Bangka Belitung: Alam yang Terkikis, Kearifan yang Terlupakan

- Penulis

Minggu, 4 Mei 2025 - 03:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Alma Nurfauziah, mahasiswa Akuntansi, Universitas Bangka Belitung

Alma Nurfauziah, mahasiswa Akuntansi, Universitas Bangka Belitung

Oleh: Alma Nurfauziah *)

SUARAMUDA, SEMARANG — Bangka Belitung adalah surga tropis yang tak pernah habis diperbincangkan soal keindahan. Pantainya mempesona, lautnya menggoda, dan kekayaan mineralnya terutama timah menjadi tulang punggung ekonomi daerah selama puluhan tahun.

Namun di balik citra pariwisata dan kekayaan alam itu, tersimpan realita yang kian mengkhawatirkan: lingkungan hidup yang terus terdegradasi dan nilai-nilai kearifan lokal yang nyaris punah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kerusakan ekologis di Bangka Belitung bukanlah hal baru. Aktivitas penambangan, baik legal maupun ilegal, telah menyisakan lubang-lubang menganga di daratan dan keruhnya perairan laut.

Reklamasi dan rehabilitasi lahan seringkali hanya menjadi formalitas administratif, bukan solusi nyata. Namun, ada hal yang jarang dibahas dalam percakapan lingkungan di daerah ini: kehilangan hubungan emosional dan spiritual masyarakat dengan alam.

Dulu, masyarakat adat di Bangka Belitung memegang nilai-nilai yang sangat menghargai alam.

Baca Juga :  Pentingnya Pemahaman Digital Guru dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Ada tradisi sedekah laut, pantangan-pantangan adat di kawasan hutan, dan ritual-ritual penghormatan terhadap alam yang diwariskan turun-temurun.

Nilai ini bukan sekadar budaya, melainkan juga cara komunitas menjaga keseimbangan ekologis secara sosial dan spiritual.

Kini, modernisasi, tekanan ekonomi, dan politik ekstraktif telah mengikis nilai-nilai tersebut. Anak-anak muda tidak lagi melihat hutan dan laut sebagai bagian dari jati diri mereka.

Alam telah berubah dari teman dan pelindung menjadi objek eksploitasi. Ketika tambang merusak, reaksi pertama bukanlah kemarahan terhadap ketimpangan, melainkan pertanyaan: Bagaimana cara ikut dapat bagian?

Padahal, ketika manusia kehilangan hubungan spiritual dengan alam, maka segala bentuk kerusakan tidak lagi terasa sebagai bencana moral.

Kita menjadi kebal terhadap lubang-lubang tambang, terhadap hilangnya ikan dari laut, terhadap longsor dan banjir yang makin sering terjadi.

Baca Juga :  Perpustakaan Digital Sebuah Gengsi atau Suatu Keharusan?

Solusi terhadap masalah lingkungan Bangka Belitung tidak cukup hanya dengan regulasi atau teknologi. Pendekatan struktural perlu disertai dengan pemulihan nilai-nilai kultural dan spiritual.

Pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan harus berani mengembalikan kesadaran ekologis berbasis kearifan lokal.

Mengajarkan kembali kepada anak-anak bahwa tanah yang mereka injak adalah warisan, bukan aset dagang. Bahwa laut bukan hanya tempat mencari ikan, tetapi juga ruang hidup yang harus dihormati.

Bangka Belitung masih punya harapan. Tapi harapan itu hanya akan nyata jika kita mulai memperlakukan alam bukan sebagai objek transaksi, melainkan sebagai sahabat lama yang sedang terluka. (Red)

*) Alma Nurfauziah, mahasiswa Akuntansi, Universitas Bangka Belitung
**) Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah, isi dan pesan dalam artikel bukan menjadi tanggung jawab redaksi

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?
Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:50 WIB

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB