Dampak Signifikan dari Minimnya Penerapan Manajemen Risiko dalam Operasional Pertambangan Timah Berkelanjutan di Bangka Belitung

- Penulis

Selasa, 6 Mei 2025 - 01:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dindi, Mahasiswa Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bangka Belitung

Dindi, Mahasiswa Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bangka Belitung

Oleh: Dindi *)

SUARAMUDA, SEMARANG — Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu daerah penghasil timah terbesar di Indonesia bahkan dunia.

Industri pertambangan timah telah menjadi andalan perekonomian Bangka Belitung yang telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, selain memberikan dampak positif bagi perekonomian, kegiatan pertambangan timah juga menimbulkan tantangan besar terkait kerusakan lingkungan, keselamatan kerja, dan kesenjangan sosial yang timbul akibat tata kelola pemerintahan yang belum optimal.

Minimnya Manajemen Risiko

Salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh industri pertambangan timah di Bangka Belitung adalah kurangnya manajemen risiko yang efektif dan terstruktur.

Manajemen risiko merupakan elemen penting yang harus diterapkan untuk meminimalkan potensi kerugian yang dapat mengganggu operasi penambangan dan kerusakan lingkungan.

Sayangnya, kurangnya pengendalian risiko dalam operasi penambangan telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah dan meningkatkan potensi kecelakaan kerja yang membahayakan pekerja dan masyarakat sekitar.

Berdasarkan data yang ada, sepanjang tahun 2018 hingga 2023, 460.000 hektare hutan tropis di Bangka Belitung telah hilang akibat perluasan wilayah pertambangan timah, baik yang legal maupun ilegal.

Baca Juga :  Borgol KPK Memang Viral, Namun Pengkhianatan DPRD Lebih Brutal

Selain itu, sekitar 64.500 hektare terumbu karang rusak akibat sedimentasi dan limbah pertambangan laut. Ada sekitar 167.000 hektare lahan menjadi kritis dan tidak produktif, serta 240.000 hektare hutan mangrove rusak sehingga menyebabkan hilangnya habitat biota laut dan mengancam keseimbangan ekosistem pesisir.

Kerusakan lingkungan ini juga berdampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Selain hilangnya ekosistem penting, kecelakaan kerja di lokasi pertambangan, seperti pekerja yang tenggelam di bekas terowongan tambang, telah menyebabkan lebih dari 50 orang meninggal dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Minimnya penerapan manajemen risiko dalam proses penyelamatan semakin memperparah kondisi ini, menunjukkan betapa pentingnya memperbaiki sistem manajemen risiko.

Dampak yang Dihasilkan

Dampak signifikan dari kurangnya penerapan manajemen risiko yang baik pada operasional penambangan timah di Bangka Belitung sangat besar dan dapat dibagi menjadi beberapa aspek dampak lingkungan.

Pertama, perusakan ekosistem, yakni berupa hilangnya hutan tropis, rusaknya terumbu karang, hutan bakau, dan padang lamun merupakan bukti nyata kurangnya pengelolaan risiko lingkungan yang berkelanjutan.

Ekosistem yang rusak tidak hanya mengurangi keanekaragaman hayati, tetapi juga berdampak langsung pada sektor pertanian dan perikanan yang bergantung pada lingkungan alam.

Baca Juga :  Saatnya Pemerintah Daerah Bertaruh pada Pariwisata Berbasis Masyarakat untuk Menguatkan PAD

Kedua, kerugian ekonomi jangka panjang. Meskipun penambangan timah memberikan kontribusi ekonomi jangka pendek yang signifikan, kerusakan jangka panjang yang ditimbulkannya dapat merugikan kawasan tersebut dalam hal hilangnya sumber daya alam yang tidak terbarukan.

Pemulihan kerusakan ini membutuhkan biaya yang sangat besar, yang tentu saja berdampak pada perekonomian masyarakat.

Ketiga, dampak sosial dan konflik. Kerusakan lingkungan dan ketimpangan ekonomi sering kali menimbulkan ketegangan antara masyarakat setempat, perusahaan tambang, dan pemerintah.

Selain itu, masalah ketidakadilan dalam pembagian keuntungan tambang dan keterbatasan sumber daya sering kali memicu konflik sosial yang memperburuk situasi.

Hal ini menunjukkan pentingnya penerapan manajemen risiko yang terstruktur dan berkelanjutan, agar industri pertimahan di Bangka Belitung dapat tetap berkembang secara aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan, sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar tanpa mengorbankan ekosistem. (Red)

*) Dindi, Mahasiswa Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bangka Belitung
**) Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah, isi dan pesan dalam artikel bukan menjadi tanggung jawab redaksi

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Rencana Aksi Kendal: Menyuarakan Aspirasi atau Mengusung Kepentingan Politik?
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Minggu, 21 Juni 2026 - 01:16 WIB

Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian

Berita Terbaru