76 Tahun Indonesia-Rusia dan 35 Tahun ASEAN-Rusia: Perkemahan Pemuda di Leningrad Jadi Simbol Diplomasi Kerakyatan

Perkemahan lintas negara di kawasan konservasi Oblast Leningrad memadukan edukasi lingkungan, kuliner Nusantara, dan diplomasi pemuda untuk mempererat persahabatan Indonesia, Rusia, dan ASEAN.

- Penulis

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, MOSKOW — Kawasan Konservasi Alam Vyborgskiy, Oblast Leningrad (23/7/2026) — Semenanjung Kiperort di pesisir Teluk Finlandia menjadi saksi perpaduan unik antara ekologi Rusia dan kuliner Nusantara dalam PERMIRA Summer Camp 2026.

Selama 19–21 Juli, kawasan lindung dengan hutan taiga asli, gumuk pasir, dan singkapan batuan purba ini menjelma menjadi ruang belajar, memasak, dan bertukar budaya bagi 60 pemuda dari Indonesia, Rusia, Vietnam, Kamboja, dan Myanmar.

Tema “Kuliner Nusantara: Pelajaran dari Alam dan Persahabatan Bangsa-Bangsa” dipilih untuk menyatukan dua misi besar: edukasi lingkungan dan gastrodiplomasi. Inisiatif PERMIRA St. Petersburg bersama Perhimpunan Konservasi Alam Rusia ini mendapat sambutan hangat dari Pemerintah Oblast Leningrad.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fyodor Stulov, Ketua Komite Sumber Daya Alam, menyatakan bahwa kawasan konservasi tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelestarian keanekaragaman hayati, tetapi juga ruang hidup bagi edukasi lingkungan, dialog internasional, dan tumbuhnya inisiatif kepemudaan.

“Ketika anak-anak muda dari berbagai negara berkumpul dan belajar bersama di tengah kawasan lindung, mereka tidak sekadar mengenal alam—mereka membangun ikatan personal dengannya,” ujarnya.

Ramila Agaeva, Ketua Komite Pengawasan Lingkungan Hidup, menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam menanamkan kesadaran ekologis.

“Kami percaya bahwa melalui kegiatan di alam terbuka seperti perkemahan ini, kesadaran ekologis tidak hanya diajarkan, tetapi dialami langsung—dan itulah cara paling efektif untuk menanamkan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar,” tuturnya.

Direktur Direktorat Kawasan Konservasi Alam Aleksandr Siluyanov menyiapkan sesi penjelajahan khusus untuk memperlihatkan keunikan flora, fauna, dan lanskap kawasan.

Baca Juga :  Hungaria di Bawah Tekanan UE: Pemerintah Mencari Jalan Keluar dalam Isu Strategis

Hari pertama perkemahan sepenuhnya didedikasikan untuk pelestarian alam. Peserta mengikuti penjelajahan kawasan konservasi bersama Nadezhda Murashova, mempelajari keanekaragaman hayati hutan taiga, karakteristik ekosistemnya, serta perbandingannya dengan hutan tropis.

Perhatian khusus diberikan pada keberadaan berbagai spesies burung migran yang melintasi kawasan sebagai bagian dari jalur migrasi internasional.

Peserta juga mempelajari sejarah geologi kawasan, termasuk perubahan permukaan laut pada masa mencairnya lapisan es (glasial), yang meninggalkan jejak berupa struktur tanah dan formasi batuan yang masih dapat diamati hingga saat ini.

Masterclass dari bahan-bahan alam dipandu oleh tim Perhimpunan Konservasi Alam Rusia, dan hasil karyanya disumbangkan ke panti asuhan anak.

Peserta juga mengumpulkan buah pinus sebagai bahan alami alternatif untuk api unggun, mempraktikkan prinsip keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Hari kedua dan ketiga memperkuat pesan ekologi melalui pendekatan kuliner. Enam menu fusion yang disajikan—Ayam Goreng Lalapan dengan Smetana dan Sambal Dabu-Dabu, Nasi Goreng Kampung, Sate Taichan ala Shashlik, Bubur Ayam dengan dill dan parsley, Cekodok versi ponchiki, serta Dadar Gulung ala blini—menggunakan bahan-bahan yang tersedia di Oblast Leningrad, membuktikan bahwa kuliner lintas budaya bisa lahir dari kearifan lokal.

Dialog dengan inspektur kawasan konservasi Stanislav Surelo pada hari ketiga menjadi sesi penting tentang metodologi pelestarian wilayah, penjagaan sampah, habitat asli flora dan fauna, serta asal-usul dan kualitas air.

Program kapsul waktu—pesan dan kesan yang dibisikkan ke kamera—akan dibagikan kepada peserta PERMIRA Winter Camp 2027.

Pada upacara penutupan, tim terbaik dan peserta teraktif menerima penghargaan. Juara pertama tim Nasi Goreng, juara kedua tim Soto Kudus, dan juara ketiga tim Ayam Pop. Peserta teraktif: Riskafiani, Varvara Omelchenko, dan Piseth Nhim.

Baca Juga :  Israel Emang Jahat Banget: Tembaki Paramedis dan Dikubur Massal Hingga Serang Gaza di Hari H Idul Fitri

Natalia Kalyagina, Wakil Ketua Perhimpunan Konservasi Alam Rusia sekaligus penasihat Gubernur Oblast Leningrad bidang lingkungan hidup, menyoroti peran aktif masyarakat Indonesia di St. Petersburg dalam berbagai kegiatan edukasi lingkungan.

“Masyarakat Indonesia di St. Petersburg merupakan salah satu yang paling aktif dan dapat diandalkan dalam beragam kegiatan edukasi untuk menjaga lingkungan hidup,” ucapnya.

Para peserta meninggalkan perkemahan dengan pemahaman baru tentang pentingnya menjaga alam. Aldo Ovriawan menyebut momen paling berkesan adalah saat memasak di alam terbuka.

Riskafiani, penasihat Formula BRICS dan perwakilan Indonesia di SPIEF ke-29, berharap ikatan persahabatan yang terjalin melampaui segala batas. Elizaveta Shurina menyebut pengalaman ini sebagai “uji nyata ketahanan fisik dan mental”.

Ketua panitia Alfini Riswika menyimpulkan bahwa PERMIRA Summer Camp 2026 membuktikan bahwa kuliner Nusantara dan kebersamaan di alam terbuka mampu menjadi jembatan yang ampuh menyatukan pemuda Indonesia, Rusia, dan ASEAN.

Teguh Imanullah, Ketua Divisi Sponsorship, berharap kegiatan ini dapat menjadi rutinitas tahunan dan mendapatkan dukungan lebih luas.

PERMIRA Summer Camp 2026 menjadi pengingat bahwa masa depan alam berada di tangan generasi muda—dan ketika mereka belajar bersama di tengah kawasan lindung, mereka tidak hanya menjaga bumi, tetapi juga membangun jembatan persahabatan yang akan bertahan seumur hidup. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Prabowo di Rusia: Samudra Pasifik Penghubung, Indonesia Tegaskan Posisi Non-Blok
Berita ini 72 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Rabu, 9 September 2026 - 07:53 WIB

Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB