Begini Fenomena Sound Horeg yang Hebohkan Masyarakat Pantura

- Penulis

Minggu, 3 November 2024 - 07:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi sound horeg/ sumber: Radar Semarang

Ilustrasi sound horeg/ sumber: Radar Semarang

SUARAMUDA, KOTA SEMARANG — Mungkin saja Kawan Muda seringkali mendengar istilah ‘sound horeg’. Pada beranda-beranda media sosial, fenomena sound horeg pun acapkali muncul.

Bak diskotik berjalan, sound yang menggelegar, lampu yang berkelap-kelip, ataupun para penari yang berlenggak-lenggok di depan mesin pengeras suara ini menjadi fenomena yang mencuri perhatian warga maupun masyarakat luas.

Lantas, apa sebenarnya sound horeg?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dikutip dari Radar Semarang, secara garis besar Horeg merupakan bentuk entertainment serta budaya masyarakat khususnya dari Jawa Timur yang berawal dari sound system.

Sound system yang biasanya digunakan sebagai pengeras suara dalam berbagai acara, dalam prosesnya oleh sebagian masyarakat dikembangkan sedemikian rupa untuk tujuan hiburan.

Sound system yang biasanya digunakan sebagai pengeras suara dalam berbagai acara, dalam prosesnya oleh sebagian masyarakat dikembangkan sedemikian rupa untuk tujuan hiburan.

Biasanya Horeg digunakan untuk berbagai acara formal maupun non-formal di daerah-daerah yang ada berada di beberapa kota /kabupaten di Jawa Timur, bahkan Jawa Tengah. Terutama, masyarakat pesisir Pulau Jawa (pantura).

Baca Juga :  Fiks, No Debat! MUI Jatim Haramkan Sound Horeg

Berkapasitas Besar

Sound Horeg ini merupakan sound system yang berkapasitas besar dan memiliki getaran yang sangat keras, terkadang getaran dari sound ini mampu membuat kaca ataupun genting dari rumah-rumah yang dilewatinya hingga pecah.

Kata “Horeg” awalnya digunakan untuk sebuah suara pada sound sistem. Untuk kata Horeg sendiri bisa diartikan sebagai soobwofer yang keras dengan media lantang serta tribalnya jernih.

Secara sejarah, penggunaan Horeg ini sebenarnya sudah bermula sejak tahun 2014-an, dimana para pemilik usaha dan komunitas sound system horeg ini sering ikut serta dalam pawai ataupun karnaval kota.

Namun, kepopulerannya di kancah sosial media nasional baru melonjak akhir-akhir ini berkat maraknya video tentang horeg yang berseliweran di sosmed, baik berimbas negatif maupun positif.

Baca Juga :  Mengurai Perbedaan Pendapat Datangnya Malam Lailatul Qadar, Simak Di Sini!

Konotasi negatif dari sound horeg kerap bermuara pada imbas yang dihasilkan oleh suara berdesibel tinggi tersebut, mulai dari kenyamanan warga yang mulai terganggu ataupun banyaknya kerusakan fisik yang dihasilkan olehnya.

Oleh karena itu, kini lahir beberapa peraturan daerah guna melakukan batasan yang mengatur tingkat kebisingan, waktu digunakan serta lokasi yang diperbolehkan untuk menyelenggarakan acara dengan sound horeg.

Untuk penggunaan sound horeg yang tidak sesuai regulasi bisa dilakukan penindakan, seperti penyitaan alat hingga hukuman denda kepada yang bersangkutan oleh pihak kepolisian.

Meskipun begitu, horeg masih menjadi jawaban untuk mobilitas warga dalam jumlah besar di kebanyakan daerah Pantura timur hingga Jawa Timur.

Horeg juga disebut mampu mengumpulkan banyak masyarakat dalam satu tempat, selain untuk urusan entertainment. Pada umumnya digunakan untuk acara-acara seperti pengajian ataupun acara yang memiliki unsur politik. (Red)

Sumber artikel: Jawa Pos Radar Semarang

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa
Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar
Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif
Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?
GEMABUDHI Sulawesi Selatan Resmi Luncurkan “Bergema Temple Explorer”, Sembahyang Bersama di Cetiya Panca Dharma Selatan
Cerita di Balik ‘Too Late to Hold On’, Lagu yang Menandai Kebangkitan Lysa Belmar
Pacaran Remaja: Antara Ekspresi Kasih Sayang dan Jerat Pelanggaran
Lulus Kuliah Tapi Susah Dapat Kerja: Salah Gen Z atau Pasar Kerjanya?
Berita ini 11 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:14 WIB

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:51 WIB

Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar

Sabtu, 27 Juni 2026 - 09:35 WIB

Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:45 WIB

Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?

Minggu, 14 Juni 2026 - 08:36 WIB

GEMABUDHI Sulawesi Selatan Resmi Luncurkan “Bergema Temple Explorer”, Sembahyang Bersama di Cetiya Panca Dharma Selatan

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB