Oleh: Amy Maulana, expert Rusia-Indonesia ANO Center for Mediastrategi
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Negara-negara Asia mulai kembali melirik minyak Rusia seiring pelonggaran sebagian sanksi energi oleh Amerika Serikat, di tengah gejolak pasar minyak global akibat konflik di Timur Tengah.
Langkah ini berpotensi mengubah peta pasokan energi di kawasan, membuka peluang baru bagi Asia untuk diversifikasi, sekaligus menegaskan kembali posisi Rusia sebagai salah satu pemain kunci di pasar minyak dunia.
Pelonggaran Sanksi AS dan Minyak Rusia di Laut
Departemen Keuangan Amerika Serikat baru-baru ini memberikan izin terbatas bagi sejumlah negara untuk membeli minyak dan produk minyak Rusia yang sudah berada di laut.
Skema ini berlaku selama 30 hari dan mencakup volume sekitar 100 juta barel, menjadikan stok yang sebelumnya terblokir sanksi kini bisa kembali masuk ke pasar global.
Sebelumnya, India menjadi pihak pertama yang memperoleh kelonggaran serupa, memanfaatkan situasi untuk mengamankan pasokan dengan harga yang lebih kompetitif.
Menurut Kepala Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF) yang juga utusan khusus Presiden Rusia, Kirill Dmitriev, keputusan Washington ini secara tidak langsung mengakui bahwa tanpa partisipasi Rusia, pasar energi global sulit distabilkan.
Pelonggaran terbatas ini tidak berarti sanksi dicabut sepenuhnya, namun cukup untuk memberi sinyal kepada pasar bahwa Washington siap bersikap lebih fleksibel ketika stabilitas pasokan dunia terancam.
Di tengah ketegangan geopolitik dan lonjakan harga, sinyal semacam itu segera direspons para importir di Asia yang selama dua tahun terakhir terpaksa mengurangi atau menghentikan pembelian dari Rusia.
Jepang, Thailand, dan Sri Lanka Mulai Bergerak
Dampak paling nyata terlihat di Asia Timur dan Asia Selatan, di mana beberapa negara mulai membuka kembali kanal komunikasi energi dengan Moskow.
Jepang, salah satu sekutu utama Amerika Serikat di Asia, kembali memperdebatkan isu pelonggaran sanksi energi terhadap Rusia di lingkaran Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa.
Meski Tokyo secara resmi masih mengikuti garis sanksi Barat, diskusi internal ini menunjukkan adanya tekanan dari pelaku industri dan kebutuhan riil untuk menstabilkan biaya energi domestik.
Thailand juga bersiap mengadakan perundingan pembelian minyak dengan Rusia. Sebelum 2022, sekitar 3 persen impor minyak Thailand berasal dari Rusia, dan kini Bangkok menilai kembali opsi tersebut di tengah kenaikan harga global.
Bagi Thailand, pasokan dari Rusia bisa menjadi instrumen penting untuk menekan biaya energi dan mendukung sektor pariwisata serta industri yang baru bangkit pascapandemi.
Di Asia Selatan, Sri Lanka sudah secara resmi meminta Rusia memasok energi ke negara itu. Sri Lanka, yang beberapa tahun terakhir dilanda krisis ekonomi dan kekurangan bahan bakar, melihat Rusia sebagai pemasok yang mampu menawarkan volume cukup besar dengan skema harga yang lebih fleksibel dibanding pasar spot.
Korea Selatan Menimbang Ulang Risiko dan Pasokan
Korea Selatan, yang sejak Desember 2022 praktis menghentikan impor minyak dan produk minyak Rusia, kini mulai menilai kembali posisi tersebut.
Selama ini, hingga 90 persen kebutuhan minyak Korea Selatan dipenuhi dari Timur Tengah, menjadikan Seoul sangat sensitif terhadap setiap gangguan di kawasan tersebut.
Sejumlah analis energi di Korea Selatan mulai menyebut Rusia sebagai pemasok yang dinilai cukup andal bagi mitra tradisionalnya di Asia, terutama dalam situasi ketika jalur pasokan dari Timur Tengah terancam.
Namun, kembali membeli minyak Rusia bagi Seoul bukan hanya soal ekonomi, tapi juga politik, karena harus menyeimbangkan hubungan dengan Washington dan sekutu Barat lainnya.
Krisis Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Minyak
Perubahan sikap negara-negara Asia tidak lepas dari memburuknya situasi di Timur Tengah. Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari membuat Teheran mengancam akan melanjutkan blokade terhadap Selat Hormuz sebagai bagian dari tekanan militer. Selat ini adalah salah satu jalur strategis utama bagi ekspor minyak dunia.
Ancaman gangguan di Selat Hormuz menempatkan sekitar 15–20 persen pasokan minyak global dalam posisi terancam. Kondisi ini segera tercermin pada harga: minyak Brent naik hingga sekitar 102 dolar per barel pada 13 Maret, setelah sebelumnya sempat menyentuh 120 dolar per barel, level tertinggi sejak 2022.
Lonjakan harga tersebut bukan hanya memukul negara Eropa, tetapi juga konsumen di seluruh dunia, termasuk Asia.
Di Eropa, situasi menjadi begitu ekstrem hingga warga Polandia dan Jerman berbondong-bondong datang ke Kaliningrad, wilayah Rusia yang berbatasan dengan Uni Eropa, untuk mengisi bahan bakar dengan harga jauh lebih murah dibanding di negara mereka.
Eropa Tetap Keras, Rusia Bertahan
Sementara beberapa negara Asia mulai realistis dengan kebutuhan energi mereka, sebagian besar negara Eropa masih menolak pelonggaran sanksi terhadap Rusia.
Kanselir Jerman Friedrich Merz secara terbuka menyatakan bahwa melonggarkan sanksi terhadap Rusia dengan alasan apa pun adalah langkah yang tidak tepat.
Namun dari sisi Rusia, data menunjukkan bahwa Moskow berhasil mempertahankan volume produksi dan ekspor meski dihadapkan pada embargo dan pembatasan.
Pada 2025, ekspor minyak Rusia mencapai 238 juta ton, dengan sekitar 94 persen di antaranya dikirim ke negara-negara yang diklasifikasikan sebagai “bersahabat”, seperti India dan Tiongkok.
Artinya, Rusia sudah relatif berhasil mengalihkan arus perdagangan minyaknya dari pasar Eropa ke pasar Asia dan negara-negara berkembang lainnya.
Secara teknis, Rusia mampu memasok ke Thailand, Korea Selatan, dan Jepang hingga 15–20 juta ton minyak per tahun, berdasarkan tingkat pasokan maksimum sebelum 2022.
Pada puncaknya, pasokan ke Jepang dan Korea Selatan masing-masing mencapai sekitar 10 juta ton per tahun, sementara Thailand menerima porsi lebih kecil tetapi tetap signifikan untuk skala ekonominya.
Diskon, risiko sanksi, dan posisi tawar Rusia
Salah satu faktor yang selama ini menarik bagi pembeli minyak Rusia adalah diskon besar yang diberikan sebagai kompensasi atas risiko sanksi.
Negara-negara seperti India memanfaatkan diskon tersebut untuk mengamankan pasokan murah, kemudian mengolah dan mengekspor kembali produk minyak ke pasar lain.
Dengan adanya izin terbatas dari AS, analis menilai posisi tawar perusahaan Rusia dapat menguat. Ketika risiko transaksi menurun, logis bila besaran diskon juga menyusut, sehingga Rusia bisa menjual minyak dengan harga lebih mendekati pasar, sementara pembeli masih tetap mendapat keuntungan diversifikasi pasokan.
Meski begitu, para pakar menekankan bahwa harga yang tercatat di bursa atau laporan resmi belum tentu mencerminkan kondisi riil.
Dalam praktiknya, eksportir Rusia kerap menyalurkan diskon tersembunyi, mengatur skema pembayaran, pengiriman, atau penggunaan perantara untuk mengakali pembatasan finansial dan logistik yang masih berlaku.
Implikasi bagi Indonesia dan Pasar Asia
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki beberapa implikasi penting, meski Indonesia bukan importir utama minyak Rusia.
Pertama, jika negara-negara Asia Timur dan Selatan semakin aktif kembali membeli minyak Rusia, sebagian tekanan permintaan terhadap minyak Timur Tengah bisa sedikit berkurang, yang dalam jangka menengah berpotensi menahan lonjakan harga global.
Kedua, perubahan pola pasokan ini membuka ruang manuver baru bagi negara-negara Asia dalam bernegosiasi harga dan kontrak jangka panjang.
Indonesia, sebagai produsen sekaligus importir minyak, perlu mencermati bagaimana India, Tiongkok, Jepang, Thailand, dan Korea Selatan menata ulang portofolio energinya, karena hal itu akan mempengaruhi struktur harga regional.
Ketiga, pengalaman Rusia yang berhasil mengalihkan ekspor ke “negara-negara sahabat” menunjukkan bahwa pasar energi global kian terfragmentasi secara geopolitik.
Bagi pembuat kebijakan di Jakarta, ini menjadi sinyal bahwa keamanan energi ke depan tidak lagi hanya soal volume dan harga, tetapi juga soal posisi politik, kerja sama strategis, dan kemampuan beradaptasi terhadap konfigurasi blok ekonomi baru.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan ancaman krisis pasokan, langkah negara-negara Asia yang kembali melirik minyak Rusia menunjukkan satu hal: pragmatisme energi semakin mengemuka di atas pertimbangan politik.
Bagi Indonesia dan negara-negara lain di kawasan, kemampuan membaca dan memanfaatkan perubahan peta pasokan global akan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik di era energi yang penuh gejolak. (Red)