Realisasikan Toleransi, SMA Vianney Ikuti Dialog “Agak Lain” di Gereja Katolik Bojong Indah Jakarta

- Penulis

Selasa, 1 Oktober 2024 - 03:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kiai Taufik dan Rm.Sridanto, Pr dalam dialog interaktif “Agak Lain” (AGAma Kita Pancasila Indonesia) di GKP Lt 4 Sathora pada Sabtu, 28 September 2024/ Cathrine Kurniawan

Kiai Taufik dan Rm.Sridanto, Pr dalam dialog interaktif “Agak Lain” (AGAma Kita Pancasila Indonesia) di GKP Lt 4 Sathora pada Sabtu, 28 September 2024/ Cathrine Kurniawan

SUARAMUDA, JAKARTA — SMA Vianney dalam upaya meningkatkan toleransi dan pemahaman antaragama, siswa SMA Vianney mengikuti dialog interaktif bertajuk “Agak Lain” (AGAma Kita Pancasila Indonesia). Kegiatan ini berlangsung di GKP Lt 4 Sathora pada Sabtu, 28 September 2024 lalu.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber inspiratif, yaitu RD. Hironimus Sridanto Aribowo Nataantaka dan Kiai Taufik Damas. Peserta dari SMA Vianney sendiri, berjumlah enam siswa dan satu guru pendamping. Diskusi ini mengangkat tema penting, yaitu “Apa Yang Ada di Pikiranmu Saat Mendengar Agama Islam? Emang Katolik dan Islam Itu Bisa Jadi Bestie?”.

Kegiatan ini berpotensi dalam membangun pemahaman toleransi, di tengah keragaman agama. Melalui dialog yang terbuka dan penuh rasa hormat ini, para peserta diharapkan dapat mengeksplorasi pandangan dan pengalaman masing-masing serta menemukan kesamaan yang bisa memperkuat hubungan antar umat beragama. Selain itu, acara ini menjadi ruang bagi pengetahuan, toleransi, dan persahabatan yang lebih dalam antara komunitas Katolik dan Islam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelum acara dimulai, para tamu undangan disambut dengan berbagai hidangan yang telah disediakan. Suasana akrab dan hangat tercipta, saat para peserta menikmati sajian sambil berbincang. Setelah semua tamu berkumpul, Kiai Taufik dan Romo Sridanto mengambil panggung untuk memberikan kata sambutan.

Sambutan mereka penuh semangat dan harapan, menciptakan suasana yang kondusif untuk saling mengenal dan memperkuat ikatan antar umat beragama.

Dalam acara tersebut, Kiai Taufik menyampaikan pandangannya dengan tegas, mengingatkan semua peserta bahwa perbedaan dalam agama adalah hal yang wajar dan harus dihormati.

“Apapun perbedaan, agama itu namanya pun beda, bukan hanya namanya tetapi juga sistem keyakinannya, cara ibadahnya, tempat ibadahnya, dan simbol-simbol sakralnya, “ujarnya.

Kiai Taufik dan Rm.Sridanto, Pr dalam dialog interaktif “Agak Lain” (AGAma Kita Pancasila Indonesia) di GKP Lt 4 Sathora pada Sabtu, 28 September 2024/ Cathrine Kurniawan

Dia kemudian merujuk pada prinsip dalam Islam, “Lakum diinukum waliyadiin,” yang berarti agama kalian untuk kalian dan agamaku untukku. Lebih lanjut, Kiai Taufik juga menambahkan bahwa setiap umat beragama memiliki konsep surga dan neraka nya masing-masing, dan oleh karena itu, penting untuk membiarkan setiap orang mengejar visi surga mereka sesuai dengan keyakinan yang mereka anut.

Baca Juga :  Aldi Satya Mahendra, Pembalap Muda yang Bikin Lagu 'Indonesia Raya' Berkumandang di Sirkuit Misano Italia

Dengan pernyataan ini, ia mengajak semua peserta untuk menghargai keberagaman dan saling mendukung dalam perjalanan spiritual masing-masing, sehingga tercipta suasana saling pengertian dan toleransi antarumat beragama.

Esensi ‘Katolik’ dalam Kacamata Romo Sridanto

Sementara itu, Romo Sridanto dalam materinya menjelaskan esensi dari Katolik. Romo menjawab dengan dua pendekatan, yakni historis dan spiritual.

“Katolik” berasal dari kata “Katolikus,” yang berarti universal. Hal ini tercermin dalam syahadat, di mana disebutkan, “Aku Percaya akan Gereja yang satu. Satu, kudus, Katolik dan apostolik, “jelasnya.

Menurutnya, meski istilah “Katolik” mungkin tidak begitu populer di awal sejarah Kekristenan, namun semua pengikut Yesus Kristus dikenal sebagai “Christian,” yang berasal dari kata Yunani “Christos,” artinya yang diurapi. Dikatakan, Yesus yang diurapi oleh Allah sebagai Tuhan dan manusia, menjadikan semua pengikut-Nya disebut “Christian,” sebagaimana tercantum dalam Injil Lukas.

Romo juga menjelaskan perjalanan sejarah gereja yang penuh liku, dimulai dari komunitas-komunitas Kristiani awal di Yerusalem, Antiokia, dan Roma. Dengan runtuhnya Yerusalem dan hilangnya jejak Antiokia, Roma menjadi satu-satunya pusat yang tersisa. Kemudian, pada tahun 1054, terjadi perpecahan antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik di Timur, yang kini dikenal sebagai Gereja Ortodoks.

Romo juga menyinggung peristiwa abad ke-13 yang melibatkan Raja Henry VIII, yang berusaha menikahi Anne Boleyn tanpa izin paus, yang memicu pembentukan Gereja Anglikan.
Ia menyampaikan bahwa meskipun ada banyak perpecahan dalam sejarah, muncul pula tokoh-tokoh seperti Ignatius Loyola, yang berjuang untuk persatuan Gereja Katolik dan menekankan pentingnya kesatuan dalam iman.

Dari segi spiritual, Romo Sridanto menekankan bahwa Katolik mengajarkan umatnya untuk hidup dalam kesatuan universal, menghargai keberagaman, dan saling mendukung dalam perjalanan iman. Dengan penjelasan ini, ia berharap para peserta dapat memahami bahwa di balik perbedaan, terdapat panggilan untuk saling menghormati dan mencintai satu sama lain dalam semangat persaudaraan.

Baca Juga :  Graduasi: Bukan Akhir, Melainkan Awal Kisah Perjalanan dan Harapan Siswa-Siswi Kelas 12 SMA Vianney

Islam Dorong Toleransi dan Perbedaan

Setelah penjelasan dari Romo Sridanto, sesi tanya jawab pun dimulai, di mana para hadirin dapat mengajukan pertanyaan melalui pemindaian QR code yang telah disediakan. Banyak pertanyaan menarik muncul, salah satunya mengenai batasan dalam bertoleransi dan ajaran terkait hal ini dalam Islam.

Perwakilan siswa-siswi SMA Vianney peserta seminar/ Cathrine Kurniawan

Kiai Taufik menjawab dengan tegas bahwa Islam sangat mendorong toleransi dan menghormati perbedaan agama. Ia juga mengungkapkan bahwa contoh nyata dari prinsip ini terdapat dalam tindakan Nabi Muhammad SAW saat beliau membangun masyarakat baru di Madinah, yang diabadikan dalam “Piagam Madinah”.

Dikatakan, piagam ini menunjukkan bahwa Islam, Kristen, dan Yahudi adalah satu umat, di mana setiap individu, terlepas dari agamanya, memiliki tanggung jawab untuk saling melindungi dan menghormati.

Kiai Taufik menekankan pentingnya memahami Al-Qur’an dan sejarah Nabi dengan baik, karena banyak ajaran intoleransi yang muncul akibat penafsiran yang salah atau pengaruh sejarah yang kelam, seperti Perang Salib. Ia menyerukan kepada semua umat beragama untuk tidak membiarkan luka lama mempengaruhi hubungan mereka di masa kini.

“Kita harus meninggalkan luka masa lalu dan fokus pada pembangunan persaudaraan dan persahabatan antar umat beragama,” ujarnya.

Kiai Taufik berharap para hadirin dapat melihat bahwa toleransi bukan sekadar konsep, tetapi sebuah praktik yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, demi menciptakan masyarakat yang harmonis dan saling menghormati. Saat acara menjelang akhir, suasana semakin meriah dengan penampilan lagu “Khayalanku” yang dinyanyikan oleh Kiai Taufik. Suaranya yang merdu menggugah semangat seluruh hadirin.

Secara keseluruhan acara dialog “Agak Lain” mengandung energi positif menandakan hadirnya sukacita. Kegiatan ini mengajak seluruh hadirin dan para siswa-siswi SMA Vianney secara khusus, untuk memperoleh pengalaman yang dapat diimplementasikan dalam membangun kerukunan, mencegah konflik, meningkatkan kualitas hidup, dan menghormati hak asasi manusia. (Red)

Laporan: Cathrine Kurniawan (X-2)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pameran Produk dan Penutupan MBKM Bina Desa UPN Veteran Jawa Timur: Wujud Inovasi Berkelanjutan untuk Mendukung SDGs 8, 12, dan 17
Semarang Siap Jadi Kota Festival, Agustina: Seni Budaya Harus Hidup Sepanjang Tahun
Baliho Ultah Jokowi Bikin Riuh, Gerindra Solo Sentil Pemkot: “Pas Prabowo Ulang Tahun Kok Sepi?”
Sidang Sudewo Diserbu Pendukung, Ahmad Husein Muncul Lagi dan Bikin Nazar Tak Biasa
Geger! Ketua BEM FH UBK Ngaku Terima Uang Rp20 Juta dari Wapres Gibran
Semarang Makin Dilirik, Wacana Badan Pariwisata Kembali Menguat
Hotel Hyatt Place Segera Hadir di Semarang, Pearl of Java Makin Bergengsi!
BEM Unsoed Kaget! Mahasiswa Ikut Kunker Gibran Tanpa Sepengetahuan Organisasi
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 23:26 WIB

Pameran Produk dan Penutupan MBKM Bina Desa UPN Veteran Jawa Timur: Wujud Inovasi Berkelanjutan untuk Mendukung SDGs 8, 12, dan 17

Rabu, 24 Juni 2026 - 09:14 WIB

Semarang Siap Jadi Kota Festival, Agustina: Seni Budaya Harus Hidup Sepanjang Tahun

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:20 WIB

Baliho Ultah Jokowi Bikin Riuh, Gerindra Solo Sentil Pemkot: “Pas Prabowo Ulang Tahun Kok Sepi?”

Selasa, 23 Juni 2026 - 17:06 WIB

Sidang Sudewo Diserbu Pendukung, Ahmad Husein Muncul Lagi dan Bikin Nazar Tak Biasa

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:46 WIB

Geger! Ketua BEM FH UBK Ngaku Terima Uang Rp20 Juta dari Wapres Gibran

Berita Terbaru