SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Siapa di sini yang masih rutin menyajikan susu kental manis (SKM) buat sarapan keluarga? Eits, mulai sekarang harus lebih hati-hati, ya. Soalnya, menurut pakar gizi dari IPB University, SKM itu sebenarnya bukan untuk dikonsumsi sebagai susu harian.
Faktanya, masih banyak keluarga di Indonesia yang menganggap SKM setara dengan susu segar atau susu UHT. Padahal, keduanya jelas beda jauh—terutama dari segi kandungan gula.
Manisnya Kebangetan
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dr. Karina Rahmadia Ekawidyani menjelaskan bahwa SKM dibuat dengan cara mengurangi kadar air susu, lalu menambahkan gula dalam jumlah besar—bahkan bisa mencapai 40–50 persen! Kebayang, kan, betapa manisnya?
Dalam satu porsi sekitar 3 sendok makan (30 gram), SKM mengandung kira-kira 15 gram gula. Sementara itu, batas konsumsi gula harian yang dianjurkan cuma 50 gram.
Artinya, kalau kamu kebanyakan nambah SKM ke minuman atau makanan, tanpa sadar kamu bisa langsung “ngegas” ke batas maksimal gula harian.
Bukan Pengganti Susu
Yang sering disalahpahami, SKM itu bukan pengganti susu biasa. Kandungan protein dan lemaknya lebih rendah, jadi nggak cukup buat memenuhi kebutuhan gizi harian—apalagi untuk anak-anak yang lagi masa tumbuh kembang.
“Kalau dijadikan susu minum utama, ada risiko kesehatan,” tegas Dr. Karina.
Tenang, bukan berarti SKM harus dihindari total. Tapi, penggunaannya perlu lebih bijak. Anggap saja SKM sebagai pemanis atau pelengkap rasa, bukan minuman utama.
Tips simpel dari pakar:
- Gunakan sendok takar, jangan langsung tuang dari kaleng
- Perhatikan takaran saji di kemasan
- Batasi konsumsi agar gula tetap terkontrol
Jadi, mulai sekarang jangan asal kasih SKM ke keluarga, ya. Boleh sih manis, tapi tetap harus sehat! (Red)













Komentar