Mengenal Dugderan, Tradisi Warga Semarang yang Tak Lekang Waktu

- Penulis

Rabu, 19 Februari 2025 - 06:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

POV: Kirab tradisi Dugderan menjelang Ramadhan di Kota Semarang/ sumber gambar: pinterest

POV: Kirab tradisi Dugderan menjelang Ramadhan di Kota Semarang/ sumber gambar: pinterest

SUARAMUDA, SEMARANG — Dugderan bagi warga Kota Semarang, bukanlah sekadar tradisi melainkan sebuah perayaan yang meriah menjelang bulan suci Ramadhan.

Dikutip dari arsip Kementerian Pendidikan (Kemendikbud), dugderan pertama kali digelar sekitar 1862-1881 oleh Bupati Semarang Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat.

Konon, dugderan digagas sebagai kegiatan untuk menentukan pertanda awal waktu puasa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Nama “dugderan” sendiri merupakan onomatope dari suara pukulan bedug dan dentuman meriam, sebagai tanda dimulainya Ramadhan.

Kala itu, Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat menghelat upacara dengan membunyikan suara bedug (dengan bunyi dug) sebagai puncak “awal bulan puasa”.

Bedug ditabuh sebanyak 17 (tujuh belas) kali dan diikuti dengan suara dentuman meriam (dengan bunyi der) sebanyak 7 kali.

Baca Juga :  Hebat! Tuli Tapi Berprestasi, Ini Dia Timnas Bola Basket Tuli Indonesia

Perpaduan bunyi bedug dan meriam tersebut yang kemudian membuat tradisi tersebut diberi nama “dugderan”.

Sementara mengutip dari buku Sejarah Islam Nusantara karya Rizem Aizid, kata ‘dugder’ dalam tradisi dugderan diambil dari perpaduan bunyi bedug ‘dug dug’ dan bunyi meriam yang mengikutinya, yaitu ‘der’.

Karena itulah upacara penyambutan bulan suci Ramadan tersebut disebut dengan nama dugderan atau dhug der.

Dugderan Masa Kini

Dugderan saat ini telah menjadi tradisi perayaan menyambut bulan Ramadan yang dilakukan oleh umat Islam di Semarang.

Dalam perkembangan waktu, tradisi ini juga menjadi pesta rakyat tahunan bagi masyarakat Semarang.

POV: Kirab tradisi Dugderan menjelang Ramadhan di Kota Semarang/ sumber gambar: pinterest

Digelarnya tradisi dugderan juga sebagai upaya pemerintah untuk menyamakan awal puasa dan hari raya.

Baca Juga :  Dishub Sumut Tertibkan Angkutan Ilegal dan Pool yang Langgar Aturan

Hingga saat ini, tradisi itu masih diselenggarakan setiap tahunnya.

Tradisi ini dikatakan sebagai salah satu cara masyarakat untuk mencurahkan rasa rindunya terhadap bulan Ramadan.

Pada 2025 kali ini, kirab dugderan hanya akan berlangsung satu kali yaitu di Balai Kota Semarang.

Melansir Kompas.com, hal itu karena terbentur dengan kebijakan efisiensi anggaran.

Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang (Disbudpar) Kota Semarang, Sarosa, mengungkapkan bahwa sudah ada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 terkait efisiensi anggaran.

“Karena ada perintah Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 2025, akhirnya kalau ada efisiensi kirab tetap dilaksanakan. Hanya saja konsepnya digabung jadi satu, biasanya dua kali,” ucap Sarosa. (Red/ Dik)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa
Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar
Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif
Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?
Semarang Siap Jadi Kota Festival, Agustina: Seni Budaya Harus Hidup Sepanjang Tahun
Baliho Ultah Jokowi Bikin Riuh, Gerindra Solo Sentil Pemkot: “Pas Prabowo Ulang Tahun Kok Sepi?”
Sidang Sudewo Diserbu Pendukung, Ahmad Husein Muncul Lagi dan Bikin Nazar Tak Biasa
Semarang Makin Dilirik, Wacana Badan Pariwisata Kembali Menguat
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:14 WIB

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa

Sabtu, 27 Juni 2026 - 09:35 WIB

Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:45 WIB

Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?

Rabu, 24 Juni 2026 - 09:14 WIB

Semarang Siap Jadi Kota Festival, Agustina: Seni Budaya Harus Hidup Sepanjang Tahun

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:20 WIB

Baliho Ultah Jokowi Bikin Riuh, Gerindra Solo Sentil Pemkot: “Pas Prabowo Ulang Tahun Kok Sepi?”

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB