Negara dan Feminisme Institusional: Ketika Gender Mainstreaming Hanya Formalitas

- Penulis

Kamis, 27 November 2025 - 20:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Fathiyah Mufarihah, Irsha Dyah dan Khansa Diva*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG —Pengarusutamaan gender sudah lama menjadi strategi pemerintah untuk memastikan perempuan dan laki-laki mendapat manfaat pembangunan secara setara.

Secara konsep, kebijakan ini mengharuskan setiap tahap perencanaan dan pelaksanaan program memperhitungkan kebutuhan semua kelompok secara adil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun dalam praktiknya, banyak lembaga masih menjalankannya sebagai formalitas. Dokumen dan laporan dibuat, tetapi belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi perubahan nyata. (Karimah & Susanti, 2022; Larashati, 2022).

Kesenjangan gender tetap terlihat di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga ekonomi dan dunia kerja.

Ketimpangan tersebut berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi dan mempersempit ruang perempuan dalam partisipasi publik (Nuraini et al., 2024; Sitorus, 2021). Artinya, meski prosedur sudah berjalan, kondisi di lapangan belum banyak berubah.

Penelitian mengenai penerapan pengarusutamaan gender di Indonesia menunjukkan bahwa hambatan struktural menjadi tantangan utama.

Analisis terhadap praktik PUG sejak tahun 2000 memperlihatkan bahwa integrasi perspektif gender dalam perencanaan dan penganggaran sering mandek karena lemahnya pelembagaan dan minimnya dukungan kelembagaan di pusat maupun daerah (Ejournal Nusantara Global).

Kajian di tingkat lokal juga mengonfirmasi bahwa komitmen politik rendah, kapasitas teknis terbatas, serta kultur birokrasi yang masih patriarkal membuat kebijakan hanya berhenti di dokumen, bukan tindakan konkret (transformative.ub.ac.id).

Temuan-temuan ini sejalan dengan kerangka Feminist Institutionalism yang menekankan pentingnya gender machinery yang memiliki posisi kuat, kewenangan jelas, dan sumber daya memadai. Tanpa itu, PUG tidak akan menjadi kekuatan struktural untuk mendorong perubahan.

Baca Juga :  Green Accounting: Transparansi Lingkungan untuk Mendorong Keberlanjutan

Dalam birokrasi sendiri, perempuan memang hadir, tetapi keterwakilan mereka mengecil di level pengambil keputusan akibat hambatan karier, beban ganda, dan budaya organisasi yang maskulin.

Studi di Surabaya menemukan representasi perempuan tinggi pada posisi staf, namun menurun drastis pada jabatan struktural karena proses promosi yang belum responsif gender

Kondisi serupa terlihat pada capaian pembangunan: studi Anjellika dan Lestarika (2024) menunjukkan stagnasi Indeks Pembangunan Gender di sejumlah daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Riau, sekalipun kerangka regulasi PUG semakin lengkap (Badan Pusat Statistik, 2021).

Di tingkat nasional, posisi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dinilai belum cukup kuat untuk menjalankan fungsi national women’s machinery. Keterbatasan anggaran dan mandat membuat koordinasi lintas sektor tidak berjalan optimal.

Dampaknya, instrumen seperti Gender Analysis Pathway dan Gender Budget Statement sering hanya menjadi angka dan laporan tanpa evaluasi menyeluruh terhadap kebutuhan kelompok rentan.

Baca Juga :  Bahasa yang Berubah, Budaya yang Bertahan

Agar PUG tidak lagi menjadi rutinitas administratif, pemerintah perlu memperkuat lembaga penggeraknya dengan dukungan anggaran dan posisi yang lebih strategis.

Integrasi analisis gender harus diwajibkan sejak tahap perencanaan hingga evaluasi program. Reformasi promosi jabatan juga penting untuk membuka jalan bagi perempuan dalam pengambilan keputusan.

Namun upaya ini tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Perguruan tinggi perlu memperkuat kapasitas analisis gender melalui riset dan pendidikan publik.

Organisasi masyarakat sipil dan komunitas lokal dapat menjadi pengawas independen dan memastikan suara akar rumput terdengar. Dunia usaha juga bisa mempercepat perubahan melalui praktik kerja yang inklusif dan adil.

Pengarusutamaan gender adalah strategi untuk menghadirkan pembangunan yang benar-benar dirasakan semua orang. Selama isu ini hanya dilihat sebagai kewajiban administratif, ketimpangan akan terus berulang.

Menempatkan analisis gender sebagai bagian inti dari kebijakan publik adalah langkah penting agar kesetaraan tidak hanya menjadi janji, tetapi kenyataan yang hadir dalam kehidupan perempuan di seluruh Indonesia. (Red)

*) Penulis: Fathiyah Mufarihah, Irsha Dyah dan Khansa Diva, mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Brawijaya

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Guru Dituntut Profesional, Haknya Wajib Dibuktikan: Sorotan Kesejahteraan Pendidik dan Harapan di Ambang Pidato Kenegaraan 14 Agustus
Dilema Perkuliahan ‘Hybrid’: Ketika Efisiensi Anggaran Kampus Mengorbankan Hak Belajar Mahasiswa
Ilusi Kemajuan di Balik E-Parkir Berlangganan Kota Langsa
Paradoks Fresh Graduate: Ketika Magang Menjadi Syarat Tak Tertulis Dunia Kerja
Mengapa Hukum Terlihat Berbeda Wajah? Sebuah Refleksi atas Keadilan di Indonesia
Mengapa Publik Lebih Cepat Menghakimi Pencuri Ayam daripada Koruptor?
Apakah Indonesia Membutuhkan Universitas Baru?
Mewaspadai Arah Kepemimpinan PBNU, Demi Menjaga Rumah Besar Kaum Nahdliyin
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 20:20 WIB

Guru Dituntut Profesional, Haknya Wajib Dibuktikan: Sorotan Kesejahteraan Pendidik dan Harapan di Ambang Pidato Kenegaraan 14 Agustus

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:57 WIB

Dilema Perkuliahan ‘Hybrid’: Ketika Efisiensi Anggaran Kampus Mengorbankan Hak Belajar Mahasiswa

Minggu, 9 Agustus 2026 - 16:59 WIB

Ilusi Kemajuan di Balik E-Parkir Berlangganan Kota Langsa

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:31 WIB

Paradoks Fresh Graduate: Ketika Magang Menjadi Syarat Tak Tertulis Dunia Kerja

Rabu, 29 Juli 2026 - 07:55 WIB

Mengapa Hukum Terlihat Berbeda Wajah? Sebuah Refleksi atas Keadilan di Indonesia

Berita Terbaru

KILAS GLOBAL

Ratusan Diaspora Indonesia di Tunisia Semarakkan HUT RI ke-81

Minggu, 16 Agu 2026 - 13:10 WIB