Oleh: Najib Haidi Lutfillah, Mahasiswa Pascasarjana Psikologi UM Purwokerto
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Selama menjadi HRD di industri F&B, saya cukup sering bertemu dengan karyawan dari generasi Gen Z. Ada yang baru bekerja beberapa minggu kemudian memilih resign, ada yang bertahan beberapa bulan lalu merasa pekerjaan tersebut tidak cocok, dan ada pula yang sebenarnya memiliki kemampuan cukup baik, tetapi akhirnya memilih pergi karena merasa tidak nyaman dengan lingkungan kerjanya.
Dari pengalaman tersebut, saya cukup sering mendengar anggapan bahwa anak muda sekarang tidak tahan tekanan, sedikit-sedikit resign, dan tidak memiliki ketahanan seperti generasi sebelumnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut saya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak bisa langsung dibenarkan begitu saja. Dalam proses rekrutmen hingga masa kerja, memang ada pekerja muda yang masih kesulitan menghadapi tekanan.
Ada yang belum mampu menerima teguran, kurang siap menghadapi ritme kerja yang cepat, atau merasa pekerjaan terlalu berat, padahal dirinya masih berada dalam tahap adaptasi. Terlebih di industri F&B, tekanan kerja memang relatif tinggi.
Karyawan harus berhadapan langsung dengan pelanggan, bekerja dengan target, menjaga kecepatan pelayanan, mengikuti sistem shift, bekerja pada akhir pekan, hingga menghadapi kondisi outlet yang sangat ramai.
Namun, semakin lama bekerja sebagai HRD, saya juga belajar bahwa perusahaan tidak bisa selalu menyalahkan karyawan ketika angka resign tinggi. Perusahaan perlu melihat kembali kondisi internalnya. Jika banyak orang datang lalu pergi dari posisi yang sama dalam waktu singkat, tentu ada sesuatu yang perlu dievaluasi.
Masalahnya bisa saja bukan hanya pada mental atau daya tahan karyawan, tetapi juga pada sistem kerja, pola komunikasi, gaya kepemimpinan, pembagian tugas, jam kerja, hingga cara perusahaan memperlakukan karyawannya.
Generasi sebelumnya mungkin lebih terbiasa dengan prinsip bahwa ketika sudah mendapatkan pekerjaan, apa pun kondisinya harus dihadapi dan dijalani. Dimarahi atasan tetap bertahan, berada di lingkungan kerja yang tidak nyaman tetap dijalani, atau merasa tidak berkembang pun tetap bekerja karena mencari pekerjaan baru dianggap tidak mudah.
Sementara itu, Gen Z tumbuh dengan cara pandang yang berbeda. Mereka lebih berani mempertanyakan lingkungan kerja, lebih terbuka membicarakan kesehatan mental, dan lebih sadar bahwa pekerjaan bukan satu-satunya bagian penting dalam kehidupan.
Karena itu, ketika merasa sebuah tempat kerja tidak sesuai dengan nilai, kebutuhan, atau harapan mereka, keputusan untuk pergi bisa muncul lebih cepat. Kondisi tersebut kemudian sering dianggap sebagai tanda bahwa Gen Z tidak memiliki resilience atau daya tahan.
Padahal, menurut saya, ketahanan seseorang di tempat kerja tidak selalu dapat diukur dari seberapa lama ia mampu bertahan. Ada orang yang bertahun-tahun bertahan dalam sebuah pekerjaan, tetapi sebenarnya sudah tidak berkembang dan tidak bahagia.
Sebaliknya, ada orang yang memilih pergi karena menyadari bahwa lingkungan tersebut memang tidak cocok bagi dirinya atau tidak lagi mendukung perkembangan profesionalnya.
Meski demikian, Gen Z juga perlu memahami bahwa tidak semua ketidaknyamanan di tempat kerja berarti lingkungan tersebut toxic. Dunia kerja memang tidak selalu menyenangkan. Ada target yang harus dicapai, aturan yang harus dipatuhi, evaluasi dari atasan, rekan kerja dengan karakter yang berbeda, serta kesalahan yang harus diperbaiki.
Mendapat teguran karena melakukan kesalahan bukan berarti perusahaan toxic. Mendapat target juga tidak otomatis berarti sedang dieksploitasi. Dalam situasi tertentu, rasa tidak nyaman justru merupakan bagian dari proses belajar, beradaptasi, dan membentuk sikap profesional.
Menurut saya, salah satu tantangan terbesar pekerja muda hari ini adalah kemampuan membedakan antara tekanan kerja yang wajar dan lingkungan kerja yang memang tidak sehat. Resilience bukan berarti seseorang harus menerima semua perlakuan buruk dan terus bertahan.
Namun, resilience juga bukan berarti memilih pergi setiap kali menghadapi persoalan. Ada masalah yang memang perlu diperjuangkan, dikomunikasikan, dan diselesaikan terlebih dahulu sebelum seseorang mengambil keputusan untuk resign. Kemampuan menghadapi masalah sekaligus mengetahui kapan harus mengambil sikap merupakan bagian penting dari kedewasaan profesional.
Di sisi lain, perusahaan juga tidak bisa terus menggunakan istilah “mental lemah” setiap kali ada karyawan yang memilih keluar. Perusahaan harus berani mengevaluasi dirinya sendiri.
Apakah proses onboarding sudah berjalan dengan baik? Apakah jobdesk dan ekspektasi pekerjaan sudah dijelaskan sejak awal? Apakah atasan mampu memberikan arahan dan koreksi tanpa merendahkan bawahan? Apakah jam kerja masih masuk akal? Apakah beban pekerjaan sesuai dengan posisi dan kompensasi? Dan yang tidak kalah penting, apakah karyawan mendapatkan kesempatan untuk belajar serta berkembang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena tingkat turnover yang tinggi tidak selalu menunjukkan bahwa perusahaan memiliki karyawan yang tidak tahan banting. Bisa jadi, turnover merupakan sinyal bahwa ada persoalan yang belum diselesaikan di dalam organisasi.
Kadang perusahaan terlalu sibuk mencari orang yang “tahan banting”, tetapi lupa membangun lingkungan kerja yang membuat orang ingin bertahan. Padahal, mempertahankan karyawan tidak cukup hanya dengan menuntut loyalitas. Perusahaan juga perlu menciptakan alasan yang membuat karyawan merasa layak untuk tetap tinggal.
Dari pengalaman saya, banyak Gen Z sebenarnya bukan generasi yang malas bekerja. Mereka dapat belajar dengan cepat, terbiasa menggunakan teknologi, berani menyampaikan pendapat, dan cukup kreatif dalam menyelesaikan masalah.
Namun, mereka juga ingin memahami arah dari pekerjaan yang mereka jalani. Mereka ingin mengetahui apakah ada kesempatan untuk berkembang, apakah kontribusi mereka dihargai, bagaimana masa depan karier mereka, dan apakah perusahaan melihat mereka sebagai manusia dengan kebutuhan serta aspirasi, bukan semata-mata sebagai tenaga kerja.
Pada akhirnya, pembicaraan mengenai Gen Z dan dunia kerja seharusnya tidak berhenti pada kesimpulan bahwa “anak sekarang mudah resign”. Gen Z memang perlu membangun ketahanan, belajar menghadapi tekanan, menerima kritik, dan memahami bahwa dunia kerja tidak selalu berjalan sesuai dengan ekspektasi.
Tetapi perusahaan juga perlu belajar bahwa loyalitas tidak bisa hanya diminta dari karyawan. Loyalitas perlu dibangun melalui lingkungan kerja yang sehat, komunikasi yang terbuka, kepemimpinan yang baik, kesempatan berkembang, penghargaan terhadap kontribusi, serta rasa saling menghormati.
Jadi, ketika ada Gen Z yang memilih resign, mungkin pertanyaannya tidak selalu harus, “Kenapa dia tidak kuat?” Ada kalanya perusahaan juga perlu mengajukan pertanyaan yang lebih kritis kepada dirinya sendiri: “Apa yang membuat dia merasa tempat ini sudah tidak layak untuk dipertahankan?”
Sebab, dunia kerja yang sehat bukanlah dunia kerja tanpa tekanan. Dunia kerja yang sehat adalah tempat di mana tekanan dapat dikelola, kesalahan dapat diperbaiki, kritik dapat disampaikan dengan cara yang manusiawi, dan setiap orang memiliki ruang untuk tumbuh. Di titik itulah, ketahanan karyawan dan tanggung jawab perusahaan seharusnya bertemu. (Red)













Komentar