Bukan Cuma El Nino, Ini Alasan Kalimantan Langganan Kebakaran Hutan Parah

Ribuan titik panas kembali muncul di Kalimantan. Peneliti menilai faktor manusia, kondisi lahan, dan cuaca kering ikut membuat karhutla terus berulang.

- Penulis

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kebakaran lahan semak belukar di kawasan RT 02 Pantai Amal, Tarakan Timur, Kalimantan Utara. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan

Kebakaran lahan semak belukar di kawasan RT 02 Pantai Amal, Tarakan Timur, Kalimantan Utara. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan

SUARAMUDA.NET, SEMARANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali bikin Kalimantan berasap. Ribuan titik panas terpantau di sejumlah wilayah, dengan kondisi kering membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan.

Tapi, kalau selama ini El Nino sering disebut sebagai biang kerok, ternyata ceritanya nggak sesederhana itu.

Peneliti menilai aktivitas manusia menjadi salah satu faktor utama yang membuat kebakaran hutan dan lahan terus berulang. Pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi salah satu pemicu yang kerap terjadi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi alam kemudian membuat situasi semakin parah. Saat musim kemarau datang dan curah hujan rendah, vegetasi serta lahan menjadi lebih kering. Api yang awalnya kecil pun bisa berubah menjadi kebakaran besar.

Baca Juga :  PM Irak Bilang, Konflik di Timur Tengah Bisa Dicegah dengan Hentikan Israel

Gambut Jadi Titik Rawan

Persoalan makin rumit ketika api masuk ke kawasan gambut. Sebab, lahan gambut yang sudah mengering bisa menyimpan bara di bawah permukaan tanah.

Akibatnya, api tidak selalu terlihat besar dari permukaan, tetapi dapat terus membara dan kembali muncul di titik lain.

Aktivitas pembukaan hutan dan perubahan tata kelola lahan juga dapat membuat kawasan yang sebelumnya lebih lembap menjadi semakin rentan terbakar.

Jadi, El Nino lebih tepat dilihat sebagai pemicu yang memperparah kondisi, bukan satu-satunya penyebab karhutla.

Bukan Sekadar Soal Api

Dampaknya juga bukan cuma soal hutan yang hangus. Kabut asap mengganggu kualitas udara, aktivitas masyarakat hingga transportasi.

Baca Juga :  Soal Kaldera Toba yang Terancam Dicoret UNESCO, Sutarto: Mau Anak Cucu Kita Cuma Tahu dari Buku Sejarah?

Sejumlah wilayah di Kalimantan bahkan mengalami gangguan penerbangan akibat asap tebal. Karhutla juga berpotensi mengganggu kesehatan, terutama ketika konsentrasi partikel halus di udara meningkat.

Yang bikin miris, persoalan ini terus berulang dari tahun ke tahun. Itu artinya, penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar.

Pencegahan pembakaran lahan, pengawasan kawasan rawan, pengelolaan gambut, hingga penegakan hukum menjadi pekerjaan rumah yang harus dilakukan jauh sebelum asap kembali memenuhi langit Kalimantan.

Kalimantan butuh solusi jangka panjang, bukan sekadar pemadaman setiap kali api muncul. (Red)

Sumber: CNBC Indonesia

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jokowi Bikin Pernyataan Berani: “PSI Partai Baru, tapi Sudah Banyak yang Ketakutan”
Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah
Pidato di PBB, Sugiono Bawa Pesan Prabowo: Dunia Butuh Ketahanan dan Kerja Sama
Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Berita ini 30 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 09:29 WIB

Jokowi Bikin Pernyataan Berani: “PSI Partai Baru, tapi Sudah Banyak yang Ketakutan”

Minggu, 27 September 2026 - 11:44 WIB

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Minggu, 27 September 2026 - 09:31 WIB

Pidato di PBB, Sugiono Bawa Pesan Prabowo: Dunia Butuh Ketahanan dan Kerja Sama

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 22:54 WIB

Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan

Berita Terbaru

Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim. (Gambar: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

KABAR NUSANTARA

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Minggu, 27 Sep 2026 - 11:44 WIB

LINTAS AKADEMIKA

Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)

Minggu, 27 Sep 2026 - 09:20 WIB