‘Sengkolo Satu Suro’: Horor Layar Lebar dan Politik Ketakutan dalam Imajinasi Kolektif

Cover film Sengkolo Petaka Satu Suro. (dok istimewa)

Oleh: Nashrul Mu’minin, penulis, tinggal di Jogja

SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Film ‘Sengkolo: Petaka Satu Suro‘ bukan sekadar tontonan horor yang mengeksploitasi mitos Jawa, melainkan cermin bagaimana budaya, ketakutan, dan imajinasi kolektif masyarakat diproduksi ulang dalam industri hiburan.

Di balik narasi mistis tentang malam satu Suro, film ini menyimpan pesan yang lebih kompleks: bagaimana tradisi, trauma, dan ketakutan sosial dikemas menjadi komoditas yang laris di pasar budaya populer.

Horor dalam film ini tidak berdiri sendiri, tetapi lahir dari perjumpaan antara mitos, sejarah, dan realitas sosial yang terus hidup dalam kesadaran masyarakat.

Malam satu Suro dalam tradisi Jawa selama ini dipahami sebagai ruang sakral yang sarat makna spiritual dan simbolik. Ia bukan hanya soal takut pada yang gaib, tetapi tentang kesadaran manusia terhadap batas-batas dirinya, relasi dengan alam, dan hubungan dengan sejarah.

Namun, ketika makna tersebut dihadirkan dalam film horor, ia sering kali direduksi menjadi sekadar sumber sensasi. Tradisi yang seharusnya mengandung nilai reflektif justru berubah menjadi alat untuk memproduksi ketegangan dan keuntungan ekonomi.

Film ini juga menunjukkan bagaimana industri perfilman memanfaatkan ketakutan sebagai strategi naratif. Ketakutan bukan hanya emosi personal, tetapi konstruksi sosial yang bisa dibentuk, diarahkan, dan dikapitalisasi.

Penonton tidak hanya diajak takut, tetapi juga diajak mempercayai bahwa mitos tertentu adalah sesuatu yang tak terelakkan. Di sinilah horor menjadi bahasa baru untuk mengukuhkan imajinasi kolektif tentang “yang gelap” dan “yang berbahaya”.

Di balik itu, ‘Sengkolo: Petaka Satu Suro‘ memperlihatkan bagaimana masyarakat modern masih bergantung pada narasi mistis untuk menjelaskan hal-hal yang tidak bisa dipahami secara rasional.

Ketika logika modern gagal memberi jawaban atas kegelisahan sosial, mitos kembali menjadi tempat berlindung. Film ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa modernitas tidak sepenuhnya menghapus mitos, tetapi justru hidup berdampingan dengannya.

Namun, persoalannya tidak berhenti pada soal budaya dan mitos. Film ini juga berpotensi memperkuat stigma terhadap tradisi lokal. Ketika satu Suro selalu digambarkan sebagai malam petaka, maka tradisi Jawa direduksi menjadi identik dengan kegelapan dan bahaya.

Padahal, tradisi tersebut memiliki dimensi filosofis yang dalam, seperti laku spiritual, introspeksi diri, dan pencarian makna hidup. Reduksi makna ini adalah bentuk kekerasan simbolik terhadap kebudayaan.

Lebih jauh, film ini bisa dibaca sebagai metafora ketakutan sosial yang lebih luas. Horor dalam layar lebar sering kali menjadi representasi dari ketakutan masyarakat terhadap perubahan, ketidakpastian, dan krisis identitas.

Dalam konteks ini, satu Suro bukan hanya malam mistis, tetapi simbol dari kegelisahan manusia menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Industri budaya populer memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap tradisi.

Ketika film horor menjadi sumber utama pengetahuan tentang budaya lokal, maka persepsi publik akan didominasi oleh narasi yang sensasional. Akibatnya, generasi muda lebih mengenal tradisi melalui film horor daripada melalui pemahaman sejarah dan filsafat budaya.

Fenomena ini menunjukkan adanya krisis literasi budaya. Masyarakat semakin akrab dengan representasi populer daripada makna asli tradisi.

Film seperti Sengkolo tidak sepenuhnya salah, tetapi ia menjadi problematis ketika tidak diimbangi dengan narasi yang lebih kritis dan edukatif. Dalam kondisi ini, horor bukan lagi sekadar genre, tetapi instrumen yang membentuk kesadaran budaya.

Di sisi lain, film horor juga bisa dilihat sebagai bentuk resistensi terhadap rasionalisme modern yang terlalu kering. Ia menghadirkan ruang bagi hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh logika ilmiah.

Namun, resistensi ini sering kali kehilangan arah ketika hanya digunakan untuk mengejar sensasi dan keuntungan. Horor yang seharusnya menjadi ruang refleksi justru berubah menjadi ruang eksploitasi ketakutan.

Film ‘Sengkolo: Petaka Satu Suro‘ juga mengingatkan kita bahwa ketakutan adalah bahasa yang paling mudah dipahami manusia.

Ketika ketakutan diproduksi secara masif melalui film, media, dan narasi populer, maka masyarakat perlahan terbiasa hidup dalam atmosfer kecemasan. Dalam konteks ini, horor tidak hanya menghibur, tetapi juga mendisiplinkan imajinasi.

Jika ditarik lebih jauh, film ini bisa dibaca sebagai kritik tidak langsung terhadap kondisi sosial. Ketakutan terhadap yang gaib sering kali menutupi ketakutan yang lebih nyata: ketidakadilan sosial, krisis ekonomi, dan kehilangan makna hidup. Horor menjadi pelarian dari problem struktural yang tidak terselesaikan.

Pertanyaannya, apakah film horor seperti Sengkolo hanya memperkuat ketakutan, atau justru membuka ruang refleksi? Jawabannya bergantung pada cara kita membaca film tersebut.

Jika kita hanya melihatnya sebagai tontonan, maka ia akan berhenti pada sensasi. Tetapi jika kita membacanya secara kritis, film ini bisa menjadi pintu masuk untuk memahami relasi antara budaya, kekuasaan, dan imajinasi sosial.

Di sinilah pentingnya sikap kritis terhadap budaya populer. Masyarakat tidak boleh menjadi konsumen pasif yang hanya menerima narasi yang disajikan layar lebar.

Kita perlu bertanya: siapa yang diuntungkan dari narasi ketakutan ini? Nilai apa yang diperkuat, dan makna apa yang dihilangkan?

Pada akhirnya, ‘Sengkolo: Petaka Satu Suro‘ bukan hanya film horor, tetapi cermin dari cara masyarakat memaknai tradisi, ketakutan, dan modernitas.

Ia menunjukkan bahwa horor tidak pernah netral; ia selalu membawa ideologi, kepentingan, dan konstruksi makna tertentu. Ketika tradisi dijadikan komoditas horor, maka yang hilang bukan hanya makna budaya, tetapi juga kesadaran kritis kita sebagai masyarakat.

Maka, membaca film horor secara kritis adalah bentuk perlawanan terhadap banalitas budaya populer. Ketika kita mampu melihat di balik layar, kita tidak lagi sekadar takut pada mitos, tetapi mulai memahami bagaimana ketakutan itu diproduksi.

Dan di sanalah, horor tidak lagi menjadi petaka, melainkan cermin bagi kesadaran manusia tentang dirinya sendiri dan kebudayaannya. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like