Mengenal Istilah “Rebo Wekasan”, Begini Sejarahnya

- Penulis

Minggu, 1 September 2024 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA – Tradisi Rebo Wekasan menjadi satu kebiasaan bagi umat muslim di Indonesia. Rebo Wekasan diperingati setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar .Dan pada tahun ini, Rebo Wekasan jatuh pada 30 Safar 1446 H bertepatan dengan tanggal 4 September 2024.

Sejumlah masyarakat percaya, pada malam Rebo Wekasan menyimpan sejumlah mitos yang diyakini secara turun temurun. Bahkan Rebo Wekasan disebut-sebut menjadi hari paling sial sepanjang tahun. Pada hari Rebo Wekasan dipercaya sebagai hari di mana diturunkannya bala dan bencana ke bumi.

Sejarah Rebo Wekasan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengutip dari situs Warisan Budaya Takbenda Indonesia Kemdikbud, sejarah tradisi Rabu Wekasan ditelaah dalam berbagai versi. Versi pertama, disebutkan bahwa tradisi Rebo Wekasan sudah ada sejak 1784, yang mengisahkan adanya seorang kyai yang memiliki kelebihan ilmu yang sangat baik di bidang agama maupun bidang ketabiban atau penyembuhan penyakit.

Tokoh kyai itu bernama Faqih Usman yang kemudian lebih dikenal dengan nama Kyai Wonokromo Pertama atau Kyai Welit. Kyai Faqih diyakini oleh masyarakat mampu mengobati penyakit dan metode disuwuk, yakni dibacakan ayat-ayat AI-Qur’an pada segelas air yang kemudian diminumkan kepada pasiennya sehingga pasien tersebut dapat sembuh.

Baca Juga :  Khutbah Jum'at: Bahaya Lisan, Fenomena Media Sosial, dan Hikmah Kehidupan

Berkat ketenarannya, Kyai Faqih pun mendapat sanjungan dari Sri Sultan Hamengku Buwono I. Sepeninggal Kyai Faqih, masyarakat masih meyakini bahwa setiap hari Rabu Wekasan masyarakat berbondong-bondong untuk mencari berkah.

Versi kedua, tidak jauh berbeda dari yang pertama, hanya saja Upacara Rebo Wekasan tidak terlepas dari tradisi Kraton Mataram dengan Sultan Agung. Upacara adat ini diselenggarakan sejak tahun 1600.

Pada masa pemerintahan Mataram terjangkit wabah penyakit atau pagebluk. Kemudian diadakan ritual untuk menolak bala wabah penyakit ini dan Rabu Wekasan ini diadakan sebagai wujud doa.

Versi ketiga, diceritakan bahwa Kyai Muhammad Faqih berasal dari Desa Wonokromo. Kyai Faqih ini juga disebut Kyai Welit, karena pekerjaannya adalah membuat welit atau atap dari rumbia.

Baca Juga :  Anakmu Nggak Bodoh, Kamu Aja yang Nggak Paham Potensinya

Masyarakat mendatangi Kyai Welit supaya membuatkan tolak bala yang berbentuk wifik atau rajah yang bertuliskan Arab. Rajah ini kemudian dimasukkan ke dalam bak yang sudah diisi air lalu dipakai untuk mandi dengan harapan supaya yang bersangkutan selamat. Adat ini kemudian disebut malam Rabu Pungkasan atau Rabu Wekasan.

Menurut pendapat lainnya, Rabu Wekasasan juga berhubungan erat dengan penyebaran agama Islam di Indonesia. Abdul Hamid Quds berpendapat bahwa terdapat 32.000 bala yang diturunkan Allah ke bumi pada hari Rabu terakhir setiap tahun di Bulan Safar.

Wali Songo dianggap berperan dalam mengembangkan tradisi ini. Menurut kepercayaan masyarakat Desa Suci, Kabupaten Gresik, Sunan Giri memberikan petunjuk sumber air ketika kekeringan dan berpesan untuk mengadakan upacara adat Rabu Wekasan. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 15 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB