Oleh: Y.M.V. Trisunu H.W.*)
SUARAMUDA, SEMARANG — Perpustakaan dewasa ini seakan menjadi tempat yang tak berdaya tarik lagi. Guru hanya menggunakan ruang tersebut ketika tidak ada lagi kelas yang digunakan. Bahkan di sekolah-sekolah negeri, ruang perpustakaan acapkali luput dari perhatian.
Kondisi kotor, kumuh dan berdebu merupakan kondisi umum yang acapkali kita temui. Buku berserakkan. Berwarna coklat dan sobek-sobek sering pula kita temukan. Buku ‘lawas’ terbitan tahun 1970-an, bahkan masih terpampang di perpustakaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perpustakaan adalah mencakup suatu ruangan, bagian dari gedung / bangunan atau gedung tersendiri yang berisi buku-buku koleksi, yang diatur dan disusun demikian rupa, sehingga mudah untuk dicari dan dipergunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh pembaca (Sutarno NS, 2006:11).
Perpustakaan juga bisa disebut kumpulan atau bangunan fisik sebagai tempat buku dikumpulkan dan disusun menurut sistem tertentu atau keperluan pemakai (Lasa, 2007:12). Sedangkan Wiranto dkk (1997) memberi batasan perpustakaan sebagai fasilitas atau tempat menyediakan sarana bahan bacaan.
Dari pengertian di atas, perpustakaan dapat diartikan sebuah bangunan yang berisi buku dan koleksi yang disusun dengan sistem tertentu yang dapat digunakan oleh pembaca untuk mendapatkan ilmu.
Namun membangun dan mengembangkan sebuah perpustakaan memerlukan biaya yang tak murah. Itu juga belum ditambah dengan isinya, terdiri atas buku-buku teks, referensi, buku cerita, video, foto, dan lainnya.
Maka seiring dengan perkembangan teknologi, satu-satunya jalan adalah dengan mengembangkan perpustakaan digital.
Sebuah Solusi Alternatif
Perpustakaan digital (digital library atau e– library) adalah tempat di mana kita dapat meminjam koleksi buku dan sumber edukatif lainnya secara digital atau daring.
Di era digital seperti sekarang ini, perpustakaan digital sudah umum dimiliki oleh setiap lembaga pendidikan atau organisasi.
Jenis perpustakaan ini berbeda dengan jenis perpustakaan konvensional yang berupa kumpulan buku tercetak, film mikro (microform dan microfiche), ataupun kumpulan kaset audio, video, dan lainnya.
Isi dari perpustakaan digital berada dalam suatu komputer server yang bisa ditempatkan secara lokal, maupun di lokasi yang jauh, namun dapat diakses dengan cepat dan mudah lewat jaringan komputer.
Memang memiliki perpustakaan digital tak serta-merta tanpa kendala, terlebih untuk memgaksesnya saja memerlukan perangkat android dan juga dukungan data (kuota). Akan tetapi, problem ini pun akan mudah terjawab manakala saat ini tak sedikit siswa yang telah manggunaian android.
Dengan alasan di atas saya selaku guru kelas 6A telah mengajarkan ‘Google Sites’ dan sekitar 90% siswa kelas 6A sudah lancar menggunakannya. Dengan spekulasi yang cukup menegangkan saya menawarkan kepada kepala sekolah untuk mengadakan perpustakaan digital.
Setelah dapat dukungan kepala sekolah dan para guru, saya memutuskan membuat perpustakaan digital berbasis Google Sites. Yakni diawali dengan mengumpulkan banyaknya perpustakaan yang ditawarkan melalui website mulai dari Lets read Asia, Literacy Cloud, Sistem Informasi Perbukuan Indonesia, Rumah Belajar, Museum Kemdikbud, Badan Bahasa, Kumpulan buku PDF dari penulis.
Dari sumber utama yang sudah dimiliki, penulis melengkapi dengan kegiatan literasi dan kegiatan yang ada di SD Negeri Jatingaleh 01 Kota Semarang. Mulai dengan karya guru, karya siswa, dan kegiatan kegiatan para siswa dan guru. Semakin lengkap ditambah dengan buku suara dari literacy cloud.
Awal yang menarik, karena kami rencanakan Launching Perpustakaan Digital SD Negeri Jatingaleh 01 saat menjalankan kegiatan akhir bulan Bahasa yangditutup pada 25 Oktober 2024.
Kegiatan membaca buku selama 10 menit untuk semua elemen sekolah sangat mendongkrak minat baca siswa. Sedangkan para orang tua juga sangat terbantu dengan perpustakaan ini.
Mereka menjadi tidak lagi mengalami kesulitan untuk mencari buku karena sudah ditemukan dalam buku digital di sekolah.
Demikian pula dengan para guru akan mudah menemukan buku digital baik tentang buku bacaan atau buku pelajaran di perpustakaan digital. Guru bisa mencari model pembelajaran dari rumah belajar.
Guru menggunakan perpustakaan sekolah untuk menugaskan siswa membaca di rumah ataupun guru membaca cerita dari perpustakaan digital.
Dari pengalaman yang baru seumur jagung ini, saya menyadari pentingnya ada perustakaan sekolah yang akan membuat guru, orang tua, dan siswa menemukan buku dengan mudah dengan modal kuota datau jaringan internet.
Dalam konteks ini, kita dorong anak untuk menggunalan android untuk kepentingan belajar terutama membaca. Meminjam pesan Ki Hadjar Dewantara “membaca adalah jendela dunia. Tetapi tidak hanya itu, membaca juga adalah sebuah kunci yang dapat membuka pintu-pintu rahasia ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.”
Maka dengan mengikuti laju perkembangan teknologi yang makin pesat, kita tetap bisa dorong minat anak didik untuk terus membaca. Sedangkan perpustakaan digital adalah pilihan alternatif untuk meningkatkan literasi siswa.
Namun hal ini masih harus ditambahkan bahwa peran guru untuk aktif mendorong memanfaatkan perpustakaan digital perlu digalakkan lebih lanjut. Hal ini juga berlaku untuk orang tua.
Selamat berjuang untuk para guru dan orang tua. Berkolaborasilah agar pendidikan buat anak semakin “Menyala Abangku! “. (Red)
*) Y.M.V. Trisunu H.W., Guru SDN Jatingaleh 01 Kota Semarang













Komentar