SUARAMUDA.NET, KEBUMEN — Pariwisata bukan cuma soal tempat foto estetik dan healing tipis-tipis. Di Kebumen, sektor ini didorong naik level: berbasis nilai, identitas, dan keberlanjutan.
Hal itu ditegaskan Anggota MPR RI Fraksi NasDem, Amelia Anggraini, dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bertema “Empat Pilar Kebangsaan dan Pariwisata Kebumen”, Rabu (04/02/2026).
Empat Pilar Bukan Sekadar Materi, Tapi Aksi
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam forum tersebut, Amelia mengajak peserta kembali memahami dan menghidupkan Empat Pilar Kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Menurutnya, empat pilar itu tidak boleh berhenti di ruang seminar. Nilainya harus terasa dalam praktik pembangunan daerah — termasuk di sektor pariwisata.
“Pariwisata hari ini bukan sekadar destinasi rekreasi. Ia bicara tentang identitas, nilai, dan keberlanjutan,” tegasnya.
JFR: Contoh Nyata Wisata Berbasis Kebersamaan
Amelia mencontohkan JLEGI FUN RIVER (JFR) yang dikembangkan Pokdarwis Saka Bumi Jlegiwinangun sebagai model konkret wisata berbasis masyarakat.
Konsepnya? Ecotourism alias wisata ramah lingkungan yang bukan cuma jual pemandangan, tapi juga hiburan, edukasi dan pemberdayaan ekonomi warga.
Di sini, nilai persatuan Indonesia menyatu dengan pelestarian sungai dan penguatan ekonomi lokal.
“Persatuan itu nyata ketika masyarakat merasa memiliki. Pemerintah desa, pengelola wisata, petani, UMKM, pemuda — semua duduk bareng merancang dan mengelola. Di situ sila ketiga Pancasila benar-benar hidup,” jelasnya.
Wisata Sungai: Produktif Sekaligus Simbol Kebersamaan
Menurut Amelia, wisata berbasis sungai bukan hanya objek rekreasi, tapi juga ruang interaksi sosial. Warga desa dan wisatawan dari berbagai daerah bertemu, berbaur, dan saling belajar. Dari situ, nilai keadilan sosial ikut menguat.
“Wisata tidak boleh hanya menguntungkan segelintir pihak. Petani, pelaku UMKM, pemuda desa — semua harus dapat ruang. Inilah makna keadilan sosial,” tegasnya.
Distribusi ekonomi yang adil dan keberlanjutan lingkungan, lanjutnya, adalah kunci agar manfaat pariwisata bisa dirasakan lintas generasi.
Persatuan dan Keadilan = Pariwisata Tangguh
Amelia menekankan, persatuan dan keadilan sosial adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.
Tanpa persatuan, maka pemberdayaan sulit jalan.
Begitu pula tanpa keadilan, persatuan juga bisa rapuh karena ketimpangan.
Solusinya? Mulai dari hal sederhana, yakni jaga semangat gotong royong, merawat lingkungan, hingga menjadikan pariwisata sebagai ruang aktualisasi nilai kebangsaan
“Kalau nilai kebangsaan hidup dalam praktik, pariwisata bukan cuma maju — tapi juga bermartabat,” pungkasnya. (Red)














Komentar