Ketika Ucapan ‘Para’ Wapres Gibran Viral: Apa iya, Kesalahan Berbahasa Jadi Bukti Kredibilitas yang Rendah?

- Penulis

Minggu, 22 Desember 2024 - 08:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, SEMARANG – Pidato Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka menuai sorotan publik di media sosial. Kali ini terkait penggunaan kata ‘para’.

“yang saya hormati, tokoh-tokoh, para-para tokoh agama, para-para kiai, para-para ibu nyai, yang hadir pada pagi hari ini.”

Sebuah potongan video pidato Wapres Gibran itu pun beredar di media sosial X. Diduga pidato itu dilakukan pada saat putra Joko Widodo itu memberikan sambutan dalam acara Fatayat NU 2024.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam video yang dibagikan oleh akun X @PUTRY_NUSANTARA, terekam Gibran Rakabuming mengenakan kemeja berwarna biru tua dan cokelat serta mengenakan peci hitam sedang berdiri untuk menyampaikan sambutan.

Memang terasa engga penting, ketika membicarakan potongan video yang di dalamnya terkandung kata “para”, oleh Wapres Gibran.

Baca Juga :  Quo Vadis Wakil Presiden: Dari Bung Hatta Hingga Fufufafa

Tapi jika merujuk pada kamus KBBI, kata penyerta yang menyatakan pengacuan ke kelompok atau bisa berarti bermakna jamak “para” itu terasa geli, lucu dan bercampur.

Maka diperlukan penguasaan bahasa yang lebih baik, tertata dan ebak di dengar. Apalagi, Gibran adalah sosok figur pemerintah.

Pentingnya Penguasaan Bahasa Indonesia oleh Figur Publik

Ya, akhirnya fenomena itu bukan hanya menjadi bahan perbincangan, tetapi juga mengingatkan kita pada pentingnya penguasaan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi yang efektif, terutama oleh figur publik.

Muhardis dalam artikel opini yang telah tayang di Kompas, (19/12/2024) misalnya, mengingatkan kita akan pentingnya bahasa Indonesia sebagai simbol persatuan dan identitas nasional.

Baca Juga :  Hebatnya Muhammad Antor, Kunjungi Rusia Buat Ikuti Kompetisi Pengajian Al Quran Internasional XXII di Moskow

Kesalahan berbahasa, terutama oleh tokoh-tokoh negara, justru dapat menimbulkan persepsi negatif terhadap kredibilitas mereka.

Dalam kasus ini, penggunaan bentuk pengulangan yang tidak lazim seperti “para-para”, misalnya oleh Giran, menunjukkan pentingnya pemahaman tata bahasa agar pesan dapat tersampaikan dengan tepat tanpa menimbulkan kesan keliru.

Untuk diketahui, ketika seseorang berbicara di hadapan publik, khususnya tokoh nasional, diksi dan struktur kalimat sangat memengaruhi pemahaman audiens.

Jadi, kesalahan kecil saja dapat mengaburkan pesan utama. Dan kata “para-para” yang seringkali diucapkan Wapres Gibran Rakabuming menambah deret problem tersebut. Semoga tak berulang dalam sambutan berikutnya. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 22:54 WIB

Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB