Oleh: Asmansyah, Dosen Kebijakan Publik, Universitas Negeri Makassar
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Data global menunjukkan kecemasan di usia 10–24 tahun naik sekitar 52% sejak 1990, dengan lonjakan tajam paska 2019.
Meta-analisis lain memperkirakan sekitar 1 dari 5 remajamengalami gejala kecemasan klinis selama pandemi, dua kali lipat sebelum COVID-19. Angka-angka ini diambil dari basis data Global Burden of Disease dan telaah sistematis lintas negara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Remaja kini tumbuh dalam pusaran tekanan sekolah, ketidakpastian ekonomi, kompetisi kerja, ketimpangan peluang, dan paparan media sosial yang nyaris tanpa jeda.
Sebuah penelitian menunjukkan beban gangguan mental pada anak dan remaja terus meningkat dalam tiga dekade terakhir, terutama kecemasan dan depresi.
Di banyak negara, beban justru terbesar di wilayah dengan ketimpangan sosial tinggi dan sumber daya kesehatan mental terbatas. Ini mengisyaratkan bahwa kecemasan generasi muda terikat erat dengan struktur sosial dan arah kebijakan publik, bukan hanya kelemahan individu.
Ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan besar kita bersama. Pertama, ketika data menunjukkan ledakan kecemasan justru di negara dengan ketimpangan dan tekanan struktural tinggi, sampai sejauh mana kita masih pantas menyebut kecemasan remaja sekadar “masalah pribadi”?
Kedua, jika bukti ilmiah mengaitkan kebijakan ekonomi, pendidikan, dan sosial dengan kesehatan mental generasi muda, dapatkah pemerintah dan masyarakat terus bersembunyi di balik narasi “ketahanan individu” tanpa berani mengubah desain kebijakan yang menciptakan kecemasan itu sendiri?
Data konflik antara retorika “ini urusan pribadi” dan bukti bahwa kecemasan berakar pada struktur sosial dan kebijakan membuka ruang bagi perdebatan publik yang lebih jujur: apakah kita berani mengakui bahwa kecemasan generasi muda adalah cermin pilihan kebijakan kolektif kita?
Siapa Sebenarnya “Gagal”: Individu atau Negara?
Ketika data menunjukkan insiden kecemasan usia 10–24 tahun naik sekitar 52% sejak 1990, terutama pasca 2019, wajar jika publik bertanya: siapa yang sebenarnya gagal, individu muda atau negara yang mengatur hidup mereka?
Lonjakan ini lebih tinggi pada perempuan dan remaja awal, sekaligus lebih berat di negara dengan ketimpangan sosial nyata.
Apa yang tampak sebagai “anak kurang tangguh” sesungguhnya sering adalah respons wajar terhadap struktur sosial yang timpang: tekanan akademik, akses kerja sempit, biaya hidup tinggi, dan layanan kesehatan jiwa yang tidak setara.
Kerangka “social determinants of mental health” (Allen & Marmot, 2014) menegaskan bahwa kondisi lahir, tumbuh, sekolah, hingga bekerja dibentuk oleh keputusan politik, bukan sekadar pilihan pribadi.
Studi global menunjukkan beban gangguan kecemasan dan depresi remaja meningkat paling tajam di negara berpendapatan tinggi dan kawasan dengan ketimpangan sosial melebar.
Kebijakan ekonomi dan sosial yang melahirkan kemiskinan, ketidakamanan kerja, serta jaring pengaman lemah, berkontribusi pada distres-psikologis yang sistematis.
Review struktural di negara OECD menemukan bahwa negara dengan welfare state lebih komprehensif cenderung memiliki kesehatan mental lebih baik dan ketimpangan gender lebih kecil.
Sebaliknya, kebijakan austerity justru memperburuk kesehatan mental dan memperlebar kesenjangan. Di sini, kecemasan generasi muda bukan hanya cerita klinik, tapi cermin pilihan fiskal dan sosial.
Data menunjukkan lonjakan gangguan kecemasan dan depresi remaja selama COVID-19 terutama di negara berpendapatan tinggi, dengan penutupan sekolah panjang, krisis ekonomi, dan ketimpangan digital. Insiden kecemasan remaja meningkat signifikan antara 2018–2019 ke 2020–2021.
Studi lain memperlihatkan semua determinan social, mulai dari ketidakamanan pangan, perumahan, lingkungan buruk, hingga rasisme, berkaitan dengan naiknya kecemasan dan depresi remaja.
Rumah tangga dengan adverse childhood experiences (ACEs) dan pengalaman rasisme memiliki risiko tertinggi. Artinya, kebijakan perumahan, pendidikan, hingga penegakan anti-diskriminasi langsung masuk ke ruang psikologis anak.
Narasi individualisasi menjadi problem? Saat data menunjukkan bahwa bahkan sebelum pandemi, beban gangguan mental anak–remaja sudah meningkat stabil tiga dekade terakhir, terutama kecemasan, depresi, dan eating disorders.
Pandemi hanya mempercepat tren yang telah dibangun oleh tekanan akademik, ekonomi neoliberal, dan perubahan teknologi.
Review tentang krisis kesehatan jiwa pemuda menunjukkan bahwa peningkatan ini bukan sekadar akibat kesadaran ataudiagnosis yang lebih baik.
Ini adalah krisis kesehatan publik yang nyata. Menyalahkan “mental lemah” di tengah bukti struktural semacam ini bukan hanya keliru, tetapi menutupi tanggung jawab negara dan pasar.
Bagaimana kita merespons menentukan apakah kecemasan generasi muda akan diperlakukan sebagai masalah moral individu atau sebagai konsekuensi kebijakan yang bisa diperbaiki.
Sejumlah kajian menekankan perlunya pendekatan lintas sektor: pengentasan kemiskinan, perbaikan lingkungan tempat tinggal, akses layanan dasar dan kesehatan, serta perlindungan kelompok rentan.
Studi tentang social determinants of health pada remaja menegaskan bahwa mengurangi kemiskinan, memperbaiki lingkungan, dan mengurangi diskriminasi lebih menjanjikan ketimbang hanya menambah layanan klinis tanpa menyentuh akar sosialnya.
Pendekatan “Mental Health in All Policies” menempatkan kesehatan jiwa sebagai pertimbangan di semua kebijakan—-dari pendidikan, transportasi, hingga pajak.
Kecemasan generasi muda tidak bisa jujur disebut sekadar “masalah pribadi”. Individu tentu punya ruang agensi, tetapi angka global, peran ketimpangan, dan jejak kebijakan menunjukkan bahwa generasi muda sedang hidup di dalam ekosistem yang dirancang tanpa cukup memperhitungkan kesehatan jiwa mereka.
Selama kebijakan publik terus menormalisasi ketidakpastian, kompetisi ekstrem, dan ketimpangan, maka menyeru pemuda “lebih kuat secara mental” tanpa mengubah struktur hanya akan memperpanjang siklus kecemasan dan pada akhirnya, ketidakadilan sosial yang sama. (Red)













Komentar