SUARAMUDA.NET, MOSKOW — Hubungan Rusia dengan negara-negara ASEAN menunjukkan dinamika yang semakin kompleks dan beragam. Seorang pakar menilai bahwa pendekatan “satu ukuran untuk semua” tidak akan efektif di kawasan yang memiliki keragaman kepentingan nasional ini.
Di tengah perubahan tatanan geopolitik global dan semakin bergesernya pusat pertumbuhan ekonomi dunia ke Asia, Rusia terus meningkatkan keterlibatannya dengan negara-negara Asia Tenggara.
Bagi Moskow, ASEAN tidak hanya dipandang sebagai pasar dengan lebih dari 680 juta penduduk dan nilai ekonomi yang melampaui 4 triliun dolar AS, tetapi juga sebagai kawasan strategis yang memiliki posisi penting dalam rantai pasok global, keamanan energi, serta keseimbangan politik di kawasan Indo-Pasifik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Amy Maulana, Pakar Hubungan Rusia–Indonesia ANO Center Mediastrategi, hubungan Rusia dengan ASEAN dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang semakin dinamis.
Hal itu terlihat dari meningkatnya intensitas kunjungan tingkat tinggi, penyelenggaraan KTT Peringatan ASEAN–Rusia 2026 di Kazan, hingga disepakatinya Rencana Aksi Komprehensif ASEAN–Rusia 2026–2030 sebagai peta jalan baru kerja sama kedua belah pihak.
Namun demikian, Amy menilai bahwa hubungan Rusia dengan ASEAN tidak dapat dipandang sebagai satu kesatuan yang homogen. Setiap negara anggota memiliki karakteristik hubungan yang berbeda dengan Rusia, dipengaruhi oleh sejarah hubungan bilateral, struktur ekonomi, kebutuhan pembangunan, hingga orientasi politik luar negeri masing-masing.
“Setiap negara ASEAN memiliki kepentingan nasional yang berbeda. Karena itu, pendekatan Rusia terhadap kawasan ini tidak bisa menggunakan satu pola yang sama. Strategi yang berhasil di Vietnam belum tentu akan berhasil di Singapura ataupun Filipina,” jelas Amy.
Menurutnya, Vietnam masih menjadi mitra strategis terdekat Rusia di Asia Tenggara. Hubungan kedua negara yang telah berlangsung sejak era Uni Soviet berkembang menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif, dengan fokus pada energi, minyak dan gas, pendidikan, teknologi, hingga proyek pembangkit listrik tenaga nuklir.
Kedua negara bahkan menargetkan peningkatan perdagangan bilateral hingga 15 miliar dolar AS, menunjukkan besarnya potensi hubungan ekonomi di masa depan.
Sementara itu, Indonesia memperlihatkan dinamika yang berbeda. Setelah Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin mendeklarasikan Kemitraan Strategis pada 2025, hubungan bilateral bergeser dari dominasi kerja sama pertahanan menuju sektor ekonomi, investasi, hilirisasi industri, energi, digitalisasi, dan perdagangan.
Nilai perdagangan kedua negara yang telah mencapai sekitar 5 miliar dolar AS pada akhir 2025 menjadi indikator semakin kuatnya fondasi ekonomi hubungan Indonesia–Rusia.
Malaysia, lanjut Amy, menerapkan pendekatan yang sangat pragmatis. Negeri jiran tersebut memanfaatkan hubungan dengan Rusia untuk memperkuat keamanan energi, mengembangkan industri halal, serta memperluas kerja sama di sektor semikonduktor dan elektronik.
Bahkan Rusia secara terbuka menyebut Malaysia sebagai salah satu mitra penting dalam rantai pasok semikonduktor yang dibutuhkan industri mereka.
Thailand juga memiliki karakter hubungan yang unik. Dengan sejarah hubungan diplomatik yang telah berlangsung sejak 1897, Bangkok lebih menitikberatkan kerja sama pada sektor pariwisata, perdagangan pangan, energi, serta penjajakan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antara Thailand dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU).
Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama kedua negara juga mulai berkembang ke bidang kecerdasan buatan (AI), ekonomi digital, dan keamanan siber.
Di Filipina, hubungan dengan Rusia memasuki fase baru setelah peringatan 50 tahun hubungan diplomatik pada 2026. Amy menilai, pemerintah Presiden Ferdinand Marcos Jr. mulai menunjukkan pendekatan yang lebih terbuka terhadap kerja sama ekonomi dengan Rusia.
Hal ini terutama dalam bidang ketahanan energi, ketahanan pangan, pupuk, hingga peluang kerja sama di sektor energi nuklir sipil dan teknologi antariksa.
Sementara itu, Brunei Darussalam lebih memfokuskan hubungan dengan Rusia pada sektor energi dan petrokimia. Laos mempertahankan kerja sama yang erat di bidang pendidikan, energi, dan pertambangan.
Kamboja mengembangkan hubungan melalui perdagangan, pertanian, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Adapun Myanmar menjadi salah satu mitra Rusia yang paling aktif dalam pengembangan proyek energi strategis, termasuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir modular bersama Rosatom.
Menurut Amy, keragaman karakter hubungan tersebut justru menunjukkan bahwa ASEAN merupakan kawasan yang sangat kompleks. Tidak ada satu pendekatan yang dapat diterapkan secara seragam kepada seluruh negara anggota.
Di sisi lain, peluang Rusia di kawasan ASEAN masih sangat besar. Kawasan ini diperkirakan akan tetap menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi dunia dalam dua dekade mendatang.
Kebutuhan negara-negara ASEAN terhadap keamanan energi, ketahanan pangan, pupuk, teknologi nuklir sipil, kecerdasan buatan, transformasi digital, hingga pengembangan infrastruktur dinilai sejalan dengan keunggulan yang dimiliki Rusia di berbagai sektor tersebut.
“Rusia memiliki kompetensi yang kuat di bidang energi, teknologi nuklir, ruang angkasa, metalurgi, pertanian, hingga pendidikan tinggi. Semua itu merupakan sektor yang dibutuhkan banyak negara ASEAN dalam proses industrialisasi dan transformasi ekonomi mereka,” ujar Amy.
Meski demikian, Amy mengingatkan bahwa keberhasilan Rusia di Asia Tenggara tidak hanya bergantung pada besarnya investasi atau proyek yang ditawarkan. Faktor geopolitik tetap menjadi variabel yang sangat menentukan.
Menurutnya, hampir seluruh negara ASEAN menerapkan kebijakan luar negeri yang mengedepankan kepentingan nasional, keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan besar, serta menjaga otonomi strategis.
Sebagian besar negara di kawasan memilih untuk tidak terjebak dalam rivalitas geopolitik antara Rusia, Amerika Serikat, Tiongkok, maupun negara-negara Barat.
Singapura, misalnya, tetap mempertahankan sanksi terhadap Rusia terkait konflik Ukraina, namun tetap aktif dalam berbagai mekanisme kerja sama ASEAN–Rusia.
Filipina tetap menjadikan Amerika Serikat sebagai sekutu utama di bidang keamanan, tetapi secara bersamaan membuka peluang kerja sama ekonomi dengan Rusia.
Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Brunei Darussalam, Laos, dan Kamboja juga menjalankan kebijakan luar negeri yang menempatkan kepentingan ekonomi nasional sebagai prioritas, sambil menjaga hubungan baik dengan seluruh mitra strategis.
Amy menilai kondisi tersebut perlu dipahami secara utuh oleh Rusia apabila ingin memperluas pengaruh ekonominya di Asia Tenggara.
“Rusia perlu melihat ASEAN sebagai kawasan yang memiliki keragaman kepentingan. Negara-negara ASEAN pada dasarnya tidak ingin dipaksa memilih antara Rusia, Amerika Serikat, Tiongkok, maupun Barat. Mereka lebih mengutamakan kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan nasional tanpa mengorbankan kebijakan luar negeri yang independen,” katanya.
Karena itu, menurut Amy, strategi Rusia ke depan sebaiknya lebih menekankan pendekatan yang fleksibel, menghormati sentralitas ASEAN, menawarkan proyek-proyek yang saling menguntungkan, serta membangun kemitraan jangka panjang yang didasarkan pada kebutuhan masing-masing negara.
Ia menyimpulkan bahwa masa depan hubungan Rusia dengan ASEAN akan sangat ditentukan oleh kemampuan Moskow memahami karakter politik, ekonomi, dan geopolitik setiap negara anggota.
Dengan pendekatan yang adaptif dan menghormati kepentingan nasional negara-negara ASEAN, Rusia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu mitra strategis utama kawasan Asia Tenggara pada dekade mendatang. (Red)













Komentar