Menyorot Polemik RUU TNI yang “Dipaksa” Disahkan

- Penulis

Minggu, 23 Maret 2025 - 13:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Muamal Farizal*)

SUARAMUDA, SEMARANG – Turut menyorot beragam isu dewasa ini, penulis merasa prihatin. Adalah soal RUUD TNI tak lebih dari doktrin yang berkembang di Indonesia sejak Orde Baru, di mana TNI memiliki dua peran utama: sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan (hankam) serta sebagai kekuatan sosial-politik.

Konsep ini diperkenalkan pada era Presiden Soeharto kemudian berkembang menjadi dasar bagi keterlibatan militer dalam pemerintahan sipil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Doktrin ini berkembang dari pengalaman sejarah, terutama setelah peran besar TNI dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dan seiring waktu, TNI semakin aktif dalam politik, ekonomi, dan pemerintahan dengan alasan stabilitas nasional.

Peran Dwi Fungsi dalam Pemerintahan

Selama Orde Baru, Dwi Fungsi ABRI/ TNI memungkinkan militer:

Mengisi posisi strategis di birokrasi pemerintahan, baik di pusat maupun daerah.

Mendominasi parlemen melalui fraksi ABRI di DPR dan MPR.

Mengontrol keamanan dalam negeri, termasuk menangani gerakan separatis dan oposisi politik.

Konsep ini membuat militer tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan, tetapi juga sebagai pemain utama dalam kebijakan negara.

Dampak Positif Dwi Fungsi ABRI

•Stabilitas Politik: Pemerintahan Soeharto relatif stabil dengan minimnya gejolak politik besar.

Baca Juga :  Validitas dan Admisibilitas Bukti Elektronik: Forensik Digital Sebagai Mekanisme dalam Menangani Kejahatan Siber

•Pembangunan Infrastruktur: Dengan kendali militer, berbagai proyek pembangunan dapat berjalan tanpa hambatan politik berlebihan.

•Penegakan Keamanan: Peran ganda ABRI membantu menjaga ketertiban di era di mana kekuatan sipil masih lemah.

Dampak Negatif Dwi Fungsi ABRI

•Militerisasi Politik: Banyak jabatan sipil diisi oleh perwira militer, mengurangi partisipasi masyarakat dalam pemerintahan.

•Pelanggaran HAM: Militer yang terlalu dominan sering kali menggunakan kekuatan berlebihan dalam menghadapi oposisi politik dan gerakan sipil.

•Korupsi dan Nepotisme: Banyak bisnis militer berkembang tanpa pengawasan, memicu praktik korupsi dalam pemerintahan.

•Melemahkan Demokrasi: Dominasi militer menghambat pertumbuhan demokrasi dan kebebasan politik.

• Reformasi dan Penghapusan Dwi Fungsi

Pasca-Reformasi 1998, salah satu tuntutan utama masyarakat adalah menghapuskan Dwi Fungsi ABRI. Beberapa langkah yang diambil:

Pemisahan TNI dan Polri (1999)

Penghapusan fraksi TNI/Polri di parlemen (2004).

Pembatasan peran militer dalam politik dan ekonomi.

Namun, masih ada tantangan dalam menghapus pengaruh militer dalam politik, terutama dalam kasus-kasus di mana TNI tetap terlibat dalam kebijakan keamanan dalam negeri dan ekonomi.

Baca Juga :  Prajurit TNI Berdinas di Kejaksaan Agung dan MA, Savic Ali PBNU: Tak Masuk Akal

Opini tentang Dwi Fungsi TNI

Secara pribadi, saya berpendapat bahwa Dwi Fungsi ABRI/TNI lebih banyak membawa dampak negatif dibanding positif.

Meskipun stabilitas politik bisa terjaga, dominasi militer justru melemahkan demokrasi dan kebebasan sipil.

Dengan pengalaman masa lalu, Indonesia harus tetap waspada terhadap potensi kembalinya peran politik TNI secara berlebihan.

Namun, bukan berarti TNI tidak boleh berperan sama sekali dalam kehidupan bernegara.

Mereka tetap bisa terlibat dalam pembangunan melalui jalur profesional, seperti dalam bantuan bencana alam, pengamanan nasional, dan misi perdamaian dunia.

Tetapi, jalur politik harus tetap berada di tangan sipil agar demokrasi tetap sehat.

Kesimpulan

Dwi Fungsi ABRI adalah bagian dari sejarah Indonesia yang membawa dampak besar dalam politik dan pemerintahan.

Reformasi 1998 berhasil membatasi peran militer dalam politik, tetapi tantangan masih ada.

Hemat saya, Indonesia harus terus menjaga keseimbangan antara peran TNI dalam pertahanan negara dan menghindari campur tangan militer dalam politik agar demokrasi tetap berkembang. (Red)

Penulis: Muamal Farizal, Presiden Mahasiswa Politeknik Medica Farma Husada Mataram

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB