Jejak Mimpi Silfana Wiwit Soliha: Merajut Harapan Bersama Gerakan Sekolah Menyenangkan

- Penulis

Jumat, 1 November 2024 - 06:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Momen foto bersama siswa SD Negeri Merapi/ dok: pribadi

Momen foto bersama siswa SD Negeri Merapi/ dok: pribadi

SUARAMUDA, KOTA SEMARANG — Di suatu pagi yang tenang, 16 Juli 2024, saya—Silfana Wiwit Soliha—melangkah menuju Cirebon dengan hati yang penuh harap.

Setiap detik dalam perjalanan ini terasa istimewa, sebuah langkah kecil dalam mimpi besar menjadi bagian dari ‘Gerakan Turun ke Sekolah’ oleh ‘Gerakan Sekolah Menyenangkan’.

Ketika kereta Kaligung meninggalkan Pemalang, saya tahu, ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan jiwa menuju cita-cita untuk memberi makna.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setibanya di SD Negeri Merapi, senyum tulus para guru menyambut hangat. Kepala sekolah dan para pendidik di sana memberikan saya ruang dan kepercayaan, menghidupkan semangat yang memenuhi hati.

Di depan anak-anak kelas 5, saya berdiri tepat pukul 09.00, menatap mata-mata kecil yang bersinar penuh harapan, seolah siap menerima setiap cerita, ilmu, dan pesan.

Materi tentang budaya, agama, dan kesehatan yang saya sampaikan terasa hidup dengan sentuhan permainan dan canda. Tawa mereka menjadi nyanyian terindah yang mengiringi, menjadikan setiap kata sebuah doa kecil yang melayang ke langit.

Momen foto bersama anak-anak SD Negeri Merapi/ dok: pribadi

Seminggu berlalu, saya melangkah ke SD Negeri Rajawali. Kali ini, hanya ada lima anak di kelas 2, namun semangat mereka memenuhi ruangan kecil itu dengan sukacita.

Baca Juga :  Lehermu Sering Kaku? Baca Artikel ini, Jangan-jangan Kolestrol

Mereka sedikit, namun dalam tatapan mereka yang menyala, saya melihat dunia yang terbuka luas—mimpi-mimpi yang berani mereka genggam dengan penuh keinginan.

Di ruang sederhana ini, saya merasakan bahwa pendidikan bukan soal jumlah atau kelengkapan fasilitas, tapi tentang keinginan mereka untuk belajar, untuk berjuang.

Lebih dari sekadar materi atau kuis, pertemuan-pertemuan ini meninggalkan sesuatu yang lebih berharga dalam hati—sebuah pesan tanpa kata yang disampaikan melalui tatapan semangat dan tawa murni mereka.

Momen ini mengingatkan saya pada tujuan hidup yang ingin saya tempuh: bahwa pendidikan adalah jendela mimpi bagi mereka yang terhalang oleh keadaan, dan kesempatan untuk bersama mereka membuka jendela itu adalah anugerah tersendiri.

Momen foto bersama guru dan siswa SD Negeri Rajawali/ dok: pribadi

Saya juga mengadakan kuis kecil, memberikan hadiah buku dan pulpen. Melihat senyum mereka saat menerima hadiah sederhana ini, saya tersadar bahwa kebahagiaan tak diukur dari besar kecilnya pemberian, tapi dari ketulusan yang terselip di dalamnya.

Baca Juga :  10 Negara dengan Populasi Terbanyak di Dunia Tahun 2024, Ada Indonesia?

Bagi saya, ‘Gerakan Turun ke Sekolah’ bukan sekadar program, tapi sebuah ruang di mana saya dapat menyentuh jiwa-jiwa muda, menyampaikan bukan hanya ilmu tetapi juga secercah harapan yang membekas.

“Menjadi relawan adalah bentuk seni,” renungku dalam hati, “seni mencintai, seni memberi tanpa harap kembali. Setiap detiknya adalah puisi yang hidup, setiap tawa adalah cahaya bagi masa depan mereka.”

Dan dalam setiap langkah ini, saya belajar bahwa memberi tak pernah mengurangi. Justru, ia memperkaya. Mereka yang saya temui di dua sekolah ini memberi saya sesuatu yang lebih besar dari yang saya bawa—semangat dan dorongan untuk terus bermimpi.

Di atas kereta dalam perjalanan pulang, hening malam mengisi hati saya dengan kenangan indah dan air mata yang tak tertahan. Bukan karena lelah, tapi karena rasa terima kasih.

Momen foto bersama keluarga besar SD Negeri Rajawali/ dok. pribadi

Sekarang, di dinding kamar saya tergantung pesan dan kesan dari anak-anak yang menemani mimpi saya, mengingatkan bahwa perjalanan kecil ini bukan akhir, tetapi awal dari segala perubahan besar yang ingin saya perjuangkan. (Red)

Penulis: Silfana Wiwit Soliha

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa
Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar
Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif
Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?
GEMABUDHI Sulawesi Selatan Resmi Luncurkan “Bergema Temple Explorer”, Sembahyang Bersama di Cetiya Panca Dharma Selatan
Cerita di Balik ‘Too Late to Hold On’, Lagu yang Menandai Kebangkitan Lysa Belmar
Pacaran Remaja: Antara Ekspresi Kasih Sayang dan Jerat Pelanggaran
Lulus Kuliah Tapi Susah Dapat Kerja: Salah Gen Z atau Pasar Kerjanya?
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:14 WIB

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:51 WIB

Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar

Sabtu, 27 Juni 2026 - 09:35 WIB

Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:45 WIB

Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?

Minggu, 14 Juni 2026 - 08:36 WIB

GEMABUDHI Sulawesi Selatan Resmi Luncurkan “Bergema Temple Explorer”, Sembahyang Bersama di Cetiya Panca Dharma Selatan

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB