Perut Kosong Bikin Lapar, Otak Kosong Bikin Bangsa Celaka

- Penulis

Jumat, 12 September 2025 - 09:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ali Achmadi*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Perut adalah organ yang jujur. Begitu isinya kosong, ia langsung menjerit, merengek, bahkan bisa bikin kepala pusing tujuh keliling. Kita pun segera tahu: saatnya makan.

Namun sayangnya, otak tidak sepolos itu. Ia bisa kosong melompong, tapi tetap diam membisu, seolah-olah baik-baik saja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mungkin itu sebabnya banyak orang yang jalannya gagah, bajunya rapi, gadget-nya terbaru, tapi isi kepalanya sudah kadaluarsa.

Perut pejabat kita sering terlihat aman: buncit, makmur, bahkan kadang lebih cepat membesar daripada utang negara yang ditanggung rakyatnya. Perut mereka jujur sekali, selalu tampak penuh. Tapi otak? Nah, itu lain cerita.

Otak tidak pernah memberi alarm ketika kosong. Akibatnya, kita menyaksikan kebijakan aneh lahir tiap minggu.

Pajak naik tanpa alasan jelas, utang menumpuk dilabeli “investasi masa depan, dan anggaran habis entah ke mana tapi disebut demi rakyat. Kalau saja otak bisa bunyi “krucuk-krucuk”, mungkin rapat DPR tidak akan sepanjang itu.

Baca Juga :  Cegah Impulsive Buying Melalui Pencatatan Pengeluaran Harian

Baru lima menit, sudah terdengar “kosong, kosong, kosong” dari setengah ruangan. Perut pejabat bisa diisi nasi kotak saat rapat, tapi otak kosong mereka tidak pernah ada yang berani menegur.

Padahal dampaknya jauh lebih berbahaya: rakyat jadi korban. Bayangkan, orang yang perutnya kosong hanya mengeluh lapar, tapi orang yang otaknya kosong bisa mengeluarkan kebijakan yang bikin berjuta-juta perut lapar.

Bayangkan kalau otak bisa protes seperti perut. Mungkin di ruang rapat kita akan mendengar bunyi “dug dug dug” dari kepala atasan saat ia salah strategi.

Atau di ruang kelas, siswa yang mencontek akan ketahuan karena kepalanya bergetar keras, tanda “low battery”.

Media sosial pun akan lebih tenang, karena begitu ada yang asal berkomentar, kepalanya langsung berbunyi seperti alarm kebakaran: “Kosong! Kosong! Kosong!” Tapi yang ada justru percaya diri berlebihan, sok tahu, dan merasa paling pintar dalam setiap forum.

Sayangnya, dunia tidak sesempurna itu. Kita hidup di zaman di mana perut kenyang bisa menutupi otak yang lapar. Di mana gelar akademik dianggap jaminan bahwa otak penuh, padahal bisa saja yang penuh hanyalah lembaran ijazah.

Baca Juga :  Indonesia dan Mesin Pemiskinan Bernama Pembangunan

Maka berhati-hatilah. Perut memang mudah ditipu dengan mie instan, tapi otak butuh lebih dari sekadar “sekolah instan yang sebulan hanya masuk sekali atau informasi instan dari TikTok, gosip warung kopi, atau thread konspirasi. Sebab kalau perut kosong hanya bikin lapar, tapi otak kosong bisa bikin bangsa tersesat.

Mungkin sudah waktunya kita menciptakan teknologi baru: Brain Detector. Alat yang bisa berbunyi saat seseorang bicara tanpa isi.

Bayangkan jika dipasang di gedung DPR atau kantor kementerian, suara alarmnya bisa menyaingi konser musik.

Sampai hari itu tiba, kita hanya bisa berharap: semoga para pemimpin negeri ini sadar, bahwa otak yang kosong jauh lebih berbahaya daripada perut yang lapar. (Red)

Ali Achmadi, Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Masalah Sosial, Tinggal di Pati

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?
Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:50 WIB

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB