaman.

Baca Juga :  Kisah Selebgram Korea Selatan Ayana Moon Jadi Mualaf, Tertarik Belajar Islam dari Usia 7 Th hingga Ditentang Orang Tua

“Rasa rindu itu menyakitkan,” aku Nooria. “Tapi juga memotivasi saya untuk berjuang lebih keras.”

Ia menyimpan harapan besar untuk negaranya. Nooria bermimpi melihat Afghanistan kembali damai dan stabil. Ia membayangkan masa depan di mana perempuan dan anak perempuan bebas belajar, bekerja, dan menentukan jalan hidup mereka sendiri.

“Saya percaya Afghanistan memiliki banyak orang berbakat,” katanya penuh keyakinan. “Mereka hanya membutuhkan kesempatan dan dukungan.”

Hari ini, Nooria memilih bersuara melalui tulisan dan cerita. Ia ingin menjadi wakil bagi perempuan dan anak perempuan Afghanistan yang tak mampu berbicara.

Impian terbesarnya sederhana, namun terasa jauh: pulang ke tanah air dan mengambil peran kecil dalam membangun masa depan yang lebih baik bersama rakyatnya.

Sebuah mimpi yang saat ini mungkin terasa mustahil, tetapi tetap ia jaga—seperti api kecil yang menolak padam di tengah gelap. (Red)

Editor: DT Atmaja

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

4,65 Detik dan Emas Pertama Robby: Saat Mental Berubah, Prestasi Mengikuti
Hong Kong Berduka, Tung Chee-hwa Meninggal Dunia: Dari Taipan Kapal ke Kursi Pemimpin
Farhan, Anak Sopir Truk yang Tak Takut Bermimpi: Lulus ITB dengan IPK 3,98 dan Raih Beasiswa S2 ke Korea
Jonatan Christie, Sang Pewaris Takhta Taufik Hidayat: 26 Tahun Kemudian, Indonesia Punya Nomor 1 Dunia
Kisah Nathan: Remaja 18 Tahun Pecahkan Rekor Profesor Termuda Dunia, Rekor 306 Tahun Tumbang
Bocah Purworejo Ini Siap Terbang ke Jerman! Jago Matematika Berkat Metode Jari Aljabar
Jadikan Prestasi sebagai Kompas, Danisha Resmi Pimpin IPM Ranting MTs Muhammadiyah 20 Menongo
Profil Tiyo Ardianto: Dari Jalur Paket C hingga Jadi Suara Kritis Mahasiswa UGM
Berita ini 21 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:04 WIB

4,65 Detik dan Emas Pertama Robby: Saat Mental Berubah, Prestasi Mengikuti

Rabu, 9 September 2026 - 07:39 WIB

Hong Kong Berduka, Tung Chee-hwa Meninggal Dunia: Dari Taipan Kapal ke Kursi Pemimpin

Minggu, 30 Agustus 2026 - 10:19 WIB

Farhan, Anak Sopir Truk yang Tak Takut Bermimpi: Lulus ITB dengan IPK 3,98 dan Raih Beasiswa S2 ke Korea

Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:04 WIB

Jonatan Christie, Sang Pewaris Takhta Taufik Hidayat: 26 Tahun Kemudian, Indonesia Punya Nomor 1 Dunia

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:11 WIB

Kisah Nathan: Remaja 18 Tahun Pecahkan Rekor Profesor Termuda Dunia, Rekor 306 Tahun Tumbang

Berita Terbaru

Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim. (Gambar: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

KABAR NUSANTARA

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Minggu, 27 Sep 2026 - 11:44 WIB

LINTAS AKADEMIKA

Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)

Minggu, 27 Sep 2026 - 09:20 WIB