SUARAMUDA.NET, JEMBER — Upaya pelestarian warisan sejarah dan budaya lokal terus menjadi perhatian berbagai kalangan akademisi, pegiat budaya, dan masyarakat di Kabupaten Jember.
Sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian tersebut, pada 21 Mei 2026 mendatang akan diselenggarakan kegiatan bertajuk “BIMTEK ARKEOLOGI 2026: Pengelolaan dan Kajian ODCB di Lereng Selatan Gunung Hyang Desa Badean, Jember.”
Kegiatan ini akan dilaksanakan di Desa Badean, Kabupaten Jember, sebagai salah satu wilayah yang memiliki potensi temuan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) di kawasan lereng selatan Gunung Hyang.
Pelaksanaan bimbingan teknis ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam proses pelestarian tinggalan sejarah dan budaya, khususnya bagi masyarakat Desa Badean dan wilayah sekitarnya.
Kegiatan BIMTEK ARKEOLOGI 2026 hadir sebagai ruang edukasi sekaligus penguatan kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga warisan budaya yang berada di lingkungan masyarakat.
Berbagai temuan yang tersebar di kawasan lereng selatan Gunung Hyang selama ini menunjukkan adanya potensi sejarah yang besar dan perlu mendapatkan perhatian serius melalui proses pengkajian ilmiah serta pelestarian yang tepat.
Selain sebagai sarana edukasi, kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam membangun kolaborasi antara masyarakat, akademisi, dan pegiat budaya untuk bersama-sama melakukan pendataan serta pengelolaan ODCB secara berkelanjutan.
Tingginya potensi temuan sejarah di wilayah Badean dinilai perlu diimbangi dengan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perlindungan terhadap benda-benda yang memiliki nilai sejarah dan kebudayaan.
Kegiatan ini nantinya akan dihadiri oleh mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, dosen Sejarah Peradaban Islam, pegiat sejarah, budayawan Jember, serta masyarakat Desa Badean.
Kehadiran berbagai unsur tersebut diharapkan mampu memperkuat semangat kolaboratif dalam menjaga dan mengembangkan potensi sejarah lokal.
Dalam pelaksanaannya, BIMTEK ARKEOLOGI 2026 akan menghadirkan dua narasumber yang memiliki kompetensi di bidang sejarah dan arkeologi.
Pemateri pertama, Drs. Ismail Lutfi, dosen sejarah dari Universitas Negeri Malang yang dikenal aktif dalam kajian arkeologi dan penelitian sejarah kawasan Jawa Timur.
Narasumber kedua, Hervina Nurulitas, dosen sejarah dari Universitas PGRI Banyuwangi yang memiliki perhatian terhadap kajian sejarah lokal dan pelestarian budaya masyarakat.
Kedua pemateri tersebut nantinya akan memberikan materi mengenai pengenalan dasar arkeologi, identifikasi awal ODCB, pentingnya pelestarian benda cagar budaya, hingga strategi pengelolaan potensi sejarah berbasis masyarakat.
Selain itu, peserta juga akan mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga tinggalan sejarah agar tidak mengalami kerusakan maupun kehilangan nilai historisnya.
Kegiatan BIMTEK ARKEOLOGI 2026 merupakan bagian dari rangkaian besar program “Peradaban Kuno Lereng Selatan Gunung Hyang” yang digagas oleh Achmadana Syachrizal Muziburrohman Firdaus.
Program tersebut berfokus pada upaya pengkajian sejarah, pendokumentasian tinggalan budaya, serta penguatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian sejarah kawasan lereng selatan Gunung Hyang.
Melalui program tersebut, kawasan Badean dipandang memiliki posisi penting dalam kajian sejarah lokal Jember.
Berbagai temuan berupa batu-batu yang diduga memiliki nilai arkeologis, fragmen gerabah, hingga material berbahan bata kuno menunjukkan adanya indikasi aktivitas masyarakat masa lampau di wilayah tersebut.
Potensi inilah yang mendorong pentingnya dilakukan kegiatan edukasi dan penguatan kapasitas masyarakat sejak dini.
Tujuan utama kegiatan BIMTEK ARKEOLOGI 2026 adalah meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pelestarian Objek Diduga Cagar Budaya sebagai bagian dari identitas sejarah dan kebudayaan lokal.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan membangun kesadaran kolektif bahwa pelestarian sejarah tidak hanya menjadi tanggung jawab akademisi atau pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat sebagai pihak yang hidup berdampingan langsung dengan tinggalan sejarah tersebut.
Kegiatan ini juga diharapkan mampu membuka ruang penelitian lanjutan terhadap potensi sejarah di kawasan lereng selatan Gunung Hyang.
Dengan adanya pengkajian yang berkelanjutan, berbagai temuan yang selama ini belum terdokumentasi dapat diidentifikasi secara lebih ilmiah sehingga memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian sejarah dan arkeologi di Kabupaten Jember.
Di sisi lain, pengelolaan ODCB yang baik juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata edukasi dan budaya masyarakat.
Apabila dikelola secara tepat dan berkelanjutan, potensi sejarah di wilayah Badean dapat menjadi salah satu sumber penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan wisata berbasis sejarah dan budaya lokal.
Melalui kegiatan BIMTEK ARKEOLOGI 2026, diharapkan lahir kesadaran baru bahwa tinggalan sejarah bukan sekadar benda masa lalu, tetapi merupakan warisan pengetahuan yang memiliki nilai penting bagi generasi hari ini dan masa mendatang.
Desa Badean pun diharapkan mampu menjadi salah satu wilayah percontohan dalam upaya pelestarian sejarah berbasis masyarakat di Kabupaten Jember. (Red)