Mahasiswa FISIP Wajib Tahu! Yuk, Mengenang Mantan Rektor UGM Ichlasul Amal dan Kontribusinya Bagi Reformasi

- Penulis

Minggu, 17 November 2024 - 08:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, KOTA SEMARANG — Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada atau UGM periode 1998-2002, Ichlasul Amal meninggal dunia pada Kamis, 14 November 2024 lalu.

Kabar ini disampaikan oleh Guru Besar Hubungan Internasional UGM, Mohtar Mas’oed.

“Prof. Dr. Ichlasul Amal, mantan Rektor UGM, meninggal dunia pagi ini jam 2.40 di RSPI, Jakarta,” kata Mohtar dalam keterangannya, Kamis, 14 November 2024.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jenazah Ichlasul Amal akan dibawa ke Yogyakarta untuk dimakamkan di Makam Keluarga UGM Sawitsari. “Mohon doa,” kata Mohtar.

Perjalanan pendidikan tinggi Ichlasul Amal dimulai di UGM pada 1967. Dia memilih mengambil jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM. Di sana, Ichlasul Amal menempuh masa studi selama lima tahun.

Pria kelahiran Jember ini melanjutkan studi masternya di Amerika Serikat pada 1974. Ichlasul Amal memperdalam ilmunya di bidang politik dengan menempuh studi di Northern Illinois University, Amerika Serikat.

Amal kemudian melanjutkan studinya di Monash University, Australia untuk meraih gelar doktor. Setelah lulus, Amal banyak berkarier di UGM, mulai dari pengajar hingga petinggi kampus.

Baca Juga :  Tim Alstar85 dan Penulis Buku tentang BIPA Usung Semangat "Bahasa Indonesia Mendunia"

Pada 2003, Amal diamanahkan menjadi Ketua Dewan Pers. Dia memimpin organisasi itu selama tujuh tahun hingga 2007.

Amal sangat berperan penting dalam gerakan menuju reformasi 1998. Bahkan, pada saat demonstrasi besar-besaran di Yogyakarta pada 20 Mei 1998, ia bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X, didampingi Ratu Hemas, berorasi di lapangan depan Grha Sabha Pramana UGM berorasi di depan ribuan mahasiswa.

Ichlasul yang saat itu menjadi Rektor UGM, mendukung aktif aksi moral mahasiswa yang menuntut perubahan di tengah krisis ekonomi, kepemimpinan dan politik nasional.

Saat itu, ribuan mahasiswa dari banyak universitas turun ikut demonstrasi menentang dan menuntut presiden saat itu Soeharto.

Mereka menyuarakan keprihatinan mereka terhadap kondisi bangsa. Ichlasul Amal berdiri di garis depan bersama mereka.

Saat aksi demonstrasi itu, ia bersama Sultan yang juga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara aktif mendukung gerakan mahasiswa ini. “Kalau Ngarso Dalem (Sultan) sudah mendukung gerakan mahasiswa, Soeharto pasti tumbang,” kata Budi Sasono saat itu, ia masih menjadi mahasiswa dan ikut aksi demonstrasi.

Baca Juga :  Waroeng Semawis Comeback! Surga Kuliner Malam Semarang yang Bikin Kangen Kembali Bergairah

Sebagai rektor saat itu, Ichlasul membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyuarakan tuntutan mereka di lingkungan kampus.

Pada saat itu, reformasi mulai menggema di seluruh negeri. Mereka mengangkat isu KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme) yang terjadi pada pemerintahan Soeharto.

Aksi-aksi demonstrasi mahasiswa saat itu selalu dilawan dengan kekuatan polisi dan militer. Bahkan suatu saat, puluhan mahasiswa diangkut dengan truk polisi dan dibawa ke markas Kepolisian Daerah atau Polda DIY. Dan Ichlasul Amal lah yang meminta agar mahasiswa dibebaskan.

Mahasiswa Yogyakarta menjadi demonstran yang mengawali aksi-aksi menjelang tumbangnya Soeharto, 21 Mei 1998.

Dan akhirnya, Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan presiden waktu itu. Habibie, wakil presiden lalu menggantikan jabatannya.

Ichlasul Amal wafat di RSPI Jakarta di usia 82 tahun. (Red)

Sumber: Tempo

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB