Balada Pati: Ketika Bupati Mengajak Rakyat ‘Gathering’

- Penulis

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 18:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Pati Sudewo (dok.istimewa)

Bupati Pati Sudewo (dok.istimewa)

Oleh: Mansurni Abadi *)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Arogansi, lupa janji, dan tahan malu merupakan tiga karakter utama saat ini yang melekat pada diri pejabat di bumi pertiwi. Meski tak semua seperti itu namun sebagian besar akan berkarakter seperti itu.

Ambil contoh, misalnya saja Bupati Pati yang memberi teladan bagaimana menjadi pemimpin yang memiliki tiga karakter: arogan, lupa janji, dan tahan malu dalam satu waktu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mungkin Bapak Bupati sudah tuntas menerapkan prinsip “ing ngarep menehi tantangan” (di depan memberi tantangan), “ing tengah ora duwé isin“, (di tengah tak punya malu); dan ” ing mburi ngolek-ngolek alesan” (di belakang cari-cari alasan).

Pajak 250 % baginya bukan sebuah masalah asalkan rakyatnya sejahtera, di hadapan kamera dengan postur seperti penguin yang baru selesai mandi “Si Bapak Bupati” mengklarifikasi tidak sedang menantang rakyatnya.

Memang benar, dirinya tidak sedang menantang rakyat, lagipula mana ada seorang pejabat yang menantang rakyatnya sendiri. Tapi kalau dicermati, yang Bupati Pati lakukan hanyalah mengundang 50 ribu orang untuk merayakan kebijakannya dengan gegap gempita.

Lagipula di negeri yang amat kaya ini, bahkan tongkat dan kayu ketika ditanam belum tentu jadi apa-apa, persoalan pajak bukanlah sebuah masalah.

Baca Juga :  Brain Drain di Tulungagung; Ketika Talenta Lokal Dipaksa Pergi

Apalagi pajak amat diperlukan untuk meningkatkan pendapatan negara yang amat sayang dengan rakyatnya. Sangking sayangnya, negara bahkan “mengamankan” terlebih dahulu tanah dan rekening yang tidak lagi terpakai.

Tentu saja, arahan bupati untuk mengundang 50 ribu orang ke kantornya patut kita apresiasi apalagi amat jarang ada pejabat yang merindukan rakyat mengadakan “gathering” setelah dirinya terpilih.

Disatu sisi, kita pun harus mengapresiasi mentalitas bupati yang mungkin meniru “Genji Takiya” yang berani menghadapi kerumuman massa dengan riang gembira.

Toh, untuk dekat dengan rakyat, jika tidak bisa melalui prestasi dan kinerja, maka pergunakanlah kebijakan mencekik agar rakyat mengadakan gathering.

Setidaknya melalui kegiatan yang digagas Bupati Pati itu ada kerja-kerja tambahan bagi aparat kepolisian, TNI, atau Satpol PP yang sempat disalahkan oleh warganet karena mengangkut bantuan logistik gathering rakyat Pati pada Selasa (6/8) dengan alasan mengganggu ketertiban umum.

Padahal yang mereka lakukan saat itu— jika dilihat dari sudut pandang cinta sebagaimana nasehat Bupati Jember di kala wilayahnya krisis BBM—-merupakan upaya untuk meningkatkan lagi donasi logistik untuk keperluan gathering rakyat Pati .

Bupati Pati merupakan contoh dari karakter “Tung-tung Sahur”, anomali brain rot Italia yang memberi isyarat agar sesama warga Pati tidak melupakan kolektifitas dan terus merawat muak dalam bentuk hujatan yang dimaksimalkan.

Baca Juga :  Menyoal Pengangkatan Advokat oleh PERADI Profesional: Integritas Profesi atau Konflik Etik Sejawat?

Kepada rakyat Pati apapun latar belakang Anda, harusnya menyambut baik arahan Bupati melampuai sebatas hak berserikat dan berkumpul—tapi hak untuk mengibarkan bendera Jolly Roger setinggi-tingginya di hadapan kantor Bupati.

Kapan lagi memiliki Bupati yang ingin dekat dengan rakyat. Toh banyak pejabat lain yang diangkat oleh rakyat. Tiap bulan, mereka dapat gaji dari uang rakyat.

Setelah bertahta, para pejabat itu bergaya raja digdaya, lupa rakyat jelata. Agak sulit untuk tidak memaki pejabat semacam ini dengan sehimpun sumpah serapah tapi tidak dengan Bupati Pati.

Lalu kenapa bukan merah putih saja, yang harusnya diibawa sewaktu gathering ? Dalam konteks gathering untuk merayakan pajak yang tinggi, rasanya terlalu sakral jika membawa-bawa bendera Sang Saka Merah Putih.

Bendera Jolly Rogers rasanya pantas untuk menegaskan bersama Bupati Pati pastinya jika Indonesia perlu di bajak ke arah yang lebih baik.

Agar kelak, memiliki pejabat yang ideal pada tiga bagian tubuhnya sebagaimana kata Plato: “di mana pada bagian atas dia berbicara kebijaksaan, di bagian tengah dia bertindak dengan penuh keberanian, dan dibagian bawah mampu mengendalikan nafsunya”. (Red)

*) Mansurni Abadi, Mahasiswa Universitas Avondale Australia

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB