SUARAMUDA.NET, SEMARANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali bikin Kalimantan berasap. Ribuan titik panas terpantau di sejumlah wilayah, dengan kondisi kering membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan.
Tapi, kalau selama ini El Nino sering disebut sebagai biang kerok, ternyata ceritanya nggak sesederhana itu.
Peneliti menilai aktivitas manusia menjadi salah satu faktor utama yang membuat kebakaran hutan dan lahan terus berulang. Pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi salah satu pemicu yang kerap terjadi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi alam kemudian membuat situasi semakin parah. Saat musim kemarau datang dan curah hujan rendah, vegetasi serta lahan menjadi lebih kering. Api yang awalnya kecil pun bisa berubah menjadi kebakaran besar.
Gambut Jadi Titik Rawan
Persoalan makin rumit ketika api masuk ke kawasan gambut. Sebab, lahan gambut yang sudah mengering bisa menyimpan bara di bawah permukaan tanah.
Akibatnya, api tidak selalu terlihat besar dari permukaan, tetapi dapat terus membara dan kembali muncul di titik lain.
Aktivitas pembukaan hutan dan perubahan tata kelola lahan juga dapat membuat kawasan yang sebelumnya lebih lembap menjadi semakin rentan terbakar.
Jadi, El Nino lebih tepat dilihat sebagai pemicu yang memperparah kondisi, bukan satu-satunya penyebab karhutla.
Bukan Sekadar Soal Api
Dampaknya juga bukan cuma soal hutan yang hangus. Kabut asap mengganggu kualitas udara, aktivitas masyarakat hingga transportasi.
Sejumlah wilayah di Kalimantan bahkan mengalami gangguan penerbangan akibat asap tebal. Karhutla juga berpotensi mengganggu kesehatan, terutama ketika konsentrasi partikel halus di udara meningkat.
Yang bikin miris, persoalan ini terus berulang dari tahun ke tahun. Itu artinya, penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar.
Pencegahan pembakaran lahan, pengawasan kawasan rawan, pengelolaan gambut, hingga penegakan hukum menjadi pekerjaan rumah yang harus dilakukan jauh sebelum asap kembali memenuhi langit Kalimantan.
Kalimantan butuh solusi jangka panjang, bukan sekadar pemadaman setiap kali api muncul. (Red)
Sumber: CNBC Indonesia













Komentar