SUARAMUDA, SEMARANG — Walisongo Mediation Center (WMC) baru-baru ini menerima kunjungan dari rombongan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Kalimantan Timur, Senin (23/12/2024).
Rombongan yang berjumlah 10 orang itu diterima langsung segenap jajaran pimpinan di ruang WMC Lt. 1 Gedung Walisongo Center Kampus 3 UIN Walisongo Semarang.
Turut serta dalam rombongan tersebut, antara lain Sekretaris Kebangpol Provinsi Kalimantan Timur Ahmad Firdaus Kurniawan, S.Sos., M.Si., serta Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalimantan Timur Drs. H. Abdul Hadi, M.M.
Mewakili Ditektur Walisongo Mediation Center (WMC), Prof. Dr. Arif Junaidi, M.Ag dalam sambutannya menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Direktur WMC, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., karena ada jadwal bersamaan yang tidak bisa digantikan.
Dihadapan para tamu, Prof. Dr. Arif Junaidi, M.Ag, atau biasa dipanggil Arjun mengaku sangat “welcome” dan senang atas kunjungan dari Badan Kesbangpol Kaltim.
Arjun kemudian memaparkan profil MWC dari awal mula berdiri, profil direktur, backround trainer yang memiliki pengalaman melalang buana memperoleh training sejak 2007 berbagai kampus di luar negeri seperti Nuffic, Wageningen University dan yang lain.
Ia juga menegaskan jika WMC saat ini juga telah banyak menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga untuk memberikan training bagi para anggotanya, pemuka agama dan ormas (organisasi kemasyarakatan).
“Kami juga berpengalaman menjadi mediator profesional seperti PKUB (Pusat Kerukunan Umat Beragama), lalu pada Badan Kesbangpol Kota Semarang, para hakim pengadilan di Aceh, dan masih banyak lainnya. Jadi, puluhan kegiatan mentraining ini sudah kita dilakukan dari Aceh sampai Papua, “papar Arjun.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Kesbangpol Kaltim Ahmad Firdaus Kurniawan, S.Sos., M.Si menyatakan ketertarikannya pada lembaga mediasi konflik di Kota Semarang ini.
Potensi Konflik di Kaltim
“Maksud dan tujuan kami, yakni untuk mengetahui secara secara langsung informasi yang berkaitan dengan WMC. Dan apa saja paket pelatihan yang dirasa sesuai dengan kebutuhan yang ada di Provinsi Kalimantan Timur, “ujar Firdaus, aapaan Sekretaris Badan Kesbangpol Kaltim itu.
Firdaus dalam sambutannya memaparkan tentang potensi konflik yang ada di Kalimatan Timur. Meski demikian, ia tak menampik muncul potensi terjadinya konflik terlebih berbatasan langsung dengan wilayah Kalimantan Utara atau daerah lain di mana masyarakatnya mudah terpantik.
“Potensi konflik tetap ada, karena sebagian besar penduduk Kaltim sangat beragam yakni terdiri dari 30 persen dari Suku Jawa, 20 persen dari Suku Bugis, dan sisanya dari Dayak dan orang asli Kalimantan Timur. Oleh karena itu pelatihan ini dibutuhkan untuk mencegah, sekaligus bisa menjadi alat untuk menyelesaikan konflik yang tidak diharapkan, “urainya.
Kegiatan penerimaan kunjungan Badan Kesbangpol Kaltim terasa semakin hangat. Pasalnya, usai sambutan, Dr. Tholkhah dan Prof. Dr. Solihan beserta pengurus lainnya membuka ruang diskusi. Kunjungan sejak pukul 09.00 WIB itu, kemudian ditutup dengan makan siang, foto bersama dan sesi tukar cinderamata tepat di jam istirahat.
Untuk diketahui, ini bukanlah kali pertama Walisongo Mediation Center menerima kunjungan dari instansi luar. Sebaliknya, lembaga ini justru sering menerima kunjungan baik dari institusi universitas, dinas pemerintah dan NGO.
Tujuan mereka beraneka ragam, mulai dari studi banding, penjajakan kerjasama, magang, dan permohonan untuk melakukan training. (Red)