Mendaki Gunung: Berpegang Prinsip ‘Leave No Trace’ Sebagai Tanggung Jawab Kita pada Alam

- Penulis

Minggu, 15 Juni 2025 - 10:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

POV: aktivitas pendakian gunung (gambar: pinterest)

POV: aktivitas pendakian gunung (gambar: pinterest)

SUARAMUDA, SEMARANG – Mendaki gunung merupakan salah satu aktivitas outdoor yang semakin digemari masyarakat, terutama di Indonesia yang kaya akan pegunungan nan indah.

Namun, fenomena ini tidak hanya sekadar menikmati keindahan alam, tetapi juga menyimpan makna, manfaat, serta tantangan yang kompleks, baik secara fisik, mental, maupun lingkungan.

Mendaki gunung bukan sekedar hanya aktivitas fisik biasa, namun sebuah Pelajaran hidup yang dapat membentuk karakter, mental dan kesiapan seseorang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pendakian Gunung Slamet

Seperti pengalaman pendakian ke Gunung Slamet yang dilakukan oleh penulis, sarat akan kolaborasi antara keindahan alam dan tantangan yang harus dihadapi pendaki.

Gunung Slamet dalam kacamata penulis tak hanya menjadi salah satu gunung terindah, namun gunung tertinggi di Jawa Tengah.

Ia tudak hanya menawarkan keindahan alam namun juga jalur pendakiannya yang ekstrem dan berbahaya.

Panasnya matahari yang membakar kulit, jalur pendakian yang curam dan bebatu, serta jurang dalam di beberapa titik jalur menjadi ujian yang harus dilewati pendaki.

Keadaan ini menuntut persiapan yang matang dan stamina yang bagus agar pendakian dapat dilewati dengan aman.

Penuh Nilai

Tidak hanya mengenai tantangan fisik, pendakian gunung ini juga mengajarkan banyak nilai-nilai penting seperti kesabaran menunggu teman yang tertinggal dibelakang, keberanian menghadapi tantangan, dan semangat pantang menyerah untuk terus berjalan ke depan.

Saat menghadapi kendala seperti teman yang kurang fit, bagaimana kita menurunkan ego masing-masing, tentang kebersamaan saat pendakian, dan mengontrol pikiran negatif dengan menggantinya dengan motivasi-mativasi positif.

Inilah yang membedakan pendaki dari sekedar berwisata biasa.

Selain itu, pengalaman pendakian yang harus solid dengan rombngan saat summit attack (berjalan menuju puncak) dan menjadi sweeper menunjukkan dinamika sosial dalam pendakian.

Pendaki yang berjalan sendiri sering kali menghadapi tantangan psikologis, seperti kesepian dan kurangnya interaksi sosial.

Baca Juga :  Taukah Kamu, dr. Cipto Mangunkusumo adalah Pahlawan dari Jepara?

Namun, keberadaan rekan-rekan sependakian dan pendaki lain dapat membantu mengatasi rasa itu, sekaligus memberikan rasa aman dan semangat bersama dalam perjalanan.

Pengalaman pribadi dalam mendaki gunung sangat memengaruhi pandangan hidup penulis secara mendalam.

Perjalanan Batin yang Sarat Makna

Setiap pendakian bukan hanya perjalanan fisik menuju puncak, tetapi juga perjalanan batin yang penuh makna.

Mendaki mengajarkan saya arti ketekunan, kesabaran, dan pentingnya mempersiapkan segala sesuatu dengan matang.

Di jalur pendakian, saya belajar bahwa setiap tantangan dan rintangan, seperti medan terjal atau cuaca buruk, adalah bagian dari proses yang harus dihadapi dengan kepala dingin dan sikap positif.

Selain itu, pengalaman mendaki memperkuat rasa peduli penulis terhadap lingkungan.

Melihat langsung keindahan dan sekaligus kerentanan alam pegunungan, terutama di kawasan seperti Gunung Slamet, menumbuhkan kesadaran bahwa kelestarian alam adalah tanggung jawab bersama.

Minat penulis pada konservasi lingkungan dan pariwisata berkelanjutan semakin tumbuh setelah menyaksikan sendiri dampak negatif aktivitas manusia, seperti sampah yang berserakan di area pos 5.

Prinsip “Leave No Trace“

Hal ini mendorong penulis untuk lebih aktif mengedukasi diri dan orang lain tentang pentingnya menjaga alam serta menerapkan prinsip-prinsip “leave no trace“—-dalam setiap pendakian, yang dapat diartikan sebagai tidak meninggalkan barang atau sampah selain jejak.

Dengan menerapkan prinsip leave no trace ini kita ikut berkontribusi menjaga kelestarian alam dan memastikan bahwa keindahan alam tetap terjaga untuk semua orang. Prinsip ini sangat penting tidak hanya untuk pendaki namun juga semua orang.

Pendakian juga mengajarkan tentang arti kebersamaan dan solidaritas. Di gunung, tidak ada perbedaan status sosial bisa juga dikatakan sebagai semua saling membantu dan berbagi, karena keselamatan dan kenyamanan adalah tanggung jawab bersama.

Kebersamaan ini menanamkan nilai empati, kerja sama, dan rasa syukur atas hal-hal sederhana yang sering terlupakan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Kisah Afief, Peserta Ujian SNBT yang Raih Skor 773 dan Lolos Fakultas Kedokteran UI

Secara keseluruhan, mendaki gunung membentuk pandangan hidup penulis menjadi lebih sederhana, peduli, dan bertanggung jawab baik terhadap diri sendiri, sesama, maupun lingkungan.

Setiap perjalanan ke puncak selalu menjadi pengingat bahwa proses dan perjalanan jauh lebih bermakna daripada sekadar mencapai tujuan akhir.

Di sisi lain, pendakian gunung juga mengandung risiko besar yang tidak boleh diremehkan. Salah satunya yakni dalam menaklukkan Gunung Slamet, karena tidak semua pendaki dapat menaklukkan Gunung Slamet begitu saja dengan jalurnya yang ekstrem membuat tantangan besar bagi para pendaki.

Tidak jarang pula para pendaki mengalami kecelakaan yang tidak diharapkan seperti tragedi yang terjadi pada hari Minggu, 23 Februari 2025.

Pendaki asal Jakarta berinisial M A berusia 16 tahun yang dilaporkan jatuh di Jurang Gunung Slamet, dan meninggal dunia saat sedang di evakuasi.

Korban meninggal dunia karena luka-luka di kepalanya, akibat jatuh ke jurang sedalam 100 meter. Oleh karena itu, pendakian harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan tidak gegabah.

Penting juga untuk menyoroti aspek pendidikan karakter yang bisa diperoleh dari pendakian gunung.

Aktivitas ini mengajarkan pendaki untuk disiplin, bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan kelompok, serta menghargai alam dan sesama manusia.

Nilai-nilai ini sangat relevan tidak hanya dalam konteks pendakian, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulannya adalah pendaki gunung dapat digambarkan sebagai sosok yang berani menghadapi tantangan alam untuk dapat merasakan keindahan dan kedamaian yang jarang didapatkan di kehidupan modern ini.

Namun, pendakian gunung bukanlah sekadar petualangan fisik, melainkan juga perjalanan mental dan sosial yang penuh makna.

Dengan persiapan yang matang dan sikap yang tepat, pendakian dapat menjadi pengalaman yang memperkaya jiwa sekaligus mengajarkan banyak pelajaran hidup disetiap perjalanannya. (Red)

Penulis: Himaya Yendri, mahasiswa Sosiologi UIN Walisongo Semarang

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 16 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB