SUARAMUDA.NET, SIDOARJO — Masa jabatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA) periode ini segera berakhir. Namun menjelang fase demisioner, kritik dari kalangan mahasiswa justru semakin ramai bermunculan.
Sejumlah mahasiswa menilai kepengurusan BEM kali ini belum mampu menghadirkan dampak nyata bagi kehidupan kampus. Alih-alih menjadi motor gerakan mahasiswa, BEM dinilai lebih sibuk dengan aktivitas formalitas dan pencitraan di media sosial.
Kritik paling tajam datang dari minimnya aksi advokasi terhadap persoalan mahasiswa. Program kerja yang dijalankan juga dianggap belum menyentuh kebutuhan mendasar civitas akademika di lingkungan UMAHA.

“Sangat din hampir habis tapi manfaat langsung dari keberadaan BEM tahun ini belum dirasakan secara luas. Kurangnya pengawalan terhadap isu-isu krusial mahasiswa menjadi evaluasi besar,” ujar salah satu mahasiswa berinisial MBG.
Menurut sejumlah mahasiswa, peran strategis BEM sebagai jembatan aspirasi mahasiswa perlahan mulai memudar. Organisasi yang seharusnya menjadi ruang perjuangan bersama justru dianggap terjebak pada rutinitas administratif dan publikasi seremonial.
Meski begitu, momentum pergantian kepengurusan diharapkan bisa menjadi titik balik lahirnya kepemimpinan baru yang lebih progresif, responsif, dan benar-benar hadir untuk mahasiswa.
Mahasiswa berharap BEM UMAHA ke depan tidak hanya aktif di media sosial, tetapi juga berani turun langsung mengawal isu, memperjuangkan aspirasi, dan menciptakan program yang berdampak nyata bagi kampus. (Red)